Fenomena perebut laki orang (pelakor) kerap direduksi sebagai persoalan moral individual seolah hanya soal “perempuan penggoda” dan “istri yang kalah bersaing”. Padahal, dalam perspektif pemerhati sosial dan kemasyarakatan, narasi tersebut terlalu dangkal dan menutup akar persoalan yang lebih struktural: relasi kuasa gender, budaya patriarki, serta krisis etika dalam institusi keluarga modern. Pemerhati sosial menilai, istilah “pelakor” sendiri sudah bermuatan bias gender. L