Istilah pelakor atau perebut laki orang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi kosa kata populer yang sarat emosi, stigma, dan kemarahan publik. Ia tidak lagi sekadar label, melainkan simbol dari kegelisahan sosial yang lebih dalam. Fenomena ini sering disederhanakan sebagai persoalan moral individu, khususnya perempuan, padahal jika ditelusuri lebih jauh, ia adalah cermin retak dari perubahan nilai, relasi kuasa, dan dinamika sosial masyarakat kekinian. Pertanyaan p