Berpikir Adalah Dosa Terbesar di Negeri Para Penjilat Kekuasaan
- Mar 6
- 2 min read

Di banyak kantor pemerintahan, keberanian berpikir justru menjadi kesalahan paling fatal. Bukan korupsi kecil yang paling ditakuti, bukan kegagalan kebijakan yang paling memalukan melainkan keberanian untuk berkata jujur di hadapan kekuasaan. Di tengah budaya birokrasi yang semakin gemar memuja atasan, berpikir kritis telah berubah menjadi tindakan yang dianggap tidak sopan, bahkan berbahaya.
Masalahnya sederhana: penjilat tidak membutuhkan kebenaran. Mereka hanya membutuhkan kalimat yang membuat atasan merasa hebat. Dalam sistem seperti ini, rapat bukan lagi tempat mencari solusi, tetapi panggung untuk berlomba menunjukkan loyalitas. Kritik dianggap pembangkangan, data yang jujur dianggap mengganggu, dan analisis tajam sering diperlakukan seperti racun yang harus segera disingkirkan.
Inilah penyakit kronis kekuasaan: ketika orang-orang di sekeliling pemimpin lebih sibuk menjaga kenyamanan telinga atasan daripada menjaga kepentingan negara. Keputusan penting akhirnya lahir bukan dari pemikiran terbaik, tetapi dari suara paling penurut di dalam ruangan.
Budaya menjilat menciptakan satu ilusi besar: semuanya terlihat baik-baik saja. Laporan dibuat rapi, angka dipoles, proyek dipuji setinggi langit. Namun di balik semua itu, sering tersembunyi kebijakan yang salah arah, proyek yang tidak efisien, dan keputusan yang sejak awal sudah cacat logika. Karena tidak ada yang berani mengatakan kebenaran, kesalahan terus dipelihara sampai akhirnya meledak menjadi krisis.
Yang paling tragis adalah nasib orang-orang yang masih berani berpikir. Mereka dilabeli sebagai “tidak loyal”, dianggap terlalu kritis, atau dipinggirkan secara perlahan. Karier mereka berhenti bukan karena tidak kompeten, tetapi karena tidak mau menjadi bagian dari paduan suara pujian yang memekakkan telinga.
Sebaliknya, mereka yang paling mahir menyanjung justru melesat naik. Bukan karena gagasannya hebat, tetapi karena kemampuannya membaca ego kekuasaan. Dalam ekosistem seperti ini, kepintaran tidak lagi dihargai yang dihargai adalah kemampuan berlutut tanpa suara.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa banyak negara tidak runtuh karena serangan musuh dari luar. Negara hancur ketika di dalamnya dipenuhi oleh pejabat yang berhenti berpikir dan memilih menjadi penjilat demi jabatan.
Dan ketika hari itu datang ketika kebijakan yang salah akhirnya menimbulkan bencana para penjilat biasanya sudah punya satu kalimat yang selalu siap diucapkan:“Kami hanya menjalankan perintah.” Padahal kebenarannya jauh lebih pahit: mereka tidak pernah benar-benar berpikir.




Comments