top of page
Search

JEJAK SANG JENDERAL: JUSUF MANGGABARANI, PUTRA SULAWESI SELATAN YANG MENEMBUS PUNCAK KEPOLISIAN, DARI BRIMOB HINGGA WAKAPOLRI

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
18 hours ago
9 min read

KAVITA Media Net, Makassar — Tidak semua perjalanan panjang seorang perwira berakhir dengan meninggalkan jejak yang terus dibicarakan setelah ia meninggalkan institusi. Ada yang dikenang karena pangkatnya, ada yang diingat karena keberaniannya, dan ada pula yang namanya melekat dalam sejarah perjalanan sebuah institusi.

Komjen Pol. (Purn.) Drs. H. Jusuf Manggabarani termasuk salah satu figur yang perjalanan pengabdiannya layak dikenang.


Putra daerah Sulawesi Barat yang berasal dari Polewali Mandar kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, 11 Februari 1953 ini pernah mencapai pangkat Komisaris Jenderal Polisi atau jenderal bintang tiga dan dipercaya menduduki jabatan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) periode 2010–2011.


Perjalanan kariernya bukanlah perjalanan singkat menuju jabatan tinggi. Ia melewati berbagai penugasan operasional, pembinaan pasukan, kepemimpinan kewilayahan, pengawasan internal, hingga akhirnya berada di jajaran pimpinan tertinggi Polri.

Di balik seragam dan pangkat yang disandangnya, terdapat kisah panjang tentang disiplin, keberanian, mobilitas penugasan, serta pengalaman menghadapi berbagai tantangan keamanan di sejumlah wilayah Indonesia.


Dari Gowa Menapaki Jalan Pengabdian


Jusuf Manggabarani merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) tahun 1975. Ia juga menempuh pendidikan pengembangan profesi kepolisian, antara lain pendidikan Brimob, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sespim, dan Sespati.


Sejak awal pengabdiannya, ia banyak bersentuhan dengan satuan operasional, khususnya Brigade Mobil (Brimob). Karier awalnya dimulai sebagai Perwira Pertama di Komdak XV/Bali pada 1975. Setelah itu, ia menjalani sejumlah penugasan sebagai komandan peleton, komandan kompi, hingga pejabat operasional di lingkungan Satbrimob.


Pengalaman tersebut membentuk lintasan karier yang tidak hanya berorientasi pada jabatan struktural, tetapi juga bersentuhan langsung dengan tugas lapangan.

Perjalanan ini penting untuk memahami karakter profesional Jusuf Manggabarani. Sebelum memasuki jajaran pimpinan pusat, ia terlebih dahulu melewati pengalaman panjang dalam pengendalian pasukan, operasi kepolisian, dan penanganan keamanan.


Brimob: Tempat Karakter Kepemimpinannya Ditempa



Salah satu bagian paling menonjol dari perjalanan karier Jusuf Manggabarani adalah kedekatannya dengan Korps Brimob. Ia pernah menduduki berbagai posisi penting di lingkungan satuan tersebut, antara lain Komandan Detasemen Gegana, Komandan Satuan Brimob di sejumlah wilayah, hingga Kepala Korps Brimob Polri pada 2001.


Penugasan di Brimob bukan pekerjaan yang sederhana. Satuan ini memiliki tanggung jawab menghadapi situasi keamanan berisiko tinggi, termasuk gangguan keamanan bersenjata, ancaman teror, dan berbagai kondisi yang membutuhkan kesiapsiagaan khusus.


Pengalaman panjang di lingkungan Brimob memberikan landasan bagi pemahaman terhadap kepemimpinan operasional: disiplin, kecepatan mengambil keputusan, pengendalian personel, serta tanggung jawab terhadap keselamatan anggota.


Jusuf kemudian dipercaya memimpin Korps Brimob Polri. Jabatan tersebut menjadi salah satu tonggak penting sebelum dirinya memasuki jajaran pimpinan kewilayahan dan Mabes Polri. Di sinilah salah satu identitas profesionalnya terbentuk: seorang perwira yang memiliki akar pengalaman kuat dalam satuan operasional.


Aceh dan Sulawesi Selatan: Dua Wilayah, Dua Pengalaman Kepemimpinan


Pada 2002, Jusuf Manggabarani dipercaya menjadi Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam. Setahun kemudian, pada 2003, ia mendapat penugasan sebagai Kapolda Sulawesi Selatan. Dua penugasan tersebut memiliki konteks keamanan dan sosial yang berbeda. Aceh ketika itu masih berada dalam situasi konflik bersenjata berkepanjangan. Persoalan keamanan tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik, ketegangan sosial, dan hubungan antara aparat negara dengan masyarakat.


Sementara itu, Sulawesi Selatan memiliki karakter persoalan keamanan kewilayahan yang berbeda, termasuk penanganan kriminalitas, konflik sosial, dan ketertiban masyarakat. Pengalaman memimpin kepolisian di dua wilayah tersebut memperlihatkan keluasan penugasan yang pernah dipercayakan kepadanya.


Bagi seorang Kapolda, tantangan kepemimpinan bukan hanya memastikan operasi keamanan berjalan, tetapi juga menjaga hubungan kelembagaan, mengendalikan organisasi, serta membangun kepercayaan masyarakat.


Jabatan Kapolda Sulawesi Selatan juga mempunyai dimensi tersendiri bagi Jusuf. Ia kembali memimpin institusi kepolisian di wilayah yang menjadi tanah kelahirannya.

Kendati demikian, kedekatan asal daerah dan jabatan publik harus tetap dibedakan. Tanggung jawab Kapolda adalah menjalankan tugas institusi dan hukum bagi seluruh masyarakat, bukan semata-mata membawa kebanggaan daerah.


Kisah Palopo dan Julukan Perwira Kebal Senjata


Salah satu kisah yang paling melekat dalam ingatan publik tentang Jusuf Manggabarani adalah peristiwa penanganan gangguan keamanan di Palopo, Sulawesi Selatan.

Namanya kemudian dikenal melalui julukan perwira kebal senjata.


Menurut penuturan yang dimuat Tirto, ketika menghadapi seorang tokoh lokal bernama Sukri yang disebut telah lama menguasai wilayahnya, Jusuf memilih menghadapi situasi tersebut secara langsung.


Dalam kisah itu, terjadi tantangan baku tembak menggunakan senjata rakitan jenis pa'poro. Jusuf dikisahkan berhasil menghadapi situasi tersebut dan melumpuhkan lawannya dengan tembakan ke bagian tangan. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi cerita keberanian yang melekat pada sosoknya.

Namun, ada satu hal menarik dari kisah tersebut.


Jusuf disebut tidak mengaitkan keselamatannya dengan kemampuan supranatural sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Ia justru menjelaskan bahwa tindakannya didasarkan pada perhitungan.


Kisah ini memperlihatkan bagaimana keberanian seorang aparat dapat menjadi bagian dari ingatan masyarakat. Akan tetapi, keberanian dalam penegakan hukum tetap harus ditempatkan dalam kerangka prosedur, proporsionalitas penggunaan kekuatan, dan perlindungan keselamatan.


Julukan kebal senjata boleh menjadi bagian dari cerita populer, tetapi bukan ukuran tunggal untuk menilai kualitas seorang pemimpin kepolisian.


Dari Propam hingga Irwasum: Memasuki Wilayah Pengawasan Internal Polri


Setelah menjalani berbagai penugasan operasional dan kewilayahan, perjalanan karier Jusuf memasuki bidang pengawasan dan penegakan disiplin internal. Pada 2005, ia dipercaya menjadi Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri.


Jabatan ini memiliki arti penting dalam struktur kepolisian. Propam berkaitan dengan pembinaan profesi, pengawasan perilaku anggota, penegakan disiplin, serta penanganan dugaan pelanggaran kode etik.


Dua tahun kemudian, pada 2007, ia diangkat menjadi Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri. Perpindahan dari jabatan operasional ke bidang pengawasan memperlihatkan spektrum pengalaman yang semakin luas.


Jika di lingkungan Brimob seorang komandan dituntut mengendalikan kekuatan operasional, maka dalam Propam dan Irwasum seorang pejabat dituntut memahami tata kelola organisasi, kepatuhan, pengawasan, dan pertanggungjawaban institusi.


Dua jabatan tersebut juga membawa tanggung jawab besar karena kualitas organisasi kepolisian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga oleh kemampuannya mengawasi dan memperbaiki perilaku internal.

Dalam konteks kelembagaan, inilah salah satu bagian penting dari perjalanan Jusuf Manggabarani yang patut diperhatikan.


Puncak Karier: Wakapolri Periode 2010–2011



Puncak perjalanan karier Jusuf Manggabarani terjadi pada 6 Januari 2010 ketika ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Ia mendampingi Jenderal Polisi Timur Pradopo yang saat itu menjabat sebagai Kapolri.


Posisi Wakapolri merupakan jabatan strategis dalam struktur organisasi Polri. Wakapolri membantu Kapolri dalam pelaksanaan tugas kepemimpinan, koordinasi, pengendalian, serta penyelenggaraan organisasi kepolisian. Bagi seorang putra daerah Sulawesi Selatan, pencapaian tersebut menjadi catatan tersendiri.


Dari seorang perwira muda yang mengawali pengabdian di satuan Brimob, Jusuf akhirnya mencapai salah satu posisi tertinggi dalam institusi kepolisian nasional.

Ia menjabat hingga 1 Maret 2011 sebelum mengakhiri masa dinasnya.


Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kariernya tidak dibangun melalui satu jalur penugasan saja. Ia melewati pengalaman operasional, kepemimpinan kewilayahan, pengawasan internal, hingga manajemen organisasi tingkat pusat.


Membaca Gaya Kepemimpinan: Tegas, Berani, dan Berorientasi Operasional


Membicarakan Jusuf Manggabarani tidak dapat dilepaskan dari citra ketegasan dan keberaniannya. Sejumlah kesaksian dan tulisan mengenang dirinya sebagai perwira yang tegas, berwibawa, tetapi juga bersahaja.


Dalam sebuah tulisan kenangan yang diterbitkan Pojok Satu, jurnalis Hazairin Sitepu menceritakan pengalamannya mengenal Jusuf sejak 1982 ketika masih bertugas sebagai Kasat Sabhara Poltabes Ujung Pandang. Ia menggambarkan Jusuf sebagai perwira yang tegas.


Dalam kenangan lainnya, ia juga menceritakan sisi personal Jusuf yang sederhana ketika melakukan perjalanan menggunakan pesawat kelas ekonomi. Sementara itu, pemberitaan iNews dan Tirto turut mengangkat citra keberanian Jusuf melalui kisah penanganan gangguan keamanan di Palopo.


Dari berbagai kesaksian tersebut, setidaknya ada tiga dimensi kepemimpinan yang dapat dibaca:


Pertama, ketegasan dalam menghadapi persoalan keamanan.

Pengalaman panjang di Brimob dan penugasan kewilayahan membentuk citra seorang pemimpin yang terbiasa menghadapi situasi operasional dengan risiko tinggi.


Kedua, keberanian mengambil tanggung jawab.

Kisah Palopo menjadi bagian dari narasi publik mengenai keberaniannya menghadapi situasi yang berisiko. Namun, kisah tersebut lebih tepat dibaca sebagai kesaksian dan cerita sejarah, bukan sebagai bukti tunggal keseluruhan kualitas kepemimpinannya.


Ketiga, kesederhanaan dalam kehidupan personal.

Kesaksian jurnalis yang pernah berinteraksi dengannya memberikan gambaran bahwa jabatan tinggi tidak selalu identik dengan gaya hidup yang berlebihan.


Tentu saja, penilaian menyeluruh terhadap gaya kepemimpinannya memerlukan dokumentasi lebih luas, termasuk kebijakan, capaian organisasi, dan evaluasi selama masa jabatannya.


Riwayat jabatan dan tanda kehormatan


1. Rekam jejak karier: 36 tahun perjalanan pengabdian


Jika ditelusuri dari riwayat jabatan yang Anda sampaikan, perjalanan Jusuf Manggabarani memperlihatkan proses panjang dari perwira pertama hingga Wakapolri.

Ia mengawali pengabdian pada 1975 sebagai Pama Komdak XV/Bali. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Danton 3 Kompi 5142 Satbrimobda Komdak XV/Bali. Pada 1977 dan 1978, ia mendapat kepercayaan sebagai Danki di lingkungan satuan Brimob.

Pengalaman operasional tersebut menjadi fondasi perjalanan kariernya.


1975–1984: Pembentukan karakter operasional


Pada periode ini, ia menjalani berbagai penugasan di Bali, Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. Beberapa jabatan pentingnya meliputi:


  • Pama Komdak XV/Bali (1975).

  • Danton Satbrimobda Komdak XV/Bali (1976).

  • Danki Satbrimobda Komdak XV/Bali (1977–1978).

  • Paur Ops Satbrimobda Komdak XV/Bali (1979).

  • Kasat Sabhara Poltabes Ujung Pandang (1981).

  • Kabag Ops Poltabes Ujung Pandang (1982).

  • Wadansat Brimob Komdak XVIII/Sulselra (1983).

  • Wadansat Brimob Polda Nusra (1984).


1988–1997: Penguatan kepemimpinan di lingkungan Brimob


Kariernya kemudian semakin berkembang di lingkungan Korps Brimob Polri.

Ia pernah menduduki jabatan Danden Gegana Pusbrimob Polri (1988), Kasat Brimob Polda Sulselra (1990), Kasat Brimob Polda Nusra (1992), Kasat Gegana Pusbrimob Polri (1993), Ses Pusdik Pusbrimob Polri (1994), Wakapusdik Pusdik Brimob Polri (1995), hingga Danmen I Pusbrimob Polri (1997).


Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya menjadi Kapolwiltabes Ujung Pandang, kemudian Kapolwiltabes Bandung pada 1998.


Rangkaian jabatan ini menunjukkan bahwa pengalaman profesionalnya tidak terbatas pada operasi lapangan, tetapi juga mencakup pendidikan, pembinaan, pengembangan personel, dan kepemimpinan satuan.


1999–2003: Memasuki jajaran pimpinan kepolisian daerah dan pusat


Tahun 1999, ia dipercaya sebagai Wakapolda Sulawesi Selatan. Dua tahun kemudian, tepatnya 2001, ia diangkat menjadi Kepala Korps Brimob Polri. Selanjutnya, ia dipercaya memimpin Polda Aceh pada 2002 dan Polda Sulawesi Selatan pada 2003.


Periode ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya karena ia telah memasuki jajaran pimpinan strategis kepolisian nasional dan kewilayahan.


2005–2011: Pengawasan internal hingga Wakapolri


Puncak perjalanan kariernya semakin dekat ketika ia dipercaya menjadi:

  • Kadiv Propam Polri (2005).

  • Irwasum Polri (2007).

  • Wakapolri (2010–2011).


Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan lintasan karier yang mencakup operasi, pendidikan, pembinaan personel, kepemimpinan wilayah, pengawasan internal, hingga manajemen kepolisian tingkat nasional.


2. Tanda kehormatan: Pengakuan atas perjalanan pengabdian


Selain perjalanan jabatan, Jusuf Manggabarani juga tercatat menerima sejumlah tanda kehormatan dan satyalancana.  Tanda kehormatan tersebut meliputi:


Tanda kehormatan

Keterangan

Bintang Bhayangkara Pratama

Tanda kehormatan kepolisian

Bintang Bhayangkara Nararya

Tanda kehormatan kepolisian

Satyalancana Pengabdian

24 tahun

Satyalancana Pengabdian

16 tahun

Satyalancana Pengabdian

8 tahun

Satyalancana Jana Utama

Ulangan pertama

Satyalancana Ksatria Bhayangkara

Penghargaan kepolisian

Satyalancana Karya Bhakti

Ulangan pertama

Satyalancana Bhakti Pendidikan

Penghargaan bidang pendidikan

Satyalancana Dharma Nusa

Tanda kehormatan pengabdian


3. Analisis redaksi: Bukan sekadar perjalanan menuju pangkat jenderal


Ada satu hal yang menarik dari rekam jejak Jusuf Manggabarani. Ia tidak langsung menempuh jalur karier administratif menuju jabatan tinggi. Sebagian besar perjalanan awalnya berlangsung di satuan operasional, khususnya Brimob.


Setelah itu, ia memasuki wilayah pendidikan dan pembinaan personel, memimpin kepolisian kewilayahan, kemudian mengemban tugas pengawasan internal.


Pola perjalanan tersebut memperlihatkan tiga dimensi pengalaman:

  1. Pengalaman operasional: memahami tugas lapangan dan pengendalian pasukan.

  2. Pengalaman manajerial: mengelola satuan, pendidikan, dan organisasi kepolisian.

  3. Pengalaman kelembagaan: menjalankan pengawasan serta membantu kepemimpinan Polri di tingkat nasional.


Inilah bagian yang membuat profilnya menarik untuk ditelusuri lebih jauh.


Bagi Sulawesi Selatan, perjalanan seorang putra Mandar Kelahiran Gowa hingga mencapai posisi Wakapolri merupakan bagian penting dari sejarah kontribusi sumber daya manusia daerah dalam institusi nasional.


Warisan Pengabdian: Apa yang Dapat Dipetik Polri dan Generasi Muda Sulawesi Selatan?


Warisan seorang jenderal tidak semestinya hanya diukur melalui jabatan terakhir atau panjangnya daftar penghargaan. Dalam konteks Jusuf Manggabarani, ada sejumlah pelajaran kelembagaan yang dapat dipetik dari perjalanan kariernya.


1. Pengalaman lapangan merupakan fondasi kepemimpinan.

Jusuf meniti karier melalui penugasan operasional sebelum menduduki jabatan strategis di tingkat nasional. Ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan organisasi membutuhkan pemahaman terhadap realitas pekerjaan di lapangan.


2. Ketegasan harus berjalan bersama akuntabilitas.

Ketegasan aparat tidak boleh dilepaskan dari hukum, prosedur, dan penghormatan terhadap hak masyarakat. Keberanian yang sesungguhnya dalam institusi penegak hukum harus menghasilkan perlindungan, bukan ketakutan.


3. Pengawasan internal merupakan bagian dari kehormatan institusi.

Pengalaman Jusuf sebagai Kadiv Propam dan Irwasum menunjukkan pentingnya fungsi pengawasan dalam menjaga disiplin, profesionalisme, dan integritas organisasi.


4. Putra daerah dapat berkontribusi pada tingkat nasional.

Perjalanan Jusuf menjadi Wakapolri memperlihatkan bahwa latar belakang daerah bukan penghalang untuk menempuh karier pengabdian di tingkat nasional.


Bagi generasi muda Sulawesi Selatan, kisah tersebut dapat menjadi inspirasi tentang pendidikan, disiplin, ketekunan, dan kesempatan untuk mengabdi kepada negara.

Namun, inspirasi itu tidak harus berhenti pada kebanggaan terhadap seorang tokoh. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai positif dari perjalanan hidupnya diterjemahkan menjadi kualitas kepemimpinan generasi berikutnya.


Kepergian Sang Jenderal dan Penghormatan Terakhir



Pada Selasa, 20 Mei 2025, Komjen Pol. (Purn.) Jusuf Manggabarani meninggal dunia di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Kepergiannya menjadi kabar duka bagi keluarga, masyarakat Sulawesi Selatan, dan keluarga besar Korps Bhayangkara.


Jenazahnya kemudian diberangkatkan ke Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Kehormatan Polri, Cikeas, Kabupaten Bogor, pada Rabu, 21 Mei 2025. Pemakaman di lingkungan kehormatan Polri menjadi bagian dari penghormatan institusi terhadap perjalanan pengabdiannya.


Kabar wafatnya juga mendapat perhatian dari jajaran kepolisian daerah. Polres Enrekang, misalnya, menggelar doa bersama dalam apel pagi untuk mengenang almarhum.


Penutup: Pangkat Boleh Berakhir, Pengabdian Menjadi Catatan Sejarah


Jusuf Manggabarani telah menyelesaikan perjalanan panjangnya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia. Ia pernah menjadi bagian dari pasukan operasional, memimpin Brimob, memimpin kepolisian daerah di Aceh dan Sulawesi Selatan, mengemban tugas pengawasan internal, hingga mencapai jabatan Wakapolri.


Tentu, sejarah seorang pejabat publik tidak seharusnya dibangun hanya melalui pujian. Setiap perjalanan kepemimpinan tetap terbuka untuk dipelajari, dievaluasi, dan ditempatkan dalam konteks zamannya. Namun, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah perjalanan panjang seorang putra Gowa yang berhasil mencapai pangkat jenderal bintang tiga dan jabatan Wakapolri.


Bagi Sulawesi Selatan, namanya menjadi bagian dari catatan sejarah putra daerah yang pernah mengemban tanggung jawab besar di tingkat nasional. Bagi Polri, perjalanan kariernya merupakan salah satu bagian dari sejarah regenerasi kepemimpinan institusi.

Dan bagi generasi muda, kisahnya menyimpan pesan bahwa pengabdian membutuhkan proses panjang, pendidikan, disiplin, keberanian, serta kesediaan memikul tanggung jawab.


Selamat jalan, Jenderal Jusuf Manggabarani. Pangkat dan jabatan telah menjadi bagian dari masa lalu. Namun, perjalanan pengabdian dan kenangan tentang sosoknya akan tetap menjadi bagian dari sejarah.


Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya.

Al-Fatihah.


 
 
 

Comments


bottom of page