top of page

PEMERINTAH INDONESIA DIAM — Tidak Ada Pernyataan Resmi Belasungkawa untuk Khamenei

  • Mar 4
  • 1 min read

Pemerintah Republik Indonesia memilih untuk bungkam di saat dunia menyaksikan peristiwa penting dalam kancah geopolitik global: wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah lonjakan kritik internasional atas serangan militer yang menewaskan Khamenei, dan ekspresi duka dari beragam tokoh serta lembaga, pemerintah Indonesia justru hanya mengeluarkan pernyataan normatif soal penyesalan atas eskalasi konflik, tanpa menyatakan belasungkawa resmi atas kematian kepala negara sahabat.


Hal ini kontras dengan respons umat dan organisasi kemasyarakatan di Indonesia: Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyampaikan duka mendalam dan doa untuk Khamenei sebagai sosok yang dianggap sebagai pemimpin Muslim yang gugur akibat serangan Israel-AS, dan sejumlah tokoh seperti Ketua PBNU juga turun tangan menyampaikan simpati serta mengutuk agresi serangan tersebut.


Premanisme diplomatik ini semakin tercela ketika tokoh-tokoh politik Indonesia termasuk mantan Menlu Dino Patti Djalal secara terbuka mempertanyakan kenapa pemerintah tidak menyampaikan ucapan belasungkawa sebagaimana norma diplomasi antarnegara: etika minimum ketika pemimpin negara sahabat wafat.


Lebih jauh lagi, pemerintah justru mengumumkan kesediaan menjadi mediator konflik, namun lupa melakukan hal yang paling dasar dalam hubungan luar negeri: menghormati empati kemanusiaan dan konsistensi diplomatik. Bagaimana mungkin menawarkan diri sebagai juru damai, sementara pada saat yang sama tidak menunjukkan sikap hormat pada keluarga dan negara yang tengah berduka?


Sikap pemerintah Indonesia ini menggambarkan politik luar negeri yang serba berhitung dan kehilangan keberpihakan moral mengabaikan prinsip bebas dan aktif yang sering digaungkan, namun memilih diam saat momentum kemanusiaan menuntut kejelasan dan kepedulian. Pemerintah tampaknya lebih nyaman dengan kata-kata diplomatik kosong daripada menunjukkan keberanian prinsip, empati sesama bangsa, dan, yang paling mendasar, rasa hormat terhadap kepemimpinan negara sahabat yang wafat dalam konteks agresi militer global.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page