Di tengah gencarnya narasi “bonus demografi” dan visi Indonesia Emas 2045, realitas di lapangan justru menunjukkan ironi: sektor pendidikan masih kerap berada di pinggir prioritas kebijakan. Lebih memprihatinkan lagi, profesi guru yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan sumber daya manusia sering kali diposisikan sebagai pekerjaan dengan beban tinggi, namun penghargaan rendah, baik secara ekonomi, sosial, maupun struktural. Pendidikan dan Profesi Guru Dianaktirika