top of page
Search

Ketika Seragam Menjadi Tradisi: Pelajaran Dari Sekolah Inggris

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Feb 5
1 min read

Di Inggris, sebuah sekolah menengah bernama Christ’s Hospital mempertahankan seragam yang nyaris tidak berubah selama hampir lima abad. Seragam tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1553 dan hingga kini masih dikenakan oleh para siswanya. Selama 473 tahun, desain, warna, dan potongan pakaian tetap dijaga sebagai bagian dari identitas dan sejarah institusi pendidikan tersebut.


Bagi Christ’s Hospital, seragam bukan sekadar kewajiban berpakaian, melainkan simbol kesinambungan nilai, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi. Konsistensi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan dapat bertahan lintas generasi ketika didasarkan pada visi jangka panjang dan komitmen yang kuat.


Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan praktik di Indonesia. Seragam sekolah cenderung terus mengalami perubahan, mengikuti pembaruan kebijakan, penyesuaian kurikulum, hingga pergantian regulasi. Model, atribut, hingga jenis pakaian kerap diperbarui dengan alasan modernisasi dan penyeragaman.


Namun, perubahan tersebut kerap membawa konsekuensi ekonomi bagi orang tua siswa. Setiap penyesuaian aturan hampir selalu diikuti kewajiban membeli seragam baru. Di tengah wacana pendidikan inklusif dan pengurangan beban biaya pendidikan, praktik ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan dan sensitivitas terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga.


Perbandingan ini menyoroti perbedaan pendekatan dalam memaknai seragam sekolah: di satu sisi sebagai simbol identitas dan keberlanjutan nilai, di sisi lain sebagai kebijakan yang terus berubah mengikuti dinamika regulasi. Isu ini kembali membuka ruang diskusi tentang sejauh mana kebijakan pendidikan dirancang untuk kepentingan jangka panjang peserta didik dan keluarganya.


 
 
 

Comments


bottom of page