PTN BH Didorong Cari Sumber Uang Baru: Kampus Harus Mandiri, Jangan Bebani Mahasiswa!

KAVITA MEDIA NET, MEDAN — Perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN BH) didorong memperluas sumber pendapatan, mengoptimalkan aset, dan memperkuat kolaborasi usaha untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan. Namun, upaya memperkuat kemandirian finansial kampus juga menuntut tata kelola yang transparan agar orientasi bisnis tidak menggeser misi utama pendidikan tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, dalam U25 Leaders Forum PTN BH bertema “Unlocking Funding Opportunities: Strategi Pembiayaan Proyek Strategis PTN BH” di Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat (16/10/2026).
Badri menekankan pentingnya diversifikasi pendapatan, optimalisasi pengeluaran, dan kemampuan organisasi beradaptasi terhadap perubahan. Menurutnya, keberlanjutan kinerja perguruan tinggi membutuhkan Organizational Capability for Change (OCC), yakni kemampuan institusi untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan tantangan baru.
“Diversifikasi pendapatan dan optimalisasi pengeluaran diperlukan dalam keberlanjutan kinerja. Dibutuhkan Organizational Capability for Change (OCC), kapabilitas untuk berubah, guna menjamin keberlanjutan kinerja perguruan tinggi. Belajar dari best practices, diversifikasi pendapatan,” ujar Badri.
Kampus Diminta Tidak Bergantung pada Satu Sumber Pendanaan
Badri menjelaskan bahwa perguruan tinggi dapat mengembangkan potensi pendidikan yang sudah berjalan, mulai dari program sarjana hingga pascasarjana, sekaligus menjajaki peluang usaha baru yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan institusi.
Salah satu peluang yang disinggung adalah pengembangan fasilitas asrama atau dormitory yang dapat mendukung kebutuhan mahasiswa sekaligus menjadi bagian dari strategi pengelolaan pendapatan kampus.
Selain itu, PTN BH didorong mempelajari praktik pengelolaan dari perguruan tinggi lain, baik di dalam maupun luar negeri, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing.
Diversifikasi pendapatan dinilai dapat membuka ruang pembiayaan yang lebih luas untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan riset, peningkatan mutu pembelajaran, dan proyek strategis perguruan tinggi.
Meski demikian, pengembangan usaha kampus perlu ditempatkan dalam kerangka misi akademik. Aset dan unit usaha semestinya dikelola secara profesional, tetapi keuntungan finansial bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perguruan tinggi.
Kemandirian finansial kampus harus memperkuat kualitas pendidikan, bukan menjadikan mahasiswa sebagai pihak yang terus menanggung kenaikan biaya.
Konsorsium Usaha Antar-PTN BH Disiapkan
Ketua U25 Leaders Forum sekaligus Rektor Universitas Indonesia (UI), Heri Hermansyah, menyampaikan rencana pembentukan konsorsium unit usaha bersama antar-PTN BH.
Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperluas kerja sama bisnis dan membangun mekanisme kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi perguruan tinggi anggota.
Heri juga menyoroti pentingnya memperkuat rekognisi akademik antarkampus.
“Kita akan membentuk unit usaha bersama, konsorsium dari seluruh universitas PTN BH ini untuk menangani krisis-krisis yang bersifat rutin. Di mana U25 sendiri yang menjadi captive market-nya,” ujar Heri.
Menurutnya, kerja sama tersebut juga akan mencakup rekognisi kegiatan akademik secara timbal balik atau reciprocal di antara perguruan tinggi anggota. Pertukaran mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen diharapkan memperkuat kolaborasi serta mempercepat proses pembelajaran antarinstitusi.
Heri menyebutkan bahwa konsorsium tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membangun standar dasar bersama sekaligus memperkuat sinergi antarkampus.
Jika dirancang dengan tata kelola yang tepat, konsorsium usaha dapat membuka peluang efisiensi melalui pengadaan bersama, pemanfaatan fasilitas, pengembangan layanan, dan kerja sama yang memiliki nilai ekonomi bagi anggota.
Namun, rencana tersebut tetap membutuhkan kejelasan mengenai model bisnis, pembagian risiko, mekanisme pengawasan, dan manfaat finansial yang dapat diukur. Transparansi menjadi penting agar kerja sama tidak sekadar menghasilkan struktur organisasi baru, tetapi benar-benar memberi nilai tambah bagi perguruan tinggi.
Kemandirian Kampus Harus Disertai Akuntabilitas
Rektor USU, Muryanto Amin, berharap pelaksanaan U25 Leaders Forum memberikan manfaat bagi para peserta, khususnya dalam memperkuat kerja sama dan pengembangan PTN BH.
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pengelolaan perguruan tinggi, pemanfaatan aset, pengembangan usaha, serta strategi pembiayaan proyek-proyek strategis.
Melalui forum ini, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi memperluas sumber pendanaan dan meningkatkan produktivitas aset untuk mendukung keberlanjutan institusi.
Namun, agenda kemandirian finansial perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kepentingan mahasiswa, keterjangkauan pendidikan, dan akuntabilitas pengelolaan dana. Setiap unit usaha harus memiliki tujuan, indikator kinerja, mekanisme pengawasan, serta kejelasan mengenai penggunaan hasil usahanya.
Perguruan tinggi bukan perusahaan biasa. Kampus memang membutuhkan pembiayaan yang sehat, tetapi mandat utamanya tetap menyelenggarakan pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan riset, dan mengabdi kepada masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan diversifikasi pendapatan bukan sekadar besarnya omzet atau banyaknya aset yang dikomersialkan, melainkan sejauh mana pendapatan tersebut kembali memperkuat mutu pendidikan, produktivitas penelitian, kesejahteraan sivitas akademika, dan manfaat sosial.
Tantangan PTN BH bukan hanya mencari uang lebih banyak, tetapi membangun kemandirian finansial tanpa kehilangan orientasi akademik. Transparansi, profesionalisme, dan keberpihakan pada kepentingan publik harus menjadi fondasi agar strategi pembiayaan benar-benar memperkuat masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
#PTNBH #KemandirianKampus #PembiayaanPendidikan #PendidikanTinggi #Kemdiktisaintek #TataKelolaKampus #KampusBerdampak #KAVITAMEDIA



Comments