Kisah Kamaruddin dan Najrah: 16 Anak, Semua Hafiz Al-Qur’an
- Mar 6
- 2 min read

Kamaruddin bukan pejabat tinggi. Ia juga bukan orang kaya. Ia hanyalah seorang guru honorer di SDN 1 Katoi Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, seorang ayah, seorang suami, dan seorang hamba yang hidup dari keikhlasan dan keyakinan.
Tahun 1996, ia menikah. Sepuluh bulan kemudian, suara bayi pertama memenuhi rumah kecil mereka. Waktu terus berjalan, dan anak demi anak lahir sebagai amanah Allah. Hingga akhirnya, 16 anak hadir dalam pelukan pasangan sederhana ini. Anak bungsunya lahir pada 2015, sementara anak sulung kini berusia 26 tahun.
Hidup di tengah keterbatasan bukan hal mudah. Penghasilan sebagai guru honorer terbatas, kebutuhan keluarga terus bertambah, namun Kamaruddin tak pernah mengeluh. Ia percaya, setiap anak lahir bersama rezekinya masing-masing.
Di rumah sederhana itu, ada satu hal yang tak pernah absen: Al-Qur’an. Setiap hari, ayat suci dilantunkan, bukan karena paksaan, tapi karena cinta. Dengan kesabaran seorang ayah dan keteladanan seorang guru, Kamaruddin membimbing anak-anaknya mengenal, mencintai, dan menghafal kalam Ilahi.
Perlahan, keajaiban itu tumbuh. Satu per satu, keenam belas anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an. Tiga di antaranya bahkan telah menamatkan 30 juz dan meraih berbagai penghargaan. Sebagian anaknya telah menempuh pendidikan tinggi, sementara yang lain masih belajar dari SD hingga perguruan tinggi.
Allah pun mencukupkan langkah mereka. Anak-anaknya mendapat beasiswa, seakan menjadi jawaban atas keyakinan sang ayah: bahwa rezeki tak selalu datang dari apa yang kita genggam, tapi dari apa yang kita ikhlaskan.
Kini, Kamaruddin telah diangkat menjadi ASN. Tapi baginya, jabatan bukanlah puncak kebahagiaan. Melihat anak-anaknya tumbuh sebagai penjaga Al-Qur’an itulah keberhasilan sejati.
Kisah mereka mengajarkan satu hal sederhana tapi mendalam: kesederhanaan bukan penghalang untuk melahirkan generasi luar biasa. Keyakinan, keteladanan, dan cinta pada ilmu serta akhlak bisa mencetak anak-anak sholeh yang mengubah dunia, satu ayat demi ayat.”




Comments