top of page

Dari Kernet Angkot ke Konglomerat: Basrizal Koto Tantang Mitos Ijazah sebagai Satu-satunya Jalan Sukses

  • Feb 4
  • 2 min read

Kisah hidup pengusaha nasional Basrizal Koto atau yang akrab disapa Basko kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena ekspansi bisnis terbarunya, melainkan karena latar belakang hidupnya yang ekstrem: tidak menamatkan sekolah dasar, tanpa ijazah, namun kini menjadi salah satu pengusaha besar di Sumatra Barat dan nasional.


Basrizal Koto lahir dan tumbuh di Pariaman dalam kondisi kemiskinan akut. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Untuk sekadar makan, keluarga ini kerap harus meminjam beras dari tetangga. Akses terhadap pendidikan formal menjadi kemewahan yang tak terjangkau, memaksa Basko kecil meninggalkan bangku sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar.


Dalam usia muda, Basko merantau ke Riau. Tanpa modal, tanpa keterampilan formal, ia bekerja sebagai kernet angkot. Hidupnya berpindah-pindah di terminal, tidur di tempat umum, makan seadanya, dan tak jarang menerima perlakuan merendahkan karena status sosial dan tingkat pendidikannya. Namun, di tengah keterbatasan itu, Basko mengembangkan mental bertahan hidup yang kelak menjadi fondasi kesuksesannya.


Prinsip hidup yang ia pegang sederhana namun keras: kemiskinan bukan alasan untuk menyerah, melainkan dorongan untuk bekerja lebih keras dari siapa pun. Dalam perjalanannya, Basko belajar bisnis bukan dari ruang kelas, melainkan dari jalanan. Ia memulai dari berdagang petai, menjadi sopir, makelar mobil, hingga terjun ke jual beli tanah semuanya dijalani dengan modal kepercayaan dan keberanian mengambil risiko.


Kejujuran dalam bertransaksi dan konsistensi membangun jaringan menjadi kunci perubahan nasibnya. Perlahan, usahanya berkembang dari skala kecil ke sektor properti, perhotelan, dan media. Saat ini, Basrizal Koto tercatat sebagai pemilik Basko Grand Mall, sejumlah hotel berbintang, serta perusahaan media yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja, mayoritas berpendidikan tinggi.


Ironinya, ribuan sarjana tersebut bekerja di bawah kepemimpinan seseorang yang tak pernah mengecap bangku SMP. Fakta ini kerap dipahami publik sebagai kritik diam-diam terhadap sistem sosial yang terlalu memuja ijazah, namun kerap mengabaikan karakter, mentalitas, dan integritas.


Meski demikian, kisah Basko tidak serta-merta menegasikan pentingnya pendidikan formal. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tanpa ketangguhan mental, keberanian mengambil risiko, dan etos kerja justru kehilangan makna. Dalam konteks ini, perjalanan hidup Basrizal Koto menjadi cermin keras bagi negara dan masyarakat: akses pendidikan penting, tetapi membangun mental baja dan keadilan sosial bagi kelompok miskin jauh lebih mendesak.


Kisah Basko bukan sekadar cerita sukses personal, melainkan potret ketimpangan sekaligus daya tahan sosial tentang bagaimana sistem bisa gagal, tetapi manusia tetap bisa menang melawannya.




 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page