top of page
Search

Mahasiswa Rantau di Makassar: Belajar Bahasa, Memahami Budaya, Menemukan Rumah di Tanah Orang

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Oct 25
5 min read

Updated: Oct 25

Oleh: Muh. Erwin Adriansyah - Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas Asal Palu


KAVITA Media Net — Merantau untuk kuliah bukan sekadar berpindah tempat dari kampung halaman ke kota tujuan. Bagi mahasiswa yang datang ke Makassar dari berbagai daerah di Indonesia, merantau adalah perjalanan panjang untuk belajar mandiri, memahami perbedaan, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan menemukan cara untuk merasa diterima di tengah masyarakat yang memiliki bahasa serta kebudayaan yang beragam.


Di balik semangat mengejar gelar sarjana, ada cerita yang tidak selalu terlihat: kerinduan kepada keluarga, kecanggungan saat berkomunikasi, kesulitan memahami kebiasaan setempat, hingga perjuangan membangun pertemanan dari nol.


Makassar, sebagai salah satu pusat pendidikan dan aktivitas ekonomi di kawasan timur Indonesia, mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Mereka datang membawa bahasa daerah, tradisi keluarga, nilai sosial, serta cara berkomunikasi yang berbeda. Pertemuan itu membuka kesempatan untuk belajar, tetapi juga menghadirkan tantangan adaptasi yang tidak sederhana.


Bahasa: Pintu pertama untuk memahami lingkungan


Salah satu tantangan awal mahasiswa rantau adalah bahasa.

Di lingkungan kampus, bahasa Indonesia umumnya menjadi sarana komunikasi bersama. Namun, dalam pergaulan sehari-hari, mahasiswa dapat menjumpai penggunaan bahasa Makassar, bahasa Bugis, serta ragam ungkapan lokal yang memiliki makna kontekstual.


Bagi mahasiswa yang baru pertama kali tinggal di Makassar, percakapan yang berlangsung cepat, istilah lokal, intonasi, atau gaya bercanda mungkin terasa asing. Ada kalanya mereka memahami kata-katanya, tetapi belum menangkap maksud yang sesungguhnya.


Kesalahpahaman pun bisa terjadi, bukan karena seseorang berniat menyinggung, melainkan karena perbedaan kebiasaan berbahasa.


Di sinilah pentingnya kesediaan untuk belajar. Mahasiswa rantau tidak harus langsung fasih menggunakan bahasa lokal. Mereka dapat memulainya dengan mendengarkan, bertanya ketika tidak memahami suatu ungkapan, mempelajari sapaan yang lazim, dan menggunakan bahasa Indonesia ketika komunikasi mulai tidak jelas.


Belajar bahasa lokal juga bukan berarti meninggalkan identitas asal. Justru, kemampuan memahami bahasa masyarakat setempat dapat memperluas wawasan dan membangun hubungan yang lebih dekat.


Sebaliknya, masyarakat setempat juga perlu memberikan ruang bagi pendatang untuk belajar tanpa mempermalukan mereka karena kesalahan pengucapan atau ketidaktahuan terhadap istilah tertentu.


Bahasa seharusnya menjadi jembatan pergaulan, bukan pagar yang memisahkan manusia berdasarkan asal daerahnya.


Budaya tidak cukup dilihat, tetapi perlu dipahami


Adaptasi tidak berhenti pada bahasa. Mahasiswa rantau juga perlu memahami kebiasaan sosial, etika pergaulan, cara menghormati orang yang lebih tua, serta nilai-nilai yang hidup di masyarakat setempat.


Di Makassar dan berbagai komunitas di Sulawesi Selatan, nilai penghormatan, hubungan kekeluargaan, solidaritas, dan harga diri memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial. Namun, penerapannya dapat berbeda menurut keluarga, komunitas, dan situasi.


Karena itu, mahasiswa rantau perlu menghindari dua sikap yang sama-sama merugikan: menilai budaya setempat hanya berdasarkan pengalaman terbatas, atau menganggap semua kebiasaan di daerah asalnya harus menjadi ukuran untuk menilai masyarakat lain.


Perbedaan cara berbicara, kebiasaan berkumpul, pola pertemanan, maupun cara menyampaikan pendapat tidak selalu menunjukkan bahwa satu budaya lebih baik daripada budaya lainnya. Sering kali, yang dibutuhkan bukan penilaian, melainkan kemauan untuk memahami konteks.


Mahasiswa yang mampu membaca situasi sosial, menghormati kebiasaan setempat, dan tetap memegang prinsip pribadinya akan lebih mudah membangun hubungan yang sehat. Adaptasi semacam ini bukan bentuk kehilangan jati diri, melainkan tanda kedewasaan dalam menghadapi keberagaman.


Jangan sampai perbedaan berubah menjadi jarak sosial


Tantangan mahasiswa rantau bukan hanya memahami masyarakat setempat. Mereka juga perlu menghadapi kemungkinan munculnya kelompok pergaulan yang terbentuk berdasarkan kesamaan asal daerah, bahasa, atau latar belakang.


Berkumpul dengan sesama perantau tentu wajar. Mereka dapat menjadi sumber dukungan emosional, tempat berbagi pengalaman, dan pengganti suasana keluarga yang jauh di kampung halaman.


Namun, jika pergaulan hanya terbatas pada kelompok yang sama, kesempatan untuk memahami lingkungan baru menjadi lebih sempit. Mahasiswa mungkin tinggal bertahun-tahun di Makassar, tetapi tidak benar-benar mengenal masyarakat di sekitarnya.


Sebaliknya, mahasiswa lokal juga perlu membuka ruang pertemanan bagi pendatang. Candaan tentang logat, stereotip asal daerah, atau kebiasaan yang dianggap berbeda dapat melukai jika dilakukan secara berlebihan.


Tidak semua orang mampu langsung menyesuaikan diri. Ada mahasiswa yang mudah bergaul, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk merasa nyaman.

Karena itu, membangun lingkungan kampus yang inklusif bukan hanya tugas mahasiswa rantau. Perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, dosen, dan mahasiswa lokal juga memiliki peran dalam menciptakan ruang belajar yang aman, setara, dan saling menghargai.


Mahasiswa rantau tidak seharusnya dipaksa memilih antara menjadi bagian dari lingkungan baru dan mempertahankan identitas asalnya. Keduanya dapat berjalan bersama.


Adaptasi juga menyangkut kemandirian dan kesehatan emosional


Di balik persoalan bahasa dan budaya, ada tantangan yang lebih personal: belajar hidup mandiri. Sebagian mahasiswa harus mengatur uang bulanan, mencari tempat tinggal, mengurus kebutuhan sehari-hari, membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, serta mengambil keputusan tanpa kehadiran keluarga.


Pada saat yang sama, mereka menghadapi tuntutan akademik, persaingan prestasi, dan harapan keluarga yang mungkin telah mengorbankan banyak hal demi pendidikan anaknya.


Dalam situasi tersebut, kesulitan beradaptasi tidak boleh langsung dianggap sebagai kelemahan. Rasa canggung, rindu rumah, atau kesepian dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian diri.


Mahasiswa perlu membangun rutinitas yang sehat, menjaga komunikasi dengan keluarga, mencari teman yang dapat dipercaya, dan berani meminta bantuan ketika menghadapi masalah.


Perguruan tinggi juga perlu memastikan mahasiswa memiliki akses terhadap layanan konseling, pendampingan akademik, serta organisasi yang dapat membantu mereka mengenal lingkungan baru.


Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menguji kemampuan mahasiswa memahami teori, tetapi juga membantu mereka tumbuh sebagai manusia yang mandiri, tangguh, dan mampu membangun relasi sosial yang sehat.


Kampus adalah ruang perjumpaan, bukan sekadar tempat mengejar gelar


Kampus memiliki posisi strategis untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah. Karena itu, kegiatan pengenalan budaya, diskusi lintas daerah, organisasi mahasiswa, dan program pendampingan dapat menjadi sarana membangun pemahaman bersama.


Mahasiswa lokal dapat berbagi pengetahuan mengenai bahasa dan kebiasaan masyarakat. Mahasiswa rantau juga dapat memperkenalkan tradisi, bahasa, dan pengalaman dari daerah asalnya.


Pertukaran tersebut membuat proses adaptasi berjalan dua arah. Pendatang belajar memahami lingkungan baru, sementara masyarakat kampus memperoleh kesempatan mengenal keberagaman Indonesia secara lebih dekat.


Hal ini penting karena pengalaman hidup bersama orang-orang yang berbeda dapat melatih kemampuan mendengarkan, menyelesaikan konflik, menghargai perspektif lain, dan bekerja sama tanpa harus memiliki latar belakang yang sama.


Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Gelar akademik mungkin membuka pintu pekerjaan, tetapi kemampuan berinteraksi secara dewasa akan membantu seseorang menjalani kehidupan sosial dan profesional.


Merantau bukan menghapus asal-usul, melainkan memperluas cara pandang


Mahasiswa yang datang ke Makassar tidak harus berubah menjadi orang lain agar diterima. Mereka tidak perlu menyembunyikan bahasa daerahnya, melupakan tradisi keluarganya, atau merasa rendah diri karena berasal dari wilayah yang berbeda.

Pada saat yang sama, mempertahankan identitas bukan alasan untuk menolak belajar dari masyarakat tempat mereka tinggal.


Kedewasaan justru tumbuh ketika seseorang mampu menghargai tempat asalnya sekaligus menghormati tempat yang memberinya ruang untuk belajar.


Merantau mengajarkan bahwa setiap daerah memiliki pengalaman, nilai, dan cara hidup yang dapat memperkaya perspektif seseorang. Perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan menyeragamkan kebiasaan. Banyak perbedaan dapat dikelola melalui dialog, empati, dan kesediaan untuk saling memahami.


Makassar bukan hanya tempat untuk menempuh pendidikan, tetapi juga ruang perjumpaan bagi anak-anak muda yang sedang membentuk cara pandang terhadap dunia.


Penutup: belajar menjadi manusia di tengah perbedaan


Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa rantau tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, kelulusan tepat waktu, atau gelar yang diperoleh. Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: kemampuan memahami orang lain tanpa kehilangan jati diri.


Bahasa mengajarkan cara berkomunikasi. Budaya mengajarkan cara menghormati. Pergaulan mengajarkan empati. Sementara pengalaman hidup jauh dari keluarga mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab.


Mahasiswa rantau di Makassar perlu berani membuka diri, belajar dari lingkungan, dan membangun hubungan tanpa prasangka. Masyarakat setempat pun perlu memberi ruang agar mereka dapat bertumbuh tanpa harus merasa asing di tempat menuntut ilmu.


Sebab, merantau bukan sekadar perjalanan meninggalkan kampung halaman. Merantau adalah perjalanan memperluas pikiran, mendewasakan sikap, dan belajar menemukan persaudaraan di tengah perbedaan.


Pada akhirnya, rumah tidak selalu berarti tempat seseorang dilahirkan. Terkadang, rumah juga tumbuh dari lingkungan yang menerima, persahabatan yang tulus, dan masyarakat yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menjadi bagian dari kehidupan bersama.


 
 
 

Comments


bottom of page