Gerhana Bulan Total “Blood Moon” 3 Maret 2026 Dapat Disaksikan di Indonesia, Bertepatan Pertengahan Ramadan
- Feb 20
- 2 min read

Fenomena astronomi langka berupa Gerhana Bulan Total atau “Blood Moon” diperkirakan akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026. Peristiwa ini menjadi istimewa bagi masyarakat Indonesia karena bertepatan dengan pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, tepatnya sekitar malam ke-14 hingga ke-15.
Fenomena Gerhana Bulan Total yang dijadwalkan terjadi pada awal Maret 2026 diprediksi dapat diamati di hampir seluruh wilayah Indonesia, selama kondisi cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan. Secara astronomis, gerhana ini terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi permukaan Bulan secara penuh.
Berdasarkan perhitungan astronomi, fase gerhana total di wilayah Indonesia Barat (WIB) diperkirakan berlangsung sekitar waktu berbuka puasa, yakni mulai pukul 18.10 hingga sekitar 20.15 WIB. Pada fase ini, Bulan akan masuk ke dalam bayangan inti Bumi (umbra) dan menampilkan warna merah tembaga yang khas selama kurang lebih 58 hingga 82 menit.
Fenomena ini disebut sebagai “Blood Moon” karena saat fase totalitas, Bulan tidak benar-benar menghilang atau gelap total. Atmosfer Bumi berperan menyaring cahaya Matahari dan hanya membiaskan spektrum cahaya merah ke arah Bulan. Efek optik inilah yang membuat Bulan tampak berwarna merah gelap atau kemerahan, menciptakan visual yang dramatis di langit malam.
Dari sisi visibilitas, wilayah Indonesia Timur diperkirakan akan memiliki durasi pengamatan yang lebih optimal karena posisi Bulan sudah lebih tinggi di langit ketika fase total dimulai. Sementara itu, di wilayah Indonesia Barat, gerhana terjadi saat Bulan baru terbit di ufuk timur, sehingga pengamatan akan lebih ideal dilakukan di lokasi yang memiliki pandangan bebas hambatan ke arah timur, seperti pantai, dataran terbuka, atau area tanpa gedung tinggi.
Secara teknis, gerhana bulan total merupakan fenomena yang aman untuk diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus, berbeda dengan gerhana matahari. Namun, penggunaan teleskop atau teropong dapat memberikan detail visual yang lebih jelas terhadap perubahan warna dan tekstur permukaan Bulan selama fase totalitas.
Keterkaitan waktu terjadinya gerhana dengan pertengahan Ramadan juga memberi dimensi kultural dan religius tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Dalam tradisi Islam, gerhana bulan dikenal sebagai peristiwa alam yang dianjurkan untuk disikapi dengan refleksi spiritual, termasuk pelaksanaan salat gerhana (khusuf), yang biasanya dilakukan saat fenomena berlangsung.
Untuk masyarakat yang tidak dapat melakukan pengamatan langsung karena faktor cuaca atau lokasi, pemantauan fenomena ini juga dapat dilakukan melalui siaran langsung dari lembaga resmi seperti BMKG maupun lembaga antariksa internasional seperti NASA yang umumnya menyediakan liputan astronomi mendekati hari kejadian.
Dengan kombinasi aspek astronomi, waktu yang bertepatan dengan Ramadan, serta visibilitas luas di Indonesia, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 diperkirakan menjadi salah satu fenomena langit yang paling dinantikan masyarakat pada tahun tersebut.
#GerhanaBulanTotal #BloodMoon2026 #GerhanaBulan2026 #FenomenaLangit #AstronomiIndonesia #Ramadan1447H #LangitMalam #InfoAstronomi #SainsPopuler #EdukasiAstronomi #PengamatanLangit #LangitIndonesia #PeristiwaLangit #InfoSains #GerhanaBulan #SpaceEvent #LangitRamadan #FenomenaAlam #ObservasiLangit #AstronomyEvent #BeritaKavitaMediaNet




Comments