top of page

Sosok Bripka (Purn) Seladi: “Polisi Pemulung” yang Menjadi Antitesis di Tengah Krisis Integritas Kepolisian

  • Feb 11
  • 3 min read

Kisah Inspiratif

Mantan anggota Satlantas Polresta Malang Kota itu memilih menjadi pemulung dan menolak suap selama 16 tahun bertugas di pelayanan SIM sebuah sikap yang justru terasa langka di institusi yang kerap disorot karena penyalahgunaan wewenang.
Mantan anggota Satlantas Polresta Malang Kota itu memilih menjadi pemulung dan menolak suap selama 16 tahun bertugas di pelayanan SIM sebuah sikap yang justru terasa langka di institusi yang kerap disorot karena penyalahgunaan wewenang.

Di tengah sorotan publik terhadap berbagai kasus pelanggaran etik dan penyalahgunaan wewenang di tubuh kepolisian, nama Bripka (Purn) Seladi kembali diperbincangkan. Mantan anggota Satlantas Polresta Malang Kota itu dikenal luas bukan karena jabatan atau pangkat tinggi, melainkan karena konsistensinya menolak suap dan memilih bekerja sebagai pemulung demi penghasilan halal.


Seladi bertugas selama 16 tahun di bagian pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM), salah satu titik layanan publik yang rawan praktik percaloan dan pungutan liar. Namun ia memilih jalan berbeda. Di tengah budaya transaksional yang kerap disorot publik, Seladi mengaku menolak suap dan tetap berpegang pada prosedur.


“Lebih baik berkeringat daripada memanfaatkan jabatan,” menjadi prinsip hidup yang melekat pada dirinya.


Polisi Pemulung


Selepas berdinas, Seladi tak segan memilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lowokdoro, Malang. Aktivitas itu dijalaninya bahkan saat masih aktif sebagai anggota polisi. Karena itulah ia dijuluki “Polisi Pemulung”.


Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin dipandang rendah. Namun bagi Seladi, memilah sampah adalah pekerjaan halal yang menjaga integritasnya tetap utuh. Setelah pensiun pada 2017, ia tetap menekuni pekerjaan tersebut dan kini memiliki gudang penampungan sampah sendiri di kawasan Gadang, Kota Malang.


Pilihan hidupnya menjadi kontras di tengah narasi tentang gaya hidup mewah sebagian aparat yang tak jarang dipertanyakan publik.


Simbol di Tengah Krisis Kepercayaan


Pujian warganet yang menjulukinya “Hoegeng masa kini” bukan tanpa alasan. Julukan itu merujuk pada Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Kapolri era 1960-an yang dikenal bersih dan antikorupsi.


Namun apresiasi terhadap Seladi juga menyimpan pertanyaan mendasar: mengapa integritas sederhana seperti ini terasa langka dan istimewa? Mengapa kejujuran seorang aparat menjadi viral dan dianggap pengecualian, bukan standar?


Publik menilai, fenomena Seladi mencerminkan kerinduan publik terhadap integritas struktural, bukan sekadar keteladanan personal.


“Seladi adalah anomali yang menyadarkan bahwa masalah utama bukan pada kurangnya figur baik, tetapi pada sistem yang belum sepenuhnya menopang dan melindungi integritas,” ujar seorang analis kebijakan keamanan.


Sistem dan Kesejahteraan


Kisah Seladi juga membuka diskusi tentang kesejahteraan aparat tingkat bawah. Jika seorang anggota polisi harus bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan, publik berhak mempertanyakan apakah sistem remunerasi dan pengawasan sudah berjalan optimal.


Integritas memang pilihan personal. Namun tanpa sistem pengawasan ketat, transparansi, dan kesejahteraan memadai, godaan penyalahgunaan wewenang akan selalu ada.


Seladi sendiri pernah menerima penghargaan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian atas kejujurannya. Ia juga memperoleh hadiah umrah dari mendiang Syekh Ali Jaber, yang direalisasikan pada 2025. Meski demikian, ia tetap hidup sederhana dan konsisten dengan pekerjaannya.


Pesan untuk Generasi Muda Polisi


Sebagai purnawirawan, Seladi kerap berpesan kepada anggota muda kepolisian agar bekerja sesuai prosedur, menjauhi suap, dan tidak menyalahgunakan jabatan.

Baginya, seragam adalah amanah, bukan instrumen memperkaya diri.


Cermin bagi Institusi


Kisah Bripka (Purn) Seladi bukan sekadar cerita inspiratif. Ia adalah cermin bagi institusi penegak hukum yang tengah berupaya memperbaiki citra dan kepercayaan publik.

Publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi konsistensi. Kepercayaan tidak dibangun lewat slogan atau pencitraan, melainkan lewat perilaku nyata.


Seladi mungkin hanya satu nama. Namun simbol yang melekat padanya jauh lebih besar: pengingat bahwa integritas bukan soal pangkat, melainkan pilihan.


Di tengah tuntutan reformasi kepolisian, kisahnya menjadi penegasan sederhana namun kuat bahwa dedikasi dan kejujuran tetap menjadi fondasi utama legitimasi aparat penegak hukum.



 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page