top of page

Gelombang Eksodus dari TikTok, Upscrolled Muncul sebagai Alternatif “Anti-Sensor”

  • Jan 30
  • 2 min read

Peralihan kepemilikan TikTok ke tangan investor mayoritas asal Amerika Serikat memicu efek domino yang tak terduga di lanskap media sosial global. Aplikasi Upscrolled, platform media sosial baru yang dikembangkan pengembang Palestina-Australia Issam Hijazi, mencatat lonjakan unduhan signifikan hanya dalam waktu singkat, seiring meningkatnya kegelisahan publik terhadap arah baru TikTok pasca restrukturisasi kepemilikan.


Restrukturisasi tersebut menempatkan kontrol operasional TikTok di Amerika Serikat semakin dominan, dengan keterlibatan investor besar seperti Larry Ellison (Oracle), Silver Lake, dan MGX. Meski secara formal dikemas sebagai langkah “stabilisasi bisnis dan keamanan data”, perubahan ini justru dibaca banyak pengguna sebagai sinyal menguatnya kepentingan geopolitik dan korporasi AS dalam menentukan arus informasi global.


Di berbagai negara, terutama di kalangan kreator independen, aktivis digital, dan komunitas kritis, muncul kekhawatiran serius bahwa TikTok akan bergerak menuju model moderasi konten yang lebih ketat, selektif, dan sarat bias politik. Isu sensor, penurunan jangkauan konten tertentu, hingga ketidakjelasan algoritma kembali mencuat—memperkuat persepsi bahwa ruang berekspresi di TikTok kian menyempit.


Dalam konteks inilah Upscrolled menemukan momentumnya. Diluncurkan pada 2025, platform ini memosisikan diri sebagai ruang digital alternatif yang menekankan keterbukaan, transparansi algoritma, dan kebebasan berekspresi. Upscrolled menggabungkan fitur unggahan video pendek ala TikTok, visual foto seperti Instagram, serta ruang diskusi teks menyerupai X—namun dengan klaim minim intervensi algoritmik tersembunyi.


Lonjakan unduhan Upscrolled bukan semata fenomena teknologi, melainkan refleksi keresahan politik digital global. Banyak pengguna menilai kepemilikan platform media sosial oleh entitas besar AS berpotensi menjadikan aplikasi-aplikasi tersebut sebagai alat kontrol narasi, baik secara halus melalui algoritma maupun terang-terangan lewat kebijakan moderasi.


Isu privasi data, bias algoritma, dan sensor berbasis kepentingan geopolitik menjadi faktor utama migrasi pengguna. Upscrolled, dengan latar belakang pengembang yang berasal dari komunitas yang lama berhadapan dengan pembatasan narasi global, dipersepsikan sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi wacana oleh korporasi teknologi Barat.


Namun, tantangan Upscrolled ke depan tidak ringan. Pertumbuhan cepat akan menguji konsistensi janji keterbukaan, terutama ketika tekanan regulasi, kebutuhan pendanaan, dan tuntutan moderasi mulai menguat. Sejarah media sosial menunjukkan, idealisme kebebasan kerap berhadapan langsung dengan realitas kekuasaan dan kapital.


Meski demikian, lonjakan pengguna Upscrolled menandai satu pesan penting: publik global semakin sadar bahwa platform digital bukan ruang netral, melainkan arena politik, ekonomi, dan ideologis. Ketika kepercayaan terhadap raksasa teknologi runtuh, ruang-ruang alternatif sekecil apa pun akan selalu dicari sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi narasi tunggal.

 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page