PERTAMINA TAMBAH JUTAAN LITER, ANTREAN PERTALITE BELUM TUNTAS: PUBLIK MENUNGGU BUKTI DISTRIBUSI NORMAL

ANTREAN PERTALITE MENGULAR DI MANADO! PASOKAN DITAMBAH, PUBLIK MENUNGGU KEPastian BBM NORMAL
KAVITA Media Net, MANADO — Jutaan liter tambahan Pertalite disiapkan, penyaluran ditingkatkan, mobil tangki dikerahkan. Namun, di tengah upaya tersebut, antrean kendaraan di sejumlah SPBU Manado dan sekitarnya masih menjadi keluhan warga. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika pasokan diperkuat, mengapa masyarakat masih harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM?
Sejumlah laporan pada 15–17 Oktober 2026 menyebutkan antrean Pertalite masih terjadi di beberapa SPBU di Manado, dengan waktu tunggu yang dilaporkan dapat melebihi satu jam. Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, kondisi ini bukan sekadar gangguan kenyamanan. Bagi sopir angkutan kota dan pengemudi ojek online, setiap menit di antrean berpotensi mengurangi waktu mencari penumpang dan pendapatan harian.
Persoalan BBM akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak liter yang tersedia di terminal penyimpanan, melainkan apakah bahan bakar tersebut benar-benar sampai ke SPBU dan dapat diakses masyarakat ketika dibutuhkan.
Jutaan Liter Tambahan, Apa Dampaknya di Lapangan?
Pertamina dilaporkan memperkuat pasokan melalui tambahan 3.000 kiloliter atau 3 juta liter Pertalite untuk Manado. Perusahaan juga menyiapkan tambahan 5 juta liter untuk Sulawesi Utara melalui Integrated Terminal Bitung.
Selain itu, penyaluran disebut ditingkatkan sekitar 30 persen di atas kebutuhan harian normal, dengan dukungan sembilan mobil tangki dari Gorontalo. Faktor cuaca dan perjalanan kapal tanker juga disebut memengaruhi jadwal distribusi.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan adanya upaya untuk merespons persoalan pasokan. Namun, angka penambahan itu perlu dibaca secara cermat: berapa yang sudah tiba, berapa yang masih dalam perjalanan, berapa yang telah disalurkan ke SPBU, dan berapa yang benar-benar tersedia bagi konsumen?
Perbedaan tersebut penting. Pasokan yang direncanakan bukan berarti sudah diterima. BBM yang tiba di terminal belum tentu langsung tersedia di setiap SPBU. Sementara peningkatan penyaluran belum otomatis menjamin antrean berakhir apabila distribusi tidak merata atau permintaan meningkat pada lokasi tertentu.
Keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari besarnya tambahan pasokan, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Jika waktu tunggu tetap panjang, pemerintah dan Pertamina perlu menjelaskan bagian mana dari rantai distribusi yang masih menjadi kendala. Tanpa data yang terbuka, publik hanya menerima dua gambaran yang belum tentu bertemu: penambahan pasokan dalam pengumuman dan antrean yang masih terlihat di lapangan.
Antrean BBM Bukan Persoalan Sepele bagi Pekerja Harian
Bagi pekerja dengan penghasilan harian, antrean Pertalite memiliki konsekuensi ekonomi langsung. Sopir angkot membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan trayek. Pengemudi ojol membutuhkan BBM agar dapat menerima dan menyelesaikan pesanan.
Ketika waktu produktif tersita untuk mengantre, pendapatan berpotensi menurun, sementara kebutuhan operasional tetap berjalan. Penumpang dan pengguna jalan pun ikut terdampak ketika antrean kendaraan memenuhi akses di sekitar SPBU.
Dampak tersebut tidak boleh diremehkan. Akan tetapi, besarnya kerugian ekonomi masyarakat juga perlu dihitung berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan tanpa dasar.
Pemerintah daerah, Pertamina, dan instansi pengawas perlu memetakan SPBU yang mengalami antrean terpanjang, mencatat waktu tunggu, membandingkan stok dengan kebutuhan harian, serta memantau realisasi distribusi dari terminal hingga konsumen.
Dengan cara itu, penanganan dapat diarahkan pada titik masalah yang sebenarnya, bukan hanya menambah pasokan secara umum tanpa ukuran keberhasilan yang jelas.
Publik Berhak Mendapatkan Jawaban
Ada tiga hal yang perlu dijelaskan secara terbuka.
Pertama, kepastian realisasi pasokan. Berapa volume tambahan yang benar-benar telah tiba di Integrated Terminal Bitung, berapa yang masih dalam perjalanan, dan berapa yang sudah dikirim ke SPBU di Manado serta wilayah lain di Sulawesi Utara?
Kedua, penyebab antrean. Apakah masalah terutama dipengaruhi keterlambatan kapal tanker akibat cuaca, kapasitas distribusi darat, lonjakan permintaan, atau kombinasi sejumlah faktor? Jawabannya harus didasarkan pada catatan operasional dan data lapangan.
Ketiga, target pemulihan. Kapan distribusi diperkirakan kembali normal? Indikator apa yang digunakan untuk menyatakan antrean sudah teratasi? Masyarakat membutuhkan ukuran yang jelas, bukan sekadar pernyataan bahwa pasokan sedang diperkuat.
Transparansi ini bukan bentuk permusuhan terhadap Pertamina. Justru keterbukaan memungkinkan masyarakat memahami kendala yang sebenarnya, menguji efektivitas langkah penanganan, dan membedakan gangguan distribusi sementara dari persoalan yang membutuhkan pembenahan lebih mendasar.
Jika faktor cuaca memang menghambat kedatangan kapal, penjelasan mengenai jadwal kedatangan dan skema pasokan alternatif menjadi relevan. Jika persoalannya terletak pada distribusi antarterminal dan SPBU, evaluasi harus diarahkan ke sana.
Jika permintaan meningkat, data konsumsi perlu diperiksa untuk menentukan kebutuhan riil. Jangan sampai semua persoalan dijawab dengan satu kalimat: pasokan ditambah.
Ukuran Keberhasilan Adalah Antrean yang Berakhir
Penambahan jutaan liter Pertalite merupakan langkah yang perlu diuji hasilnya. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kepastian bahwa BBM tersedia di tingkat terminal, tetapi juga jaminan bahwa distribusi berlangsung efektif dan bahan bakar dapat diperoleh tanpa antrean yang tidak wajar.
Pertamina perlu menyampaikan perkembangan penyaluran secara berkala. Pemerintah daerah perlu memastikan koordinasi dan pengawasan berjalan. Sementara aparat terkait harus menindaklanjuti setiap indikasi pelanggaran berdasarkan bukti, tanpa berspekulasi mengenai penyebab yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, persoalannya sederhana, tetapi dampaknya nyata: berapa pun tambahan pasokan yang diumumkan, masyarakat baru akan merasakan hasilnya ketika BBM tersedia dan antrean benar-benar berkurang.
Manado dan Sulawesi Utara membutuhkan lebih dari sekadar angka jutaan liter. Masyarakat membutuhkan distribusi yang dapat diandalkan, informasi yang transparan, dan kepastian bahwa aktivitas ekonomi mereka tidak terus terganggu.
Sebab, bagi warga yang menggantungkan penghasilan pada kendaraan, satu jam di antrean bukan sekadar satu jam yang hilang. Itu adalah waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
#AntreanPertalite #Pertamina #BBMSulawesiUtara #DistribusiBBM #KavitaMedia Kavita Media Net




Comments