top of page

Sisi Gelap MBG dan PSN

  • Feb 25
  • 2 min read

Catatan Redaksi Kavita Media

Di balik gemuruh narasi pembangunan dan program populis, sisi gelap MBG dan PSN mulai dipertanyakan publik antara janji kesejahteraan di atas kertas dan realitas lapangan yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat, transparansi, dan keadilan distribusi
Di balik gemuruh narasi pembangunan dan program populis, sisi gelap MBG dan PSN mulai dipertanyakan publik antara janji kesejahteraan di atas kertas dan realitas lapangan yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat, transparansi, dan keadilan distribusi

“Sisi gelap MBG dan PSN” tidak lagi sekadar isu pinggiran, melainkan kritik terhadap model pembangunan yang kerap lebih menonjolkan angka dan citra dibanding dampak riil di lapangan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipromosikan sebagai solusi gizi dan masa depan generasi, sementara Proyek Strategis Nasional (PSN) digadang-gadang sebagai lokomotif pertumbuhan. Namun di balik narasi besar itu, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang benar-benar diuntungkan, dan siapa yang diam-diam menanggung beban?


MBG, di satu sisi, terlihat progresif dan populis. Tetapi di sisi lain, potensi politisasi anggaran, ketergantungan distribusi, hingga tata kelola yang rawan kebocoran menjadi sisi gelap yang jarang dibahas. Ketika program raksasa digerakkan dengan dana besar, transparansi dan akuntabilitas sering kali tertinggal. Risiko utamanya bukan hanya soal efektivitas gizi, tetapi juga tentang keberlanjutan dan potensi proyek menjadi ladang proyekistik.


Sementara itu, PSN kerap dipoles sebagai simbol kemajuan jalan tol, bendungan, kawasan industri, dan megaproyek lain yang tampak megah secara visual. Namun di balik itu, kritik soal penggusuran, dampak lingkungan, ketimpangan manfaat, hingga dominasi kepentingan korporasi menjadi bayangan gelap yang terus mengikuti. Pembangunan terlihat masif di atas kertas, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat di akar rumput.


Fenomena ini mencerminkan pola lama dalam kebijakan publik: citra didorong ke depan, dampak sosial disimpan di belakang. Ketika MBG dijadikan simbol kepedulian sosial dan PSN dijadikan etalase kemajuan nasional oleh Pemerintah Indonesia, publik justru berhak menuntut satu hal yang lebih substansial keadilan distribusi manfaat, transparansi anggaran, dan keberpihakan nyata pada rakyat, bukan sekadar proyek besar yang indah di laporan, tetapi problematis dalam kenyataan.


-Tim Redaksi Kavita Media


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page