top of page

Uang Rp100 Ribu Serasa Rp10 Ribu: Ketika Daya Beli Tergerus dan Realitas Ekonomi Tak Lagi Ramah

  • Feb 16
  • 2 min read
Di tengah klaim stabilitas ekonomi, realitas di lapangan berkata lain: Rp100 ribu kini terasa seperti Rp10 ribu. Harga kebutuhan pokok merangkak naik, pendapatan stagnan, dan daya beli masyarakat tergerus.
Di tengah klaim stabilitas ekonomi, realitas di lapangan berkata lain: Rp100 ribu kini terasa seperti Rp10 ribu. Harga kebutuhan pokok merangkak naik, pendapatan stagnan, dan daya beli masyarakat tergerus.

Keluhan itu terdengar berulang di pasar tradisional, warung kopi, hingga linimasa media sosial: uang Rp100 ribu kini terasa seperti Rp10 ribu. Ungkapan hiperbolik ini bukan sekadar kelakar, melainkan refleksi psikologis sekaligus ekonomis atas merosotnya daya beli masyarakat di tengah tekanan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.


Secara makroekonomi, inflasi memang kerap disebut “terkendali”. Namun, angka agregat sering kali menutupi realitas mikro di lapangan. Inflasi umum bisa tampak stabil, tetapi inflasi pangan yang langsung menyentuh konsumsi harian rumah tangga menggerus kantong masyarakat kelas bawah dan menengah jauh lebih dalam. Kenaikan harga beras, cabai, minyak goreng, hingga biaya transportasi menciptakan efek domino pada struktur pengeluaran keluarga.


Dalam teori ekonomi, daya beli ditentukan oleh keseimbangan antara pendapatan dan harga barang/jasa. Ketika pendapatan stagnan sementara harga naik, maka nilai riil uang menyusut. Inilah yang dirasakan masyarakat: bukan nominal uang yang berubah, melainkan kekuatannya untuk membeli.


Data menunjukkan pertumbuhan upah riil sering kali tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, terutama di sektor informal yang menyerap jutaan tenaga kerja. Pekerja harian, pedagang kecil, dan buruh lepas berada di posisi paling rentan. Tanpa perlindungan upah minimum efektif atau jaring pengaman sosial memadai, mereka menjadi kelompok yang paling terdampak inflasi pangan dan energi.


Lebih jauh, persoalan ini tak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi domestik. Ketika konsumsi melemah karena daya beli turun, pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat. Ini menciptakan lingkaran setan: pendapatan stagnan, konsumsi turun, produksi melemah, dan lapangan kerja tertekan.


Selain faktor ekonomi riil, ada pula dimensi psikologis. Kenaikan harga yang terjadi bertahap namun konsisten menciptakan persepsi “uang cepat habis”. Biaya tak kasat mata seperti pajak, tarif layanan digital, hingga cicilan pinjaman daring ikut menyedot pengeluaran rumah tangga modern.


Di era urban, pengeluaran tidak lagi sebatas kebutuhan primer. Internet, transportasi daring, biaya pendidikan tambahan, hingga gaya hidup digital menjadi komponen rutin anggaran keluarga. Ketika semua sektor mengalami penyesuaian harga, Rp100 ribu memang tak lagi memiliki daya tekan seperti satu dekade lalu.


Pertanyaan kritisnya: apakah kebijakan fiskal dan moneter cukup responsif terhadap tekanan riil masyarakat? Stabilitas makro penting, tetapi tanpa intervensi langsung pada harga pangan, distribusi logistik, dan perlindungan pendapatan, stabilitas itu bisa terasa semu.


Subsidi yang tidak tepat sasaran, ketergantungan pada impor komoditas strategis, serta lemahnya pengawasan rantai distribusi berpotensi memperlebar jarak antara angka statistik dan pengalaman warga. Dalam konteks ini, ungkapan “Rp100 ribu serasa Rp10 ribu” menjadi indikator sosial atas ketidakpuasan ekonomi yang tak boleh diabaikan.


Fenomena ini bukan sekadar persoalan harga mahal, melainkan soal kualitas pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan tidak diikuti pemerataan pendapatan dan perlindungan daya beli, maka nominal uang akan terus kehilangan makna riilnya bagi masyarakat kecil.


Pada akhirnya, daya beli adalah cermin kesejahteraan. Ketika masyarakat merasa uangnya tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, itu bukan sekadar keluhan melainkan sinyal bahwa fondasi ekonomi membutuhkan evaluasi serius. Tanpa langkah korektif yang berani dan terukur, keluhan “uang seratus ribu serasa sepuluh ribu” bisa berubah dari ungkapan frustrasi menjadi gejala krisis kepercayaan ekonomi.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page