Berpikir Tidak Populer di Kalangan Pejabat Penjilat

Di banyak ruang kekuasaan, berpikir kritis sering kali dianggap sebagai ancaman. Bukan karena gagasannya salah, tetapi karena keberanian untuk berbeda bisa merusak kenyamanan para penjilat yang hidup dari pujian kosong dan loyalitas buta. Dalam ekosistem birokrasi yang sakit, orang yang berani berpikir justru menjadi makhluk paling tidak populer.
Para penjilat tidak membutuhkan kebenaran. Mereka hanya membutuhkan kalimat yang menyenangkan telinga atasan. Di meja rapat, kritik dianggap gangguan. Analisis yang tajam dipandang sebagai pembangkangan. Bahkan data yang jujur sering kali dipelintir agar tetap sesuai dengan narasi yang ingin didengar oleh pemegang kekuasaan.
Inilah tragedi klasik birokrasi: keputusan besar sering lahir bukan dari pemikiran terbaik, melainkan dari keberanian paling kecil untuk berkata jujur. Ketika ruang diskusi dipenuhi oleh orang-orang yang lebih sibuk menjaga muka atasan daripada menjaga kepentingan publik, maka kebijakan yang lahir pun tidak pernah benar-benar berpihak pada rakyat.
Budaya menjilat menciptakan ilusi stabilitas. Semua tampak baik-baik saja di laporan, semua proyek disebut sukses, semua angka dibuat terlihat indah. Tetapi di balik laporan yang rapi itu, sering tersembunyi kegagalan, pemborosan, bahkan kebijakan yang sejak awal sudah cacat logika.
Yang lebih berbahaya, sistem seperti ini perlahan membunuh keberanian intelektual di dalam pemerintahan. Pejabat yang jujur dan kritis akan disingkirkan, dipinggirkan, atau dilabeli sebagai pembuat masalah. Sementara mereka yang pandai memoles kata-kata dan menyanjung kekuasaan justru naik pangkat dengan cepat.
Pada akhirnya, negara tidak pernah runtuh hanya karena musuh dari luar. Banyak negara hancur justru karena penyakit dari dalam: para pejabat yang berhenti berpikir dan memilih menjadi penjilat demi jabatan.
Berpikir kritis memang tidak populer di kalangan penjilat. Tetapi tanpa keberanian untuk berpikir jujur, kekuasaan hanya akan berubah menjadi panggung sandiwara besar di mana semua orang pura-pura setuju, sementara rakyat menanggung akibatnya.



Comments