NURFAIZI SUWANDI: JENDERAL BINTANG TIGA DI BALIK KELUARGA KAPOLRI SUYUDI, DARI KABAReskrim HINGGA DIPLOMASI MESIR
KAVITA MEDIA NET — Profil Tokoh

Nama Komjen Pol (Purn.) Nurfaizi Suwandi kembali menjadi perhatian setelah menantunya, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, menduduki jabatan Kapolri pada Oktober 2026. Namun, menariknya, Nurfaizi bukan sekadar dikenal karena hubungan keluarganya dengan orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Ia memiliki perjalanan karier panjang di kepolisian, pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, dan kemudian dipercaya menjalankan tugas diplomatik sebagai Duta Besar RI untuk Mesir.
Jejak karier tersebut membuat profil Nurfaizi layak dibaca sebagai bagian dari sejarah kepemimpinan kepolisian Indonesia bukan semata-mata sebagai cerita tentang seorang mertua Kapolri.
Dari Akpol 1971 hingga jenderal bintang tiga
Nurfaizi lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 27 Juli 1947. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1971 dan mengakhiri masa dinas aktifnya pada 2003 dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi.
Sejumlah jabatan penting pernah dipercayakan kepadanya. Ia tercatat pernah menjabat Kapolda Jawa Tengah, Kapolda Metro Jaya, Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), serta Kabareskrim Polri. Ia juga pernah memegang posisi pimpinan di lingkungan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Karier tersebut menempatkannya dalam jajaran perwira tinggi yang pernah bersentuhan dengan fungsi reserse, pendidikan kepolisian, keamanan wilayah, dan pemberantasan narkotika.
Ketika memimpin Polda Metro Jaya, Nurfaizi berada dalam periode penanganan sejumlah perkara besar yang mengguncang Jakarta, termasuk ledakan di Bursa Efek Jakarta pada September 2000 dan bom Kedutaan Besar Malaysia pada Agustus 2000.
Namanya juga dikaitkan dengan penanganan perkara Andi Arief pada 1998. Namun, penting dicatat bahwa jabatan sebagai pimpinan wilayah tidak berarti seorang pejabat secara pribadi menangani setiap tahapan penyidikan.
RIWAYAT JABATAN: DARI KORPS RESERSE HINGGA DUTA BESAR
Perjalanan karier Nurfaizi Suwandi dimulai setelah menyelesaikan pendidikan Akademi Kepolisian pada 1971. Dalam perjalanan dinasnya, ia menempati sejumlah posisi penting di lingkungan kepolisian, terutama pada bidang reserse dan kepemimpinan kewilayahan.
Ia pernah bertugas di lingkungan Bareskrim/Korserse Polri, kemudian dipercaya memimpin Polda Jawa Tengah pada 1999 dan Polda Metro Jaya pada periode 1999–2000.
Kariernya berlanjut ke bidang pendidikan kepolisian. Nurfaizi tercatat pernah menjabat Gubernur PTIK pada periode 2001–2002. Ia juga pernah memimpin pelaksana harian Badan Narkotika Nasional, meskipun sumber biografi yang tersedia belum seragam mengenai periode persis penugasannya.
Setelah mengakhiri masa dinas aktif di Polri pada 2003 dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi, Nurfaizi memasuki dunia diplomasi. Ia dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Mesir pada 21 Desember 2011 dan menjalankan masa jabatan sejak 26 Januari 2012 hingga 11 Februari 2016.
Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan perjalanan karier yang melintasi fungsi reserse, kepemimpinan kepolisian daerah, pendidikan kepolisian, pemberantasan narkotika, hingga diplomasi internasional.
Hubungan keluarga dengan Kapolri Suyudi Ario Seto
Sorotan terhadap Nurfaizi semakin besar setelah Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026. Sejumlah pemberitaan menyebut Suyudi menikah dengan Dewi Yuali, putri Nurfaizi Suwandi. Dengan demikian, Nurfaizi merupakan ayah mertua Kapolri yang sekarang memimpin institusi Polri. Informasi hubungan keluarga ini diberitakan antara lain oleh Suara.com pada 1 Oktober 2026.
Hubungan tersebut tentu menarik perhatian publik karena mempertemukan dua generasi dalam satu keluarga yang memiliki hubungan erat dengan institusi kepolisian.
Namun, ada batas penting yang harus dijaga dalam membaca fakta ini.
Hubungan kekerabatan tidak otomatis membuktikan adanya pengaruh terhadap pengangkatan, promosi, penempatan jabatan, atau pengambilan keputusan di tubuh Polri. Tidak ada bukti dalam sumber yang ditelusuri bahwa Nurfaizi mengatur atau menentukan perjalanan karier menantunya.
Karena itu, hubungan keluarga tersebut layak diberitakan sebagai informasi biografis, bukan dijadikan dasar untuk membangun tuduhan nepotisme.
Kisah menarik dengan Prabowo: persoalan baret merah
Salah satu cerita paling menarik dari perjalanan Nurfaizi adalah pengalamannya berinteraksi dengan Prabowo Subianto ketika Prabowo masih aktif di lingkungan militer.
Dalam wawancara yang diterbitkan Gontornews pada 13 Februari 2018, Nurfaizi menceritakan persoalan penggunaan baret merah di lingkungan Bareskrim.
Menurut penuturannya, ketika dirinya berada dalam posisi pimpinan Bareskrim, muncul gagasan penggunaan baret merah bagi personel reserse. Gagasan tersebut sempat mendapat teguran dari Prabowo Subianto, yang saat itu mengingatkan bahwa baret merah identik dengan Kopassus.
Nurfaizi kemudian menjelaskan bahwa warna baret Bareskrim berbeda dari baret Kopassus. Menurut cerita yang disampaikannya, baret Bareskrim berwarna merah tua, sedangkan baret Kopassus berwarna merah darah. Ia juga menceritakan bahwa setelah penjelasan tersebut, Prabowo akhirnya mengizinkan penggunaan baret yang dimaksud.
Kisah ini menarik bukan karena persoalan warna seragam semata, melainkan karena memperlihatkan perjumpaan dua institusi dengan tradisi dan simbol identitas masing-masing. Tetapi, perlu ditegaskan: cerita tersebut merupakan kesaksian Nurfaizi sebagaimana dimuat dalam wawancara media, bukan keterangan resmi dari Prabowo atau dokumen institusional yang secara independen mengonfirmasi seluruh percakapan itu.
Dari kepolisian menuju diplomasi internasional
Setelah pensiun dari Polri pada 2003, perjalanan Nurfaizi tidak berhenti.
Pada 21 Desember 2011, ia dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Mesir. Ia mulai menjalankan tugas diplomatiknya pada 2012 dan mengakhiri masa penugasan pada 2016.
Selama bertugas di Mesir, salah satu program yang menonjol adalah pembangunan asrama mahasiswa Indonesia di kompleks Universitas Al-Azhar. Dalam wawancara Gontornews, Nurfaizi menceritakan bahwa proyek tersebut sempat menghadapi kendala pembiayaan. Ia mengupayakan dukungan pemerintah hingga pembangunan asrama dapat diselesaikan.
Cerita itu menunjukkan bahwa kiprahnya setelah meninggalkan kepolisian tidak hanya berada di ranah seremonial diplomatik, tetapi juga menyentuh program pelayanan bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Ada pula catatan menarik dari sisi pendidikan. Pada usia 68 tahun, Nurfaizi berhasil menyelesaikan pendidikan doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Sebelas Maret (UNS), dengan disertasi mengenai model perilaku migrasi tenaga kerja perempuan Indonesia yang bekerja sebagai penata laksana rumah tangga di Mesir. Ia diwisuda pada Desember 2015 dengan IPK 3,60.
Perjalanan akademik tersebut menjadi bagian lain dari profilnya: seorang purnawirawan jenderal yang melanjutkan pendidikan doktoral ketika sedang menjalankan tugas diplomatik.
Bukan sekadar mertua Kapolri
Nurfaizi Suwandi memiliki perjalanan panjang yang melintasi kepolisian, pendidikan, pemberantasan narkotika, dan diplomasi. Hubungannya dengan Suyudi Ario Seto membuat namanya kembali menjadi perhatian, tetapi rekam jejaknya jauh lebih luas daripada sekadar status sebagai mertua Kapolri.
Kisah interaksinya dengan Prabowo mengenai baret merah juga memperlihatkan sisi lain perjalanan seorang pejabat: pengalaman, perbedaan pandangan, dan dialog antarinstitusi.
Namun, satu prinsip harus tetap dijaga: rekam jejak seseorang boleh ditelusuri, hubungan keluarga boleh diberitakan, tetapi dugaan pengaruh atau penyalahgunaan kedekatan tidak boleh dibangun tanpa bukti.
Sebab, dalam negara hukum, hubungan keluarga bukan bukti pelanggaran. Sebaliknya, jabatan dan kedekatan dengan kekuasaan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pengawasan publik.



Comments