top of page

Kisah Hairani Armaya Doremi: Dari Gagal TOEFL Hingga Lulusan S2 Terbaik Northeastern University AS

  • Jan 31
  • 2 min read

Di tengah dominasi narasi kesuksesan instan dan privilese global, kisah Hairani Armaya Doremi justru berdiri sebagai antitesis. Perempuan asal Binjai, Sumatera Utara ini dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik jenjang magister (S2) di Northeastern University, Boston, Amerika Serikat—sebuah capaian akademik yang bukan hanya prestisius, tetapi sarat makna sosial.


Armaya Doremi meraih predikat kandidat lulusan terbaik di jurusan Corporate and Organizational Communication, College of Professional Studies, Northeastern University. Pencapaian ini menempatkannya di posisi puncak di antara mahasiswa internasional dari berbagai negara, di salah satu universitas riset terkemuka di Amerika Serikat. Namun yang membuat kisah ini relevan secara kritis bukan semata soal gelar, melainkan jalan terjal yang ditempuh untuk mencapainya.


Sebelum berdiri di panggung wisuda Fenway Park, Boston, Mei 2021 sebagai student speaker pembicara utama yang mewakili lulusan lintas bangsa Doremi harus menelan pahitnya kegagalan. Tercatat, ia gagal tes TOEFL hingga tujuh kali. Ia juga bukan lulusan sekolah internasional, bukan penutur fasih bahasa Inggris, dan bukan bagian dari elite akademik sejak awal.


Sebaliknya, ia adalah potret nyata kelas pekerja. Sejak usia 15 tahun, Doremi sudah bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ia memulai pendidikan tinggi dari jalur vokasi lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatera Utara, lalu melanjutkan S1 Ilmu Komunikasi di Jakarta, sebelum akhirnya menembus sistem pendidikan tinggi Amerika Serikat.


Fakta ini penting dicatat, karena di tengah wacana meritokrasi global, akses pendidikan internasional kerap dikaburkan seolah hanya soal kecerdasan, padahal realitasnya sarat dengan hambatan ekonomi, bahasa, dan sosial. Doremi berhasil bukan karena sistem yang ramah, melainkan karena daya juang yang keras kepala.


Dalam pidato wisudanya, Doremi menolak tampil sebagai individu tercerabut dari akar. Ia mengenakan kebaya di panggung internasional sebuah gestur simbolik yang menegaskan identitas Indonesia di ruang akademik global. Ia juga secara terbuka mendedikasikan prestasinya untuk sang ibu, menjadikan keberhasilannya bukan kemenangan personal semata, melainkan kemenangan keluarga dan latar sosial yang membentuknya.


Selepas kelulusan, Doremi tidak berhenti pada legitimasi akademik. Ia membangun karier profesional di Amerika Serikat dan pada tahun 2024 mendirikan agensinya sendiri, AYAMRA MEDIA, di Boston menandai transformasinya dari mahasiswa internasional menjadi pelaku bisnis dan profesional global.


Kisah Hairani Armaya Doremi pada akhirnya bukan hanya tentang “mimpi yang tercapai”, tetapi tentang ketimpangan yang berhasil ditembus, identitas yang dipertahankan, dan keberanian mengambil risiko ketika sistem tidak memberi jalan mudah. Di tengah derasnya ekspor talenta Indonesia ke luar negeri, kisah ini sekaligus menjadi cermin: bahwa potensi ada di mana-mana, tetapi kesempatan tidak selalu adil dan justru di situlah makna perjuangan diuji.




 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page