Fenomena “pelakor” (perebut laki orang) kini bukan lagi sekadar isu privat, melainkan telah berubah menjadi komoditas publik yang dikonsumsi massal. Kasus perselingkuhan tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga diperdebatkan secara brutal di ruang gosip digital, bahkan kerap berujung konflik terbuka, persekusi, hingga kekerasan sosial. Di tengah gelombang amarah kolektif, publik seolah lebih sibuk menghakimi individu ketimbang membedah akar persoalan. Pertanyaan yang se