top of page
Search

Gelar Sarjana Tak Menjamin Hidup Layak: Kisah Maha Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Jadi ART di Taiwan untuk Melunasi Utang Keluarga

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Oct 30
4 min read

RUBRIK: EKONOMI DAN KETENAGAKERJAAN



KAVITA MEDIA NET, Jakarta — Gelar sarjana dan pengalaman bekerja di lingkungan profesional ternyata tidak selalu menjamin seseorang memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidup layak. Pengalaman Maha, 31 tahun, memperlihatkan bagaimana tekanan biaya hidup dan tanggungan keluarga dapat mendorong seseorang meninggalkan pekerjaan kantoran di Indonesia demi mencari penghasilan yang lebih memadai di luar negeri.


Maha merupakan lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 2018. Sebelum bekerja di Taiwan, ia pernah bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember, pada bagian sumber daya manusia dan keuangan. Namun, penghasilan setara upah minimum yang diterimanya saat itu sebagian besar habis untuk membayar tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia juga harus membantu melunasi utang orang tuanya.


Kondisi tersebut membuatnya sulit menabung. Setelah mempertimbangkan pilihan yang tersedia, Maha memutuskan meninggalkan pekerjaan di Indonesia dan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Taiwan.


Keputusannya bukan semata-mata soal berpindah profesi. Bagi Maha, persoalan utamanya adalah bagaimana memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyelesaikan tanggungan keluarga.


Penghasilan Lebih Besar, Tanggung Jawab Pekerjaan Juga Berat


Selama bekerja di Taiwan, Maha mengerjakan berbagai tugas rumah tangga. Ia memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai, mencuci pakaian menggunakan mesin maupun secara manual, serta berbelanja ke pasar. Sesekali, ia juga membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya datang berkunjung.


Dari pekerjaan tersebut, Maha mengaku memperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan. Ia juga menceritakan bahwa pekerjaannya cukup melelahkan, bahkan pernah membuatnya tertidur di kamar mandi.


Meski demikian, keputusan tersebut memberikan hasil yang berarti bagi kondisi keuangan keluarganya. Menurut pengakuannya kepada CNBC Indonesia, utang yang menjadi tanggungannya berhasil dilunasi pada tahun pertama bekerja di Taiwan.


Pengalaman itu menunjukkan bahwa pilihan bekerja di luar negeri dapat membuka peluang ekonomi bagi sebagian orang. Namun, kisah Maha tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua pekerjaan ART di luar negeri memberikan penghasilan serupa atau menjamin kondisi kerja yang lebih baik.


Penghasilan, biaya penempatan, pengeluaran pribadi, perlindungan hukum, kondisi kerja, dan hak pekerja merupakan faktor yang perlu diperhitungkan ketika seseorang mempertimbangkan migrasi untuk bekerja.


Ketika Pendidikan Tinggi Tidak Otomatis Menghasilkan Kesejahteraan


Kisah Maha mengangkat pertanyaan penting tentang hubungan antara pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan ekonomi. Pendidikan tinggi dapat membekali seseorang dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir. Namun, ijazah tidak otomatis menjamin pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hasil yang diperoleh seseorang juga dipengaruhi oleh kesempatan kerja, tingkat upah, lokasi pekerjaan, biaya hidup, tanggungan keluarga, dan kondisi pasar tenaga kerja.


Dalam kasus Maha, persoalannya bukan sekadar ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan. Ia memiliki pengalaman kerja di bidang SDM dan keuangan, tetapi penghasilannya saat itu dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membantu menyelesaikan utang keluarga.


Keputusan menjadi ART di Taiwan karena itu tidak tepat dibaca sebagai kegagalan pendidikan atau kemunduran status sosial. Pilihan tersebut merupakan keputusan ekonomi yang diambil berdasarkan situasi dan kebutuhan yang dihadapinya.


Namun, pengalaman individual ini juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia secara umum gagal menghasilkan kesejahteraan. Kesimpulan semacam itu membutuhkan data yang lebih luas, seperti tingkat penyerapan lulusan perguruan tinggi, upah berdasarkan jenjang pendidikan, kualitas pekerjaan, pengangguran terdidik, dan kemampuan penghasilan memenuhi biaya hidup. Di sinilah persoalan kebijakan ketenagakerjaan perlu diuji melalui data, bukan sekadar kesan atau cerita yang viral di media sosial.


Pekerjaan ART Bukan Ukuran Rendahnya Pendidikan


Maha mengaku tidak menyesali keputusannya meninggalkan pekerjaan kantoran. Ia juga tidak menganggap pendidikan yang ditempuhnya menjadi sia-sia hanya karena kini bekerja di bidang berbeda.


Menurutnya, pendidikan tetap memberikan manfaat dalam membentuk pola pikir, mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman bekerja di lingkungan dan budaya yang berbeda juga menjadi bagian dari proses pembelajaran pribadinya.


Pandangan tersebut mengingatkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh jabatan, gelar akademik, atau jenis pekerjaan. Pekerjaan domestik tetap merupakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga, keterampilan, ketelitian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap hak pekerja.


Karena itu, perdebatan mengenai sarjana yang bekerja sebagai ART seharusnya tidak berangkat dari anggapan bahwa pekerjaan tersebut lebih rendah. Pertanyaan yang lebih relevan ialah apakah seseorang memperoleh upah yang layak, bekerja dalam kondisi aman, mendapatkan perlindungan, dan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya.


Yang Perlu Dievaluasi Bukan Pilihan Pekerjanya, Melainkan Peluangnya


Pengalaman Maha menunjukkan bahwa keputusan bekerja di luar negeri dapat menjadi jalan keluar finansial bagi seseorang yang menghadapi tekanan ekonomi. Pada saat yang sama, kisah tersebut mengingatkan bahwa pendidikan tinggi dan pengalaman profesional tidak selalu berujung pada kemampuan memenuhi seluruh kebutuhan hidup.


Pemerintah, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan ketenagakerjaan perlu melihat persoalan ini melalui indikator yang terukur: ketersediaan pekerjaan, kecukupan upah, biaya hidup, kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar, dan perlindungan pekerja migran.


Evaluasi semacam itu bukan berarti setiap lulusan harus bekerja sesuai jurusan atau bahwa pekerjaan di luar negeri selalu lebih baik. Intinya adalah memastikan masyarakat memiliki pilihan kerja yang layak, informasi yang memadai, dan perlindungan yang diperlukan ketika memilih bekerja di dalam maupun di luar negeri.


Pada akhirnya, gelar sarjana tidak seharusnya menjadi ukuran tunggal keberhasilan seseorang. Namun, ketika seseorang harus meninggalkan pekerjaan profesional karena penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan dasar dan tanggungan keluarga, persoalan upah, biaya hidup, dan kesempatan kerja patut mendapat perhatian serius.


Kisah Maha bukan bukti bahwa semua sarjana mengalami nasib serupa. Akan tetapi, kisah ini cukup menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pendidikan dan pembangunan ekonomi tidak semestinya berhenti pada jumlah lulusan atau ketersediaan pekerjaan. Ukuran yang lebih mendasar ialah apakah masyarakat memiliki kesempatan untuk bekerja secara bermartabat dan memperoleh penghidupan yang layak.


 
 
 

Comments


bottom of page