Isu Reshuffle Februari 2026 Menguat, Kinerja Sejumlah Menteri Dinilai Jadi Beban Awal Pemerintahan Prabowo
- Jan 28
- 2 min read

Rumor reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026 kian menguat di ruang publik. Isu ini bukan sekadar gosip politik musiman, melainkan refleksi dari meningkatnya tekanan publik terhadap kinerja kabinet yang dinilai belum sejalan dengan ekspektasi perubahan yang dijanjikan di awal pemerintahan.
Sejumlah pengamat politik menilai, reshuffle kabinet bukan lagi pilihan politis, melainkan keniscayaan administratif. Penilaian publik terhadap kinerja beberapa menteri dinilai rendah, bahkan cenderung kontraproduktif terhadap agenda besar pemerintahan Prabowo yang menekankan stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, penegakan hukum, dan keadilan sosial.
Menurut para pengamat, dalam sistem presidensial yang kuat, Presiden tidak boleh menjadi sandera kompromi politik berkepanjangan. Kabinet seharusnya menjadi mesin kerja, bukan etalase balas jasa politik. Ketika kinerja menteri dinilai gagal menjawab persoalan strategis, reshuffle menjadi mekanisme korektif yang sah dan perlu.
Penilaian tersebut diperkuat oleh rilis Center of Economic and Law Studies (CELIOS), yang sebelumnya mempublikasikan evaluasi kinerja kabinet. Dalam rilis itu, CELIOS mencatat delapan menteri dan dua kepala badan yang dinilai memiliki kinerja terburuk dan layak untuk di-reshuffle. Evaluasi tersebut disusun berdasarkan persepsi publik, efektivitas kebijakan, serta dampak nyata di lapangan.
Adapun nama-nama yang disorot antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, yang dinilai belum mampu menjawab persoalan tata kelola sektor strategis energi dan sumber daya alam. Di sektor pangan dan kesejahteraan, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmoko juga masuk dalam daftar, seiring belum terlihatnya terobosan signifikan dalam pengendalian harga dan penurunan kemiskinan.
Sektor hak asasi manusia dan lingkungan hidup turut menjadi sorotan. Menteri HAM Natalius Pigai dinilai belum menunjukkan arah kebijakan yang kuat dan konsisten, sementara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dianggap belum mampu merespons cepat berbagai konflik kehutanan dan ancaman deforestasi. Kondisi ini memunculkan kritik bahwa isu HAM dan lingkungan belum menjadi prioritas substantif pemerintahan.
Di bidang kebudayaan dan pariwisata, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dinilai minim terobosan kebijakan yang berdampak luas. Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana juga masuk daftar evaluasi karena program-program yang dinilai belum terukur dampaknya bagi kepentingan publik.
Nama lain yang disorot adalah Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid. Keduanya dinilai belum optimal dalam menangani persoalan struktural desa, ketimpangan wilayah, serta konflik agraria yang masih menjadi sumber ketegangan sosial di berbagai daerah.
Para pengamat menegaskan, reshuffle bukan sekadar mengganti orang, tetapi mengirim pesan politik yang tegas: kinerja adalah ukuran utama, bukan kedekatan politik. Jika Presiden Prabowo ingin menjaga legitimasi publik dan memastikan efektivitas pemerintahannya, reshuffle kabinet harus dilakukan secara objektif, transparan, dan berbasis evaluasi kinerja.
Dengan demikian, rumor reshuffle Februari 2026 tidak hanya mencerminkan dinamika elite, tetapi juga menjadi indikator sejauh mana Presiden Prabowo berani menegakkan prinsip meritokrasi di awal masa pemerintahannya. Publik kini menunggu, apakah rumor itu akan menjadi kenyataan, atau justru berakhir sebagai ujian kepemimpinan yang terlewatkan.




Comments