top of page
Search

Kemiskinan sebagai “Zona Nyaman”: Ketika Mentalitas Bertahan Mengalahkan Keberanian Berubah

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Feb 18
3 min read

Dr. Ansari, M.Psi

Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, gelombang PHK, dan ketidakpastian ekonomi digital, kemiskinan bukan lagi sekadar soal dompet kosong. Sejumlah kajian psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa kemiskinan juga bisa menjadi jebakan mental sebuah zona nyaman dalam ketidaknyamanan yang tanpa sadar dipelihara dan diwariskan.


Di era ketika media sosial memamerkan gaya hidup mewah dan algoritma memperlihatkan jurang kesenjangan setiap hari, masyarakat kelas bawah menghadapi tekanan psikologis yang tidak ringan. Namun yang lebih mengkhawatirkan, sebagian orang justru beradaptasi terlalu dalam dengan kondisi sulit tersebut hingga kemiskinan menjadi identitas, bukan sekadar keadaan sementara.


Zona Nyaman dalam Ketidaknyamanan


Secara psikologis, manusia cenderung memilih yang familiar dibanding yang berisiko. Dalam konteks kemiskinan, kondisi serba terbatas bisa menjadi “aman” karena tidak menuntut perubahan drastis. Tidak ada risiko gagal dalam bisnis, tidak ada tekanan meniti karier baru, tidak ada ekspektasi besar yang harus dipenuhi.


Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai learned helplessness ketika seseorang terlalu lama berada dalam situasi sulit hingga akhirnya percaya bahwa usaha tidak akan mengubah apa pun. Dalam kondisi sosial-ekonomi kekinian upah stagnan, lapangan kerja formal menyusut, ekonomi gig yang tak menentu keyakinan itu semakin menguat.


Akibatnya, muncul narasi internal seperti:

  • “Hidup memang begini adanya.”

  • “Orang seperti saya memang tidak ditakdirkan kaya.”

  • “Yang penting cukup makan hari ini.”


Narasi itu bukan sekadar keluhan. Ia menjadi sistem keyakinan.


Secondary Gain: Keuntungan yang Tak Disadari


Dalam kajian psikologi klinis, ada istilah secondary gain keuntungan tidak langsung dari suatu kondisi negatif. Dalam konteks kemiskinan, bentuknya bisa berupa simpati sosial, toleransi atas kegagalan, atau pembenaran untuk tidak mencoba hal baru.


Status “orang susah” kadang menjadi tameng dari tuntutan sosial. Ketika gagal, lingkungan memaklumi. Ketika tidak berkembang, keadaan dijadikan alasan. Tanpa disadari, pola ini membentuk lingkaran yang sulit diputus.


Di masyarakat kekinian yang sarat konten viral dan empati digital, simpati bahkan bisa dikapitalisasi. Kisah kesulitan menjadi komoditas emosional. Di titik ini, kemiskinan bukan hanya realitas ekonomi, tetapi juga identitas sosial yang memiliki “nilai”.


Otak dan Comfort Zone Kemiskinan


Sejumlah riset neurosains menunjukkan bahwa otak manusia bekerja berdasarkan pola kebiasaan. Sistem reward di otak akan menguatkan perilaku yang menghasilkan respons emosional termasuk simpati dan validasi sosial.


Perubahan, meskipun menuju kondisi lebih baik, dianggap sebagai ancaman karena memerlukan energi, risiko, dan ketidakpastian. Otak lebih memilih penderitaan yang dikenal daripada peluang yang belum pasti.


Itulah sebabnya sebagian orang:

  • Menolak bantuan dengan alasan “tidak enak” atau “tidak percaya diri”.

  • Mengulang pola keluhan yang sama tanpa upaya nyata.

  • Merasa tidak layak sukses.

Ini bukan soal malas semata, tetapi soal pola mental yang terbentuk lama.


Waspadai Narasi yang Menyederhanakan


Meski demikian, menyebut kemiskinan sebagai “penyakit mental” tanpa konteks struktural adalah penyederhanaan berbahaya. Realitas di lapangan menunjukkan faktor sistemik: ketimpangan akses pendidikan, upah minimum yang tak sebanding inflasi, biaya kesehatan yang mahal, serta kebijakan publik yang kerap tidak berpihak pada pekerja informal. Mentalitas berperan, tetapi struktur menentukan ruang gerak.


Menyalahkan individu sepenuhnya justru berisiko mengaburkan tanggung jawab negara dan sistem ekonomi. Yang terjadi sering kali adalah kombinasi: tekanan struktural yang panjang membentuk mentalitas bertahan, bukan mentalitas bertumbuh.


Generasi yang Mewarisi Pola


Masalahnya menjadi serius ketika pola ini diwariskan. Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa kemiskinan adalah takdir, bukan fase. Ambisi dianggap mimpi kosong. Keberanian mencoba dianggap nekat.


Setiap hari tanpa perubahan berarti:

  • Potensi pribadi terbuang.

  • Keterampilan tidak berkembang.

  • Kesempatan terlewat.

  • Pola berpikir stagnan mengendap menjadi budaya keluarga.

Kemiskinan akhirnya bukan hanya angka statistik, tetapi ekosistem psikologis.


Memutus Siklus: Kesadaran dan Rekonstruksi Identitas


Langkah pertama bukan afirmasi instan atau solusi pseudo-sains, melainkan kesadaran kritis:

  • Mengakui pola self-sabotage.

  • Mengidentifikasi “keuntungan tersembunyi” dari status korban.

  • Memisahkan identitas diri dari kondisi ekonomi.


Perubahan mental memang penting, tetapi ia harus disertai akses nyata: literasi finansial, pelatihan keterampilan, dukungan komunitas, serta kebijakan yang membuka mobilitas sosial.

Tanpa itu, ajakan “ubah mindset” hanya akan menjadi slogan.


Mengapa Harus Berubah Sekarang?


Karena stagnasi adalah bentuk kemunduran paling sunyi. Di tengah ekonomi digital, otomatisasi, dan persaingan global, siapa yang bertahan dalam zona nyaman ketidaknyamanan akan semakin tertinggal. Dunia bergerak cepat; mentalitas yang statis akan dilindas perubahan.


Kemiskinan mungkin bermula dari kondisi eksternal. Tetapi jika dibiarkan, ia bisa bertransformasi menjadi konstruksi mental yang mengunci masa depan.


Pertanyaannya bukan lagi apakah kita miskin hari ini.Pertanyaannya: apakah kita menjadikan kemiskinan sebagai identitas permanen atau sebagai titik tolak untuk melawan?


 
 
 

Comments


bottom of page