Iklan Ramadan Era 90-an Menyimpan Momen Sederhana yang Kini Jadi Nostalgia Berharga
- Feb 4
- 1 min read

Setiap Ramadan, iklan-iklan khas selalu hadir sebagai bagian dari perjalanan bulan suci. Bagi mereka yang tumbuh di era 1990-an dan 2000-an, iklan-iklan ini bukan sekadar promosi produk; mereka adalah momen yang meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan.
Di layar televisi yang masih hitam-putih atau tabung besar yang menyala di ruang keluarga, muncul cerita sederhana namun hangat: sahur bersama keluarga, anak-anak berbagi kebaikan, atau reuni hangat dengan sanak saudara. Nada musik yang lembut, dialog penuh keakraban, dan visual sederhana itu menciptakan rasa rindu yang abadi.
Setiap iklan membawa kita kembali ke masa di mana kebahagiaan Ramadan tidak diukur dari kemewahan, tetapi dari kebersamaan dan kehangatan keluarga. Aroma ketupat, suara adzan magrib, dan senyum orang-orang tercinta selalu terselip di antara adegan-adegan singkat itu.
Kini, melihat kembali iklan-iklan tersebut, bukan hanya nostalgia yang muncul. Ada juga kesadaran humanis: iklan itu mampu menyentuh hati, membangun kenangan kolektif, dan menjadi saksi perjalanan budaya serta emosi masyarakat Indonesia. Mereka mengingatkan bahwa Ramadan adalah tentang momen sederhana yang abadi, bukan sekadar transaksi atau strategi pemasaran.




Comments