top of page
Search

Mengenal Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng., CISA, ATD: Ilmuwan Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Oct 11
6 min read
Dari ruang akademik ITB hingga transformasi digital industri, Dimitri Mahayana mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihan mesin, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat, kesadaran, dan kebijaksanaan manusia.
Dari ruang akademik ITB hingga transformasi digital industri, Dimitri Mahayana mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihan mesin, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat, kesadaran, dan kebijaksanaan manusia.

Di tengah percepatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah lanskap pendidikan, industri, dan kehidupan sosial, nama Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng. hadir dalam percakapan mengenai masa depan teknologi informasi, sains, dan manusia. Ia bukan hanya akademisi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), melainkan juga praktisi industri digital serta penulis yang menaruh perhatian pada persoalan mendasar: sejauh mana manusia mampu mengendalikan teknologi yang diciptakannya sendiri?


Sebagai Lektor Kepala pada Kelompok Keahlian Sistem Kendali dan Komputer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Dimitri berada pada persimpangan antara pengembangan teknologi, pendidikan tinggi, dan refleksi filosofis. Bidang kepakarannya mencakup kecerdasan buatan, data science, sistem kendali cerdas, serta kajian filsafat sains dan implikasi teknologi terhadap kesadaran manusia.


Kombinasi tersebut menempatkannya dalam ruang diskusi yang semakin relevan. Ketika AI mulai mengambil alih berbagai pekerjaan kognitif, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat mesin semakin pintar, melainkan bagaimana memastikan kecerdasan mesin tidak menggerus daya pikir kritis, tanggung jawab moral, dan otonomi manusia.


Jejak Akademik: Dari Teknik Elektro hingga Filsafat Sains


Perjalanan akademik Dimitri Mahayana berakar di Institut Teknologi Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Elektro pada 1989 dengan predikat lulusan terbaik pertama, sebagaimana tercantum dalam riwayat pendidikan yang diberikan. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister bidang Engineering di Waseda University, Jepang, pada 1992, sebelum meraih gelar doktor Teknik Elektro dari ITB pada 1999.


Latar pendidikan tersebut membentuk fondasi keilmuan yang mempertemukan rekayasa, sistem komputasi, dan pemikiran ilmiah. Dalam perkembangan teknologi kontemporer, perpaduan itu penting karena persoalan digital tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis.


Algoritma, misalnya, dapat dirancang untuk meningkatkan efisiensi. Namun, keputusan mengenai data apa yang digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, risiko apa yang dapat diterima, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat membutuhkan pertimbangan yang lebih luas daripada sekadar ketepatan komputasi.


Selain pendidikan formal, Dimitri disebut memiliki sertifikasi Certified Information Systems Auditor (CISA) dari ISACA serta Accredited Tier Designer (ATD) dari Uptime Institute. Sertifikasi tersebut memperluas perspektif profesionalnya, khususnya dalam tata kelola sistem informasi, audit teknologi, dan perancangan infrastruktur pusat data.


Mengabdi di Kampus, Menguji Gagasan di Dunia Industri


Dimitri Mahayana tercatat mulai mengabdi sebagai dosen di STEI ITB sejak 1989. Dalam perjalanan akademiknya, ia terlibat dalam pengajaran bidang kecerdasan buatan dan kendali robotika. Ia juga mengampu filsafat sains pada jenjang doktoral.


Kehadiran filsafat sains dalam kiprah seorang akademisi teknik menjadi bagian penting dari profilnya. Sebab, ilmu pengetahuan bukan hanya perkara menghasilkan teori, model, atau teknologi baru, melainkan juga memahami batas pengetahuan, dasar pembenaran ilmiah, serta konsekuensi dari penerapan hasil penelitian.


Di era AI, pertanyaan semacam itu semakin mendesak. Sistem kecerdasan buatan dapat menghasilkan jawaban yang meyakinkan, tetapi jawaban yang terdengar benar tidak otomatis merupakan kebenaran. Kemampuan memproses informasi dalam jumlah besar juga tidak serta-merta menjadikan mesin memiliki kebijaksanaan, kesadaran moral, atau tanggung jawab sebagaimana dituntut dari manusia.


Di sinilah dimensi akademik Dimitri menjadi relevan: menghubungkan kemampuan teknis dengan pertanyaan epistemologis dan etis tentang bagaimana manusia mengetahui, menilai, dan mengambil keputusan.


Di luar kampus, ia juga dikenal sebagai pendiri sekaligus Chairman PT Sharing Vision Indonesia, perusahaan konsultan teknologi informasi dan pengembangan talenta digital. Melalui kiprah tersebut, ia terlibat dalam ekosistem konsultasi TI, strategi teknologi, dan transformasi digital bagi perusahaan serta berbagai organisasi.


Persilangan antara kampus dan industri memberinya ruang untuk mempertemukan pemikiran konseptual dengan kebutuhan praktis. Transformasi digital, pada kenyataannya, bukan sekadar memasang aplikasi atau mengadopsi teknologi terbaru. Ia menuntut perubahan proses kerja, kompetensi sumber daya manusia, tata kelola data, keamanan sistem, dan budaya organisasi.


Dari Robotika hingga Infrastruktur Digital Strategis


Spektrum pekerjaan yang dikaitkan dengan Dimitri mencakup sejumlah bidang teknologi strategis, mulai dari telesurgery AI/robotics, kendali berbasis data (data-driven control), keamanan siber, hingga penyusunan cetak biru teknologi informasi.


Keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut menunjukkan luasnya tantangan yang dihadapi teknologi modern. Dalam robotika medis, misalnya, inovasi dapat membuka peluang baru bagi layanan kesehatan, tetapi menuntut standar keselamatan, keandalan, dan pengawasan manusia yang ketat. Dalam keamanan siber, kecanggihan sistem harus berjalan beriringan dengan perlindungan data dan ketahanan infrastruktur.


Sementara itu, penyusunan IT Blueprint untuk sektor strategis seperti minyak dan gas bumi menuntut pemahaman tentang integrasi sistem, keberlanjutan infrastruktur, keamanan informasi, dan arah investasi teknologi dalam jangka panjang.


Sejumlah pekerjaan yang disebut dalam profilnya untuk periode 2025–2026 memperlihatkan bahwa diskursus AI tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan riil industri. Namun, kecanggihan teknologi juga harus diikuti penguatan tata kelola, kejelasan tanggung jawab, dan evaluasi risiko.


Teknologi yang canggih belum tentu menghasilkan organisasi yang cerdas apabila manusia di dalamnya tidak memiliki kemampuan untuk memahami, mengawasi, dan mengarahkannya.


Produktif Menulis, Membawa AI ke Ruang Refleksi Publik


Selain mengajar dan berkegiatan di industri, Dimitri Mahayana aktif menyampaikan gagasan melalui tulisan dan buku. Ia tercatat memiliki kolom opini di Kompas serta menerbitkan karya bertema kecerdasan buatan, filsafat sains, pendidikan, dan masa depan manusia melalui penerbit, termasuk Simbiosa dan ITB Press.


Beberapa judul yang tercantum dalam bahan profilnya antara lain Filsafat Sains: Dari Newton, Einstein hingga Sains-Data (2026), AI dan Kesadaran: Menjelajahi Pikiran di Ambang Mesin, Human Renaissance 2.0: Strategi Menjaga Kedaulatan Manusia di Era AI, serta AI dan Peran Pendidik: Substitusi atau Sinergi?.


Tema-tema tersebut memperlihatkan satu benang merah: perkembangan teknologi perlu dibaca bukan hanya melalui keberhasilan rekayasa, tetapi juga melalui implikasinya terhadap cara manusia berpikir, belajar, bekerja, dan memaknai kehidupan.


Pertanyaan mengenai kesadaran mesin, misalnya, tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan apakah AI mampu berbicara secara natural atau menghasilkan karya yang menyerupai produk intelektual manusia. Kemampuan menampilkan perilaku cerdas perlu dibedakan dari persoalan kesadaran subjektif, pengalaman batin, dan tanggung jawab moral hal-hal yang masih menjadi perdebatan dalam filsafat pikiran dan ilmu kognitif.


Demikian pula dalam pendidikan. AI dapat membantu pendidik menyusun bahan ajar, memberikan umpan balik, dan membuka akses pengetahuan. Namun, apabila penggunaannya membuat peserta didik berhenti mempertanyakan, memeriksa, dan membangun pemahamannya sendiri, teknologi yang semula dirancang untuk mendukung pembelajaran justru berisiko melemahkan tujuan pendidikan.


Karena itu, perdebatan mengenai AI dan pendidikan tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah mesin dapat menggantikan pekerjaan guru. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana AI dapat memperkuat kapasitas pendidik dan peserta didik tanpa menghilangkan dimensi manusiawi dalam proses belajar.


Human Over AI: Ketika Kedaulatan Manusia Menjadi Taruhan


Salah satu gagasan penting yang dikaitkan dengan pemikiran Dimitri Mahayana adalah prinsip Human over AI: manusia harus tetap menjadi pusat pengambilan keputusan dan pengarah penggunaan teknologi.


Prinsip ini bukan berarti menolak AI atau menutup pintu bagi otomatisasi. Sebaliknya, prinsip tersebut menekankan bahwa pemanfaatan teknologi harus memiliki tujuan yang jelas, batas etis, mekanisme pertanggungjawaban, dan kendali manusia yang bermakna.


Dalam praktiknya, prinsip tersebut dapat diterjemahkan ke dalam sejumlah pertanyaan kritis. Apakah penggunaan AI benar-benar meningkatkan kualitas keputusan? Apakah data yang digunakan dapat dipercaya? Siapa yang bertanggung jawab ketika sistem membuat kesalahan? Apakah manusia masih memiliki ruang untuk menolak rekomendasi algoritma? Dan apakah efisiensi yang dihasilkan sebanding dengan risiko terhadap privasi, keadilan, serta kemandirian berpikir?


Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena AI tidak bekerja dalam ruang hampa. Sistem dibangun berdasarkan data, tujuan, asumsi, dan keputusan manusia. Oleh sebab itu, keluaran AI perlu diperiksa secara kritis, bukan diterima sebagai kebenaran hanya karena dihasilkan oleh teknologi yang tampak canggih.


Di tengah maraknya penggunaan AI generatif, masyarakat juga perlu memahami bahwa kefasihan bahasa mesin tidak menjamin akurasi informasi. Verifikasi sumber, pemeriksaan fakta, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab pengguna tetap menjadi fondasi penting.


Dalam konteks tersebut, pemikiran tentang etika dan tata kelola AI memiliki arti strategis bagi perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat luas.


Tantangan Berikutnya: Membangun Manusia yang Tidak Tunduk kepada Algoritma


Perkembangan AI membawa peluang besar bagi produktivitas, penelitian, pendidikan, dan pelayanan publik. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan risiko ketergantungan, penyebaran informasi keliru, bias algoritma, pelanggaran privasi, dan berkurangnya ruang bagi penilaian mandiri.


Tantangannya bukan sekadar memastikan masyarakat mampu menggunakan perangkat AI. Yang jauh lebih penting ialah membangun literasi yang memungkinkan manusia memahami cara kerja teknologi, mengenali keterbatasannya, memeriksa hasilnya, serta mempertahankan tanggung jawab atas keputusan yang diambil.


Bagi dunia pendidikan, agenda tersebut berarti menggeser orientasi dari sekadar menguasai perangkat menuju penguatan penalaran, kreativitas, integritas akademik, dan kemampuan mengajukan pertanyaan yang bermutu. Bagi industri, agenda itu berarti memastikan otomatisasi tidak menghapus akuntabilitas. Sementara bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, tantangannya adalah membangun tata kelola yang melindungi kepentingan publik tanpa menghambat inovasi yang bertanggung jawab.


Dalam kerangka inilah profil Dimitri Mahayana menarik untuk dicermati. Ia mempertemukan tiga wilayah yang kerap berjalan sendiri-sendiri: pengembangan teknologi, praktik transformasi digital, dan refleksi filsafat mengenai posisi manusia di tengah perubahan.


Perjalanan akademik dan profesionalnya mengingatkan bahwa masa depan AI tidak cukup ditentukan oleh seberapa cepat mesin berkembang. Masa depan itu juga ditentukan oleh kualitas manusia yang merancang, menggunakan, mengawasi, dan menetapkan batas bagi teknologi tersebut.


Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa pintar mesin yang berhasil diciptakan, melainkan seberapa bijaksana manusia menggunakannya. Sebab, ketika teknologi semakin mampu mengambil alih pekerjaan manusia, kemampuan untuk berpikir kritis, menjaga empati, mempertanggungjawabkan keputusan, dan menentukan tujuan hidup justru menjadi semakin penting.


 
 
 

Comments


bottom of page