10 Strategi Literature Review Dipakai Mahasiswa S3

Di banyak universitas top dunia, literature review bukan sekadar bagian awal dari skripsi, tesis, atau disertasi. Ia adalah fondasi intelektual dari sebuah penelitian. Mahasiswa doktoral dilatih untuk tidak hanya mengumpulkan puluhan atau ratusan artikel ilmiah, tetapi juga membaca, memetakan, dan memahami bagaimana sebuah bidang ilmu berkembang dari waktu ke waktu.
Karena itu, mahasiswa S3 di luar negeri biasanya memiliki strategi khusus dalam melakukan literature review. Mereka tidak mencari referensi secara acak, tetapi menggunakan metode yang sistematis mulai dari menelusuri paper kunci melalui Google Scholar, memanfaatkan database penelitian seperti Semantic Scholar, hingga melacak jaringan sitasi untuk menemukan penelitian yang paling berpengaruh dalam suatu bidang.
Pendekatan ini membuat proses membaca literatur menjadi jauh lebih efisien. Dalam waktu relatif singkat, seorang peneliti bisa memahami lanskap penelitian, menemukan celah riset (research gap), dan merumuskan pertanyaan penelitian yang benar-benar baru.
Berikut beberapa strategi literature review yang sering digunakan mahasiswa S3 di universitas luar negeri untuk memahami suatu bidang penelitian secara cepat dan mendalam.
1. Mulai dari “paper klasik”
Peneliti biasanya mencari paper yang paling sering disitasi.
Cara cepat:
cari topik di Google Scholar
urutkan berdasarkan jumlah sitasi (Cited by)
Paper dengan sitasi tinggi sering menjadi fondasi teori dalam bidang tersebut.
2. Gunakan teknik “citation chasing”
Teknik ini sangat populer dalam riset doktoral.
Dua cara:
Backward search → lihat daftar referensi paper
Forward search → klik “Cited by” untuk melihat penelitian lanjutan
Dengan cara ini, peneliti bisa melacak evolusi ide ilmiah.
3. Buat peta penelitian
Mahasiswa S3 sering memetakan hubungan antar penelitian menggunakan tools seperti Connected Papers.
Fungsi:
melihat hubungan antar paper
menemukan penelitian yang sangat relevan.
4. Gunakan database lebih dari satu
Peneliti jarang mengandalkan satu sumber saja.
Contoh:
Google Scholar
Semantic Scholar
CORE
Tujuannya agar tidak melewatkan penelitian penting.
5. Gunakan reference manager
Mahasiswa doktoral hampir selalu memakai software pengelola referensi seperti Zotero atau Mendeley.
Manfaat:
menyimpan ratusan paper
membuat kutipan otomatis
mengorganisasi literatur.
6. Fokus pada review paper
Salah satu trik paling efektif adalah membaca review article terlebih dahulu.
Review paper biasanya:
merangkum puluhan hingga ratusan penelitian
menjelaskan perkembangan bidang tersebut.
7. Buat matriks literatur
Mahasiswa S3 sering membuat literature matrix.
Contoh kolom:
penulis
metode penelitian
data yang digunakan
temuan utama
kelemahan penelitian
Ini membantu melihat pola penelitian secara sistematis.
8. Identifikasi research gap
Tujuan utama literature review sebenarnya adalah menemukan:
pertanyaan yang belum terjawab dalam penelitian sebelumnya.
Di sinilah biasanya topik disertasi lahir.
9. Gunakan alert penelitian
Peneliti sering mengaktifkan alert di Google Scholar.
Fungsi:
mendapatkan email saat ada paper baru
tetap mengikuti perkembangan bidang riset.
10. Baca secara strategis, bukan semuanya
Mahasiswa S3 tidak membaca semua paper dari awal sampai akhir.
Biasanya mereka membaca:
abstract
introduction
conclusion
Jika relevan, baru membaca seluruh artikel.
💡 Fakta menarik
Penelitian menunjukkan seorang mahasiswa doktoral sering membaca 200–500 paper ilmiah selama proses disertasi. Namun yang benar-benar dikutip biasanya sekitar 50–150 paper paling relevan.



Comments