top of page


Literasi Digital Bukan Sekadar Melek Teknologi, Yusrin: Demokrasi Terancam jika Publik Kehilangan Nalar Kritis
KAVITA MEDIA NET, Makassar — Derasnya arus informasi di ruang digital tidak otomatis membuat masyarakat semakin cerdas. Di tengah kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi, hoaks, ujaran kebencian, penipuan daring, hingga manipulasi opini publik justru menjadi tantangan serius bagi kualitas demokrasi. Persoalan inilah yang menjadi sorotan penggiat literasi digital sekaligus Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI pada Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidika
KavitaMedia
Oct 296 min read


KEBERANIAN INTELEKTUAL: BERANI BICARA ITU MUDAH, BERANI MENGAKUI SALAH ITU YANG SULIT
OPINI KAVITA MEDIA Kita sedang hidup di zaman yang aneh. Semakin banyak orang berbicara, tetapi tidak selalu semakin banyak orang berpikir. Semua orang merasa berhak punya pendapat. Itu tentu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika pendapat diperlakukan seperti fakta, keyakinan dianggap sebagai bukti, dan suara paling keras diposisikan seolah-olah paling benar. Di media sosial, orang bisa membuat kesimpulan hanya dari satu potongan video. Membaca satu judul, lalu me
KavitaMedia
Sep 222 min read


Bukan Sekadar Memberitakan, Kavita Media Dorong Transformasi Informasi Menjadi Pengetahuan
Di tengah arus informasi yang deras dan serba cepat, media tidak lagi cukup hanya menyampaikan peristiwa. Tantangan jurnalisme hari ini adalah bagaimana mengubah berita menjadi pengetahuan memberi konteks, membedah sebab-akibat, serta menghadirkan wawasan baru bagi publik. Di sinilah posisi strategis yang ingin ditegaskan oleh Kavita Media: tidak berhenti pada “apa yang terjadi”, tetapi menjawab “mengapa itu terjadi” dan “apa dampaknya bagi masyarakat”. Dari Informasi ke Lite
KavitaMedia
Feb 182 min read


Negeri Kaya, Nalar Miskin?
Muhammad Nur Rizal, Ph.D. (Dosen Teknik UGM – Founder GSM) Di tengah limpahan sumber daya alam, warisan budaya, dan spiritualitas yang kuat, negeri ini justru menghadapi ironi: publiknya masih mudah digiring opini, terjebak propaganda, dan sulit berpikir jernih. Kekayaan alam ternyata tidak otomatis melahirkan kemandirian nalar dan di situlah akar paradoks itu bermula. Muhammad Nur Rizal Muhammad Nur Rizal, Ph.D., mempertanyakan paradoks di negeri yang kaya sumber daya alam,
KavitaMedia
Feb 122 min read
bottom of page