Ramadan Datang, Harga Sembako Melonjak: Rakyat Menjerit, Pejabat Sibuk Rapat dan Blusukan
- Feb 18
- 2 min read

Menjelang Ramadan, harga beras, cabai, bawang, dan daging kembali meroket di pasar tradisional. Pedagang kecil mengeluh karena pembeli menahan belanja, sementara warga kelas bawah terpaksa mengurangi kebutuhan dapur demi bertahan. Di tengah lonjakan harga yang berulang setiap tahun, publik mempertanyakan efektivitas langkah pemerintah yang sebatas sidak dan rapat koordinasi, tanpa solusi nyata untuk menekan gejolak sembako.
Menjelang Ramadan, lonjakan harga bahan pokok kembali menjadi pola tahunan yang seolah tak pernah benar-benar diselesaikan. Beras, cabai, bawang, hingga daging merangkak naik dalam hitungan hari. Di pasar-pasar tradisional, pedagang kecil mengeluh omzet turun karena pembeli menahan belanja. Di sisi lain, warga kelas bawah terpaksa mengurangi konsumsi atau mencari alternatif yang lebih murah demi bertahan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan mekanisme pasar. Ramadan selalu menjadi momen sensitif karena permintaan meningkat, sementara distribusi kerap terganggu oleh faktor cuaca, logistik, hingga permainan spekulatif di tingkat distributor. Ketika pengawasan longgar, rantai pasok menjadi panjang dan harga di tingkat konsumen melambung tak terkendali.
Di lapangan, para pedagang menyebut kenaikan terjadi sejak dari distributor. Mereka mengaku tidak punya ruang untuk menahan harga karena margin keuntungan sudah tipis. Sementara itu, pembeli merasakan dampak paling nyata. Kenaikan beberapa ribu rupiah per kilogram mungkin terlihat kecil dalam hitungan makro, tetapi bagi keluarga berpenghasilan harian, itu berarti pengurangan lauk di meja makan.
Pemerintah, seperti tahun-tahun sebelumnya, merespons dengan rapat koordinasi dan kunjungan ke pasar. Pejabat turun langsung memantau harga, berdialog dengan pedagang, dan menyatakan stok aman. Namun publik mempertanyakan efektivitas langkah tersebut. Apakah sidak dan konferensi pers cukup untuk menekan harga? Ataukah ini hanya ritual musiman yang berulang tanpa solusi struktural?
Sejumlah pengamat ekonomi menilai masalah utama terletak pada tata kelola distribusi dan lemahnya intervensi pasar. Operasi pasar kerap dilakukan ketika harga sudah terlanjur melonjak, bukan sebagai langkah antisipatif. Transparansi data stok dan jalur distribusi juga masih menjadi pekerjaan rumah, sehingga ruang spekulasi tetap terbuka.
Lonjakan harga menjelang Ramadan seharusnya bisa diprediksi dan diantisipasi jauh hari. Jika pola kenaikan terjadi hampir setiap tahun, maka persoalannya bukan lagi pada faktor tak terduga, melainkan pada kesiapan kebijakan. Tanpa pembenahan sistem distribusi, penguatan cadangan pangan, dan pengawasan tegas terhadap praktik penimbunan, masyarakat kecil akan terus menjadi pihak yang menanggung beban.
Ramadan seharusnya menjadi bulan ketenangan dan kebersamaan. Namun bagi sebagian warga, bulan puasa justru diawali dengan kecemasan: apakah dapur tetap bisa mengepul ketika harga sembako melambung?




Comments