top of page
Search

BISNIS BESAR DI BALIK JURNAL AKADEMIS ELSEVIER

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Mar 12
2 min read


Di dunia akademis global, ada satu nama yang sering disebut dengan nada sinis oleh para peneliti: Elsevier. Elsevier adalah penerbit jurnal ilmiah terkemuka dunia (berusia >140 tahun) yang menyediakan ribuan jurnal berkualitas tinggi, terindeks Scopus (Q1-Q4), dan ScienceDirect, mencakup bidang sains, teknik, kesehatan, dan sosial. Publikasi di sini menawarkan reputasi global, peer review ketat, serta visibilitas tinggi untuk kenaikan jabatan akademik


Perusahaan penerbit jurnal raksasa ini telah lama menjadi simbol dari paradoks besar dalam dunia ilmu pengetahuan: ilmu yang seharusnya terbuka untuk kemajuan umat manusia justru dipagari oleh tembok bisnis yang sangat mahal.


Setiap tahun, perusahaan ini menghasilkan miliaran pound sterling dari bisnis penerbitan jurnal ilmiah. Banyak kritik menyebut model bisnisnya sebagai bentuk “ekstraksi nilai” dari kerja akademisi  bukan dari kontribusi nyata terhadap riset itu sendiri. Ironinya, peneliti lah yang melakukan hampir seluruh pekerjaan ilmiah.

Para dosen dan ilmuwan:

  • melakukan riset bertahun-tahun,

  • menulis paper ilmiah,

  • memeriksa kualitas paper melalui proses peer-review,

  • memastikan keabsahan metodologi dan data.


Namun pekerjaan intelektual itu tidak dibayar oleh penerbit jurnal. Sebaliknya, peneliti justru sering harus membayar untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal milik penerbit tersebut melalui biaya yang dikenal sebagai article processing charge.

Belum selesai di situ.


Ketika paper tersebut sudah diterbitkan, akses terhadapnya kembali dipagari oleh paywall.Mahasiswa, peneliti, atau masyarakat yang ingin membaca hasil penelitian tersebut sering harus membayar puluhan hingga ratusan dolar hanya untuk satu artikel.

Dengan kata lain, sistem ini bekerja seperti lingkaran tertutup:

  • Peneliti membuat ilmu pengetahuan.

  • Akademisi lain memverifikasi kualitasnya secara gratis.

  • Penerbit mengunci aksesnya.

  • Universitas kemudian dipaksa membayar mahal untuk membaca hasil riset mereka sendiri.


Model bisnis seperti ini menuai kritik keras dari banyak kalangan akademik. Banyak yang menilai industri jurnal ilmiah global telah berubah menjadi oligopoli pengetahuan, di mana beberapa penerbit besar menguasai distribusi literatur akademik dunia.


Dampaknya paling terasa di negara berkembang. Universitas di negara-negara miskin sering tidak mampu membayar langganan database jurnal yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per tahun. Akibatnya, para peneliti di negara tersebut terhambat mengakses perkembangan ilmu terbaru, sementara riset global terus bergerak maju.


Ironisnya, bahkan universitas di negara maju pun mulai memberontak.Beberapa institusi akademik di Eropa dan Amerika pernah melakukan boikot terhadap kontrak jurnal mahal yang ditawarkan penerbit besar.


Dari ketidakpuasan inilah lahir berbagai gerakan alternatif dalam dunia akademik. Salah satunya adalah budaya preprint yang dipopulerkan melalui platform seperti arXiv.Di sini para peneliti bisa mengunggah versi awal paper mereka secara gratis sehingga siapa pun dapat mengaksesnya tanpa paywall.


Namun bentuk perlawanan yang paling kontroversial muncul dari seorang peneliti asal Kazakhstan, Alexandra Elbakyan. Ia menciptakan situs bernama Sci-Hub, sebuah perpustakaan digital yang secara sistematis membuka akses gratis ke jutaan paper akademik yang sebelumnya terkunci di balik paywall penerbit besar.


Bagi banyak peneliti di negara berkembang, Sci-Hub dianggap sebagai penyelamat ilmu pengetahuan. Namun bagi penerbit jurnal raksasa, platform tersebut dianggap sebagai pembajakan besar-besaran terhadap hak cipta.


Kontroversi ini pada akhirnya membuka perdebatan mendasar: Apakah pengetahuan ilmiah seharusnya menjadi komoditas bisnis yang mahal, ataukah ia adalah warisan intelektual umat manusia yang harus bisa diakses oleh siapa saja? Pertanyaan itu hingga hari ini masih belum selesai dijawab oleh dunia akademik global.


 
 
 

Comments


bottom of page