Budaya Menjilat Dan Nepotisme Merusak Meritokrasi, Menghambat Profesionalisme Menciptakan Pemerintahan Kaku Feodal
Opini / Tajuk Rencana Kavita Media

Di tengah wacana reformasi birokrasi dan penguatan meritokrasi, dua penyakit lama masih bertahan dalam praktik kekuasaan, baik di pusat maupun daerah: budaya menjilat dan nepotisme. Keduanya tidak selalu tampak vulgar. Ia bekerja secara halus, terselubung dalam bahasa loyalitas dan dalih kepercayaan. Namun dampaknya nyata merusak profesionalisme dan memperlemah kualitas pemerintahan.
Budaya menjilat yang kerap disebut “asal bapak senang” adalah bentuk ketidakjujuran yang dilegalkan oleh struktur hierarkis yang kaku. Dalam pola ini, pujian berlebihan dan pembenaran terhadap setiap keputusan atasan menjadi mata uang politik birokrasi. Kritik dianggap ancaman, sementara kesetiaan personal lebih dihargai daripada kecakapan. Di sejumlah institusi, promosi jabatan lebih ditentukan oleh kedekatan emosional daripada rekam jejak kinerja.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh subur di lingkungan yang minim transparansi dan miskin evaluasi objektif. Ketika pimpinan hanya dikelilingi oleh mereka yang menyaring informasi demi menyenangkan hati, maka keputusan publik lahir dari data yang terdistorsi. Pemerintahan yang seharusnya rasional berubah menjadi ruang gema di mana yang terdengar hanya suara yang ingin didengar.
Dampaknya tidak kecil. Produktivitas menurun karena ide kritis tidak diberi ruang. Aparatur yang kompeten memilih diam atau menepi karena integritasnya tidak dihargai. Dalam jangka panjang, kepemimpinan menjadi rapuh karena dibangun di atas loyalitas palsu, bukan kapasitas nyata. Di level pusat, ini bisa berujung pada kebijakan yang tidak adaptif terhadap krisis. Di daerah, ia melahirkan stagnasi pelayanan publik dan pemborosan anggaran.
Jika budaya menjilat merusak dari dalam, nepotisme memperparah keadaan dari luar. Nepotisme bukan sekadar soal memberi posisi kepada kerabat; ia adalah pengingkaran terhadap prinsip keadilan dan efisiensi. Ketika jabatan diberikan berdasarkan hubungan darah atau kedekatan personal, maka meritokrasi hanya menjadi slogan. Pemerintahan berubah dari institusi publik menjadi lingkaran privat.
Dalam konteks kekinian, sorotan publik terhadap praktik nepotisme semakin tajam. Masyarakat semakin kritis terhadap pola pengangkatan pejabat yang diduga sarat relasi keluarga atau jaringan politik tertentu. Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai warisan, bukan amanah, maka orientasi pelayanan bergeser menjadi perlindungan kepentingan kelompok. Yang diprioritaskan bukan kualitas kebijakan, melainkan kelangsungan pengaruh.
Sejarah menunjukkan, kualitas tidak diwariskan melalui garis keturunan. Kecakapan lahir dari pengalaman, pendidikan, dan kompetisi sehat. Ketika seseorang ditempatkan karena dikenal, bukan karena layak, ia cenderung sibuk menjaga posisinya daripada meningkatkan kinerjanya. Dari situlah lahir kelambanan birokrasi dan dari kelambanan, kemunduran pelayanan.
Di tingkat pusat, nepotisme dapat menghambat agenda reformasi struktural karena keputusan strategis terjebak dalam kompromi relasional. Di daerah, ia memperkuat politik dinasti yang mempersempit ruang regenerasi kepemimpinan. Dalam kedua konteks tersebut, publik menjadi pihak yang paling dirugikan karena kualitas layanan dan kebijakan menurun.
Pada akhirnya, budaya menjilat dan nepotisme bukan hanya persoalan etika, tetapi persoalan kalkulasi masa depan. Keduanya mungkin tampak menguntungkan dalam jangka pendek memberi rasa aman bagi penguasa dan lingkarannya. Namun dalam jangka panjang, ia menanam benih kelemahan institusional yang sulit dicabut. Pemerintahan yang kuat tidak dibangun dari pujian palsu dan hubungan darah, melainkan dari keberanian menerima kritik dan ketegasan menilai berdasarkan kapasitas.
Negara dan pemerintahan yang ingin maju harus berani memutus rantai feodalisme modern ini. Tanpa itu, reformasi hanya akan menjadi retorika, dan meritokrasi sekadar hiasan pidato. Demokrasi membutuhkan aparatur yang jujur dan kompeten bukan yang paling dekat, dan bukan yang paling pandai menyenangkan atasan.



Comments