Mengenal Lebih Dekat Mayjen TNI Bangun Nawoko: Perjalanan Karier, Pengalaman Operasi, hingga Pangdam XIV/Hasanuddin
KAVITA MEDIA | PROFIL TOKOH

Mayor Jenderal TNI Bangun Nawoko merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat dari kecabangan Infanteri yang meniti karier melalui berbagai penugasan komando, staf operasi, dan kepemimpinan satuan. Pengalamannya mencakup penugasan di wilayah Papua, kepemimpinan di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), hingga menduduki jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV/Hasanuddin.
Perjalanan kariernya menarik dicermati karena memperlihatkan tahapan pengembangan seorang perwira TNI, mulai dari pendidikan militer, kepemimpinan satuan di lapangan, penugasan teritorial, hingga tanggung jawab strategis pada tingkat komando daerah militer.
Bangun Nawoko mulai menjabat sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin pada 30 September 2025, menggantikan Mayjen TNI Windiyatno.
1. Profil pribadi dan pendidikan militer
Nama: Bangun Nawoko
Tempat, tanggal lahir: Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, 10 Februari 1969.
Pendidikan: Akademi Militer (Akmil), lulus 1992.
Kecabangan: Infanteri, dengan rekam karier yang berkaitan erat dengan Kostrad.
Pangkat: Mayor Jenderal TNI.
Sebagai lulusan Akmil 1992, Bangun Nawoko memasuki dunia kepemimpinan militer melalui pendidikan perwira dan penugasan bertahap. Pengalamannya tidak hanya berada pada satuan tempur, tetapi juga mencakup fungsi pembinaan latihan, perencanaan operasi, dan komando kewilayahan.
2. Perjalanan karier Bangun Nawoko
Berikut rangkaian jabatan militernya.
1992
Lulus Akademi Militer
Memulai karier sebagai perwira TNI AD dari kecabangan Infanteri. Pendidikan ini menjadi fondasi bagi penugasan berikutnya di satuan tempur dan komando.
2008–2012
Danyonif 631/Antang dan Dandim 1008/Tanjung
Pada 2008–2009, ia menjabat Komandan Batalyon Infanteri 631/Antang. Berikutnya, pada 2009–2012, ia menjadi Komandan Kodim 1008/Tanjung. Dua jabatan ini mencerminkan pengalaman memimpin satuan pada tingkat batalyon dan komando teritorial.
2012–2014
Memimpin dan membina satuan di lingkungan Kostrad
Ia menjabat Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula pada 2012–2013, kemudian Komandan Brigade Infanteri 13/Galuh pada 2013–2014. Pada 2014, ia melanjutkan penugasan sebagai Asisten Operasi Kasdivif 1/Kostrad.
2014–2017
Penugasan di Kodam XVII/Cenderawasih dan Mabesad
Ia bertugas sebagai Asisten Operasi Kasdam XVII/Cenderawasih pada 2014–2015, kemudian menjadi Perwira Menengah di Detasemen Markas Besar Angkatan Darat pada 2015–2017.
2017–2020
Danrem 083/Baladhika Jaya dan Paban II/Binlat Sopsad
Bangun Nawoko menjabat Komandan Korem 083/Baladhika Jaya pada 2017–2018. Setelah itu, ia menjalankan tugas sebagai Perwira Pembantu II Bidang Pembinaan Latihan di Staf Operasi Angkatan Darat pada 2018–2020.
2020–2022
Danrem 174/Anim Ti Waninggap, Merauke
Ia dipercaya memimpin Korem 174/Anim Ti Waninggap di Papua. Jabatan ini memperluas pengalaman kepemimpinannya dalam konteks kewilayahan di kawasan timur Indonesia.
2022–2024
Waasops Kasad Bidang Perencanaan Operasi
Sebagai Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat Bidang Perencanaan Operasi, ia bertugas di lingkungan staf pusat yang berkaitan dengan perencanaan operasi TNI AD.
2024–2025
Pangdivif 3/Kostrad
Pada 17 April 2024, ia menerima jabatan Panglima Divisi Infanteri 3/Kostrad, menggantikan Mayjen TNI Choirul Anam. Jabatan ini menempatkannya pada posisi komando strategis dalam satuan Kostrad.
2025–sekarang*
Pangdam XIV/Hasanuddin
Melalui keputusan mutasi Panglima TNI Nomor Kep/1334/IX/2025 tertanggal 30 September 2025, ia ditunjuk menggantikan Mayjen TNI Windiyatno sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin.
3. Pengalaman operasi militer
Selain jabatan struktural, Bangun Nawoko juga memiliki rekam penugasan operasi. SINDOnews melaporkan sejumlah operasi yang pernah diikutinya, antara lain:
Operasi Seroja di Timor-Timur (1994 dan 1996): penugasan dalam operasi militer di wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Indonesia.
Operasi pengamanan daerah rawan Aceh (1999): penugasan dalam situasi keamanan yang menantang.
Operasi Pemulihan Keamanan/Darurat Militer Aceh (2005): bagian dari pengalaman operasi di wilayah konflik.
Operasi Pengamanan Perbatasan RI–Malaysia (2010): penugasan pengamanan kawasan perbatasan negara.
Rangkaian penugasan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan kariernya tidak hanya dibentuk oleh pendidikan dan jabatan, tetapi juga pengalaman lapangan dalam konteks operasi yang berbeda. Namun, rincian peran individual dan tanggung jawab spesifiknya dalam setiap operasi tidak seluruhnya tersedia dalam sumber terbuka yang ditelusuri.
4. Brevet dan kualifikasi militer
Bangun Nawoko juga diberitakan memiliki sejumlah brevet militer yang diperoleh selama kariernya. Salah satu laporan khusus SINDOnews membahas koleksi brevetnya, termasuk brevet kualifikasi Para Raider.
Brevet militer merupakan tanda kualifikasi atau kompetensi tertentu yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, maupun persyaratan khusus. Dalam konteks karier perwira Infanteri, kualifikasi semacam ini berkaitan dengan pengembangan kemampuan profesional dan kesiapan menjalankan tugas.
Untuk menghindari kekeliruan, daftar lengkap brevet beserta tahun perolehannya sebaiknya merujuk pada dokumentasi resmi TNI AD atau daftar lengkap laporan tersebut, bukan sekadar mengandalkan foto seragam atau penyebutan tidak resmi.
5. Penghargaan: Bintang Yudha Dharma Pratama
Bintang Yudha Dharma Pratama
Pada 2 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma Pratama kepada Bangun Nawoko ketika ia masih menjabat Pangdivif 3/Kostrad. Penganugerahan berlangsung dalam kegiatan Presidential Inspection di atas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda penting dalam rekam pengabdiannya. Penganugerahan ini berlangsung sebelum penunjukannya sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin pada akhir September 2025 berdasarkan keputusan mutasi, dengan proses serah terima jabatan Pangdivif 3/Kostrad berlangsung pada Oktober 2025.
6. Tugas dan tantangan sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin
Sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin, Bangun Nawoko memimpin komando kewilayahan TNI AD yang berperan dalam pembinaan satuan, kesiapan pertahanan darat, pembinaan teritorial, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur keamanan terkait sesuai kewenangan masing-masing.
Wilayah tanggung jawab Kodam XIV/Hasanuddin mencakup Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta wilayah lain sesuai cakupan organisasi Kodam yang berlaku. Dalam menjalankan tugasnya, Pangdam menghadapi sejumlah tantangan strategis:
Menjaga stabilitas keamanan wilayah, dengan tetap menghormati hukum dan kewenangan lembaga sipil.
Memelihara profesionalisme prajurit, disiplin, kesiapan operasional, dan pembinaan personel.
Memperkuat koordinasi lintas sektor, terutama dalam penanganan keadaan darurat dan dukungan terhadap masyarakat sesuai ketentuan.
Membangun kepercayaan publik, melalui perilaku prajurit yang profesional, akuntabel, dan menghormati hak masyarakat.
Dalam jabatan ini, ukuran keberhasilan bukan semata-mata pangkat atau banyaknya penugasan, melainkan kemampuan menerjemahkan pengalaman militer menjadi kepemimpinan yang efektif, disiplin organisasi, kesiapsiagaan satuan, dan hubungan yang sehat dengan masyarakat.
7. Ringkasan rekam jejak
Aspek | Keterangan |
Latar belakang | Lulusan Akmil 1992, kecabangan Infanteri |
Pengalaman komando | Danyonif, Danbrigif, Danrem, Pangdivif |
Pengalaman staf | Asops Kasdivif, Asops Kasdam, Paban II/Binlat Sopsad, Waasops Kasad |
Pengalaman operasi | Timor-Timur, Aceh, dan perbatasan RI–Malaysia |
Penghargaan penting | Bintang Yudha Dharma Pratama, 2025 |
Jabatan terakhir | Pangdam XIV/Hasanuddin |
Kesimpulan
Perjalanan karier Mayjen TNI Bangun Nawoko memperlihatkan proses panjang dari perwira lulusan Akmil 1992 hingga pemimpin komando daerah militer. Pengalamannya mencakup kepemimpinan satuan tempur, penugasan teritorial di Papua dan Malang, fungsi pembinaan latihan, perencanaan operasi, serta komando Divisi Infanteri 3/Kostrad.
Penunjukannya sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin pada 2025 menjadi tahap penting dalam perjalanan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman dan kemampuan kepemimpinannya memberikan hasil nyata dalam kesiapan pertahanan, profesionalisme prajurit, koordinasi kelembagaan, serta kepercayaan masyarakat di wilayah tugasnya.



Comments