top of page

Ramadan dan Pengemis Musiman: Ketika Anak Dijadikan Alat Belas Kasihan

  • Feb 25
  • 2 min read
Setiap Ramadan, anak-anak kembali memenuhi lampu merah dan pelataran masjid bukan untuk belajar atau bermain, tetapi untuk menengadahkan tangan. Di balik rasa iba dan receh yang berpindah tangan, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah kita sedang membantu keluarga miskin, atau tanpa sadar membiarkan eksploitasi anak terus berlangsung? Fenomena pengemis musiman membawa anak bukan sekadar soal kemiskinan, tetapi cermin kegagalan sistem sosial dan empati publik yang belum sepenuhnya bijak.
Setiap Ramadan, anak-anak kembali memenuhi lampu merah dan pelataran masjid bukan untuk belajar atau bermain, tetapi untuk menengadahkan tangan. Di balik rasa iba dan receh yang berpindah tangan, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah kita sedang membantu keluarga miskin, atau tanpa sadar membiarkan eksploitasi anak terus berlangsung? Fenomena pengemis musiman membawa anak bukan sekadar soal kemiskinan, tetapi cermin kegagalan sistem sosial dan empati publik yang belum sepenuhnya bijak.

Setiap Ramadan, pemandangan itu seperti adegan tahunan yang tak pernah absen. Di lampu merah, di depan masjid, di pusat perbelanjaan, anak-anak duduk di pangkuan ibunya atau digandeng menyusuri trotoar sambil menengadahkan tangan. Bagi warga yang melintas, mereka menjadi bagian dari lanskap Ramadan hadir, terlihat, lalu sering kali terlupakan setelah kendaraan kembali melaju.


Mereka kerap berpindah titik. Dari satu persimpangan ke persimpangan lain, dari halaman masjid ke pusat keramaian, seolah mencari lokasi paling strategis untuk terlihat oleh sebanyak mungkin mata. Harapannya sederhana: empati yang berujung pada lembaran uang. Di bulan yang identik dengan kedermawanan, ruang publik berubah menjadi arena harapan.


Namun fenomena ini memunculkan pertanyaan sosial yang lebih luas. Apakah ini sekadar potret kemiskinan musiman? Strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi? Atau justru cerminan persoalan kesejahteraan yang belum sepenuhnya tersentuh kebijakan? Kehadiran seorang anak kecil dalam situasi tersebut menambah lapisan diskusi yang lebih kompleks—tentang perlindungan anak, hak atas pendidikan, hingga tanggung jawab sosial kolektif.


Ramadan dikenal dengan nuansa religius yang kuat dan solidaritas sosial yang tinggi. Masjid ramai, takjil dibagikan, sedekah mengalir. Namun di balik gemerlap aktivitas ibadah, realitas ini menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang menggantungkan harapan pada belas kasih publik, bukan pada sistem perlindungan sosial yang kokoh.


Pertanyaannya bukan semata soal memberi atau tidak memberi. Lebih jauh dari itu, ini tentang bagaimana sistem sosial bekerja. Bagaimana komunitas, lembaga zakat, dan pemerintah daerah merespons kondisi seperti ini secara berkelanjutan bukan hanya melalui penertiban sesaat, tetapi lewat pemberdayaan yang memutus ketergantungan.


Sebab jika setiap Ramadan persoalan yang sama terus berulang, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan hanya empati individu, melainkan efektivitas sistem kesejahteraan yang seharusnya melindungi mereka terutama anak-anak dari kerasnya jalanan.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page