top of page

MEMBELA ANAK BANGSA, TAPI MENGGOBLOK-GOBLOKKAN PAKAR? INI BUKAN SEKADAR IRONI

1 hour ago
2 min read

OPINI - DR. SADLI UMAR (Pengamat Komunikasi Politik-CIDES Indonesia)



Ada sesuatu yang menurut saya benar-benar janggal.

Seseorang mengaku tidak ingin melihat anak-anak Indonesia menjadi generasi yang “otaknya lemah”. Katanya ingin pendidikan lebih baik. Katanya ingin anak bangsa lebih pintar. Tetapi pada saat yang sama, para pakar justru digoblok-goblokkan.


Lalu kita harus bertanya: sebenarnya yang sedang dibela itu kecerdasan anak bangsa, atau ego pribadi?


Sebab kalau benar ingin anak-anak Indonesia cerdas, mestinya kita menghormati ilmu, penelitian, data, dan orang-orang yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mempelajari bidang tertentu.


Tidak harus setuju dengan semua pakar. Tetapi kalau tidak setuju, bantah ilmunya dengan ilmu. Bantah datanya dengan data. Bantah argumennya dengan argumen.

Bukan dengan makian.


Di sinilah saya melihat persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata kasar.


MERASA PALING TAHU PADAHAL BELUM TENTU PAHAM

Ada fenomena yang dikenal dalam psikologi kognitif sebagai Dunning-Kruger effect: keterbatasan pengetahuan dapat membuat seseorang justru sulit menyadari keterbatasan pengetahuannya sendiri.


Ini bukan berarti setiap orang yang keliru otomatis mengalami Dunning-Kruger. Tetapi fenomenanya relevan untuk memahami satu kebiasaan yang sering kita lihat: semakin sedikit memahami persoalan, semakin mudah merasa sudah memahami semuanya.


Pakar membawa penelitian?

“Goblok.”

Pakar membawa data?

“Teorinya ngawur.”

Pakar memberikan penjelasan rumit?

“Tidak masuk akal.”

Akhirnya, yang dibantah bukan lagi argumennya, tetapi orangnya.

Ini cara berpikir yang berbahaya.


ATAS NAMA ANAK BANGSA, EGO MALAH DIBESARKAN

Menggunakan isu “masa depan anak bangsa” memang terdengar mulia. Tetapi isu mulia tidak otomatis membuat semua cara menjadi benar.


Justru orang yang benar-benar peduli pada pendidikan seharusnya memahami satu hal sederhana: Anak-anak tidak belajar menjadi cerdas dari orang yang selalu merasa dirinya paling benar.


Mereka belajar dari orang yang berani bertanya, mau dikoreksi, menghargai bukti, dan sanggup mengatakan:

“Saya mungkin salah.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi justru di situlah kedewasaan berpikir dimulai.


MASALAH TERBESAR BUKAN KURANGNYA INFORMASI

Kita hidup di zaman ketika informasi berlimpah. Yang semakin langka justru kemampuan untuk menilai informasi.


Orang bisa membaca ribuan unggahan, menonton ratusan video, mendengar puluhan opini tetapi tetap tidak mampu membedakan antara fakta, opini, asumsi, data, dan sekadar keyakinan pribadi.


Lebih buruk lagi ketika seseorang hanya mau menerima informasi yang sesuai dengan pikirannya sendiri.


Ketika data mendukung pendapatnya: “Ini bukti.”

Ketika data membantahnya: “Pakar bodoh.”

Di situlah confirmation bias bekerja.

Bukan lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran.


KALAU MAU ANAK INDONESIA CERDAS, MULAILAH DARI CARA KITA BERPIKIR

Menurut saya, inilah pelajaran terpentingnya. Jangan hanya mengajarkan anak-anak bagaimana mendapatkan jawaban.


Ajarkan mereka bagaimana mempertanyakan jawaban.

Ajarkan mereka bahwa pakar bisa salah.

Tetapi ajarkan pula bahwa orang yang bukan pakar juga bisa salah.


Ajarkan mereka untuk kritis tanpa menjadi arogan.

Berani berbeda tanpa harus menghina.

Berani membantah tanpa kehilangan adab.

Dan yang paling penting: jangan membangun budaya kecerdasan dengan cara merendahkan orang yang memiliki ilmu.


Karena ada ironi yang tidak boleh kita abaikan: Kita tidak mungkin mencetak generasi yang menghargai ilmu kalau orang-orang berilmu justru dibungkam, diremehkan, dan dihina.


Jadi, kalau benar ingin anak-anak Indonesia menjadi lebih pintar, mungkin pertanyaan pertama yang harus kita ajukan bukan: “Bagaimana membuat mereka lebih cerdas?” Tetapi: “Sudahkah kita memberi mereka contoh bagaimana menghormati kecerdasan?”


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page