top of page

HAMPIR 10% ANAK TERINDIKASI MASALAH KESEHATAN JIWA, KEMENKES INGATKAN RISIKO PAPARAN MEDSOS BERLEBIHAN

Oct 13
4 min read

Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas, hiburan tanpa jeda, dan ruang untuk mengekspresikan diri. Namun, di balik layar yang terus digulir, ada risiko yang tidak boleh diabaikan: tekanan sosial, kecemasan, gangguan tidur, hingga persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja.


Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak muda, terutama ketika aktivitas digital berubah menjadi ruang perbandingan sosial, tuntutan untuk selalu terlihat sempurna, dan paparan komentar negatif.


Di ruang digital, kehidupan orang lain sering terlihat lebih menarik, lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih sempurna. Tanpa disadari, sebagian anak muda mulai mengukur harga dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, pengikut, atau pengakuan dari orang lain. Apa yang awalnya sekadar hiburan dapat berubah menjadi sumber tekanan psikologis.


Persoalannya bukan semata-mata berapa lama seseorang menatap layar, tetapi juga apa yang dialaminya selama berada di sana dan bagaimana aktivitas tersebut memengaruhi kehidupannya.


Ketika penggunaan media sosial mulai mengganggu waktu tidur, menurunkan konsentrasi belajar, memicu kecemasan, atau menjauhkan seseorang dari hubungan sosial di dunia nyata, situasi tersebut patut menjadi perhatian.


Hampir 10 Persen Anak yang Diperiksa Terindikasi Masalah Kesehatan Jiwa


Perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja semakin penting jika melihat data yang disebut berasal dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026.


Dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa, hampir 10 persen dilaporkan menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Angka yang disampaikan mencakup sekitar 4,8 persen anak dengan gejala depresi dan 4,4 persen dengan gejala kecemasan.


Angka tersebut menjadi sinyal penting bagi keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk memperkuat upaya deteksi dini serta dukungan kesehatan mental bagi anak dan remaja.


Namun, data skrining perlu dibaca secara cermat. Indikasi atau gejala yang ditemukan melalui pemeriksaan awal tidak otomatis berarti seseorang telah didiagnosis mengalami gangguan mental. Diagnosis memerlukan penilaian lebih lanjut oleh tenaga profesional yang kompeten.


Demikian pula, temuan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa media sosial merupakan penyebab langsung masalah kesehatan jiwa pada anak-anak yang diperiksa. Hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi keluarga, lingkungan pertemanan, pengalaman perundungan, tekanan akademik, dan kondisi psikologis masing-masing individu.


Meski demikian, temuan skrining berskala besar tersebut tidak layak diabaikan. Deteksi dini menjadi berarti apabila diikuti akses terhadap konseling, pemeriksaan lanjutan, pendampingan keluarga, dan layanan kesehatan yang memadai.


Ketika Dunia Digital Mengambil Alih Kehidupan Nyata


Salah satu persoalan dalam penggunaan media sosial adalah kecenderungan membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang tampil di layar.


Foto yang telah disunting, pencapaian yang dipamerkan, dan gambaran kebahagiaan yang dipilih untuk dipublikasikan dapat membentuk standar sosial yang tidak realistis. Anak muda yang belum memiliki kematangan emosional memadai dapat merasa dirinya tertinggal, kurang menarik, atau tidak cukup berharga.


Tekanan juga dapat muncul melalui perundungan digital, komentar yang merendahkan, penyebaran konten pribadi, dan tuntutan untuk terus merespons aktivitas daring. Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat memperburuk stres, kecemasan, dan perasaan terisolasi.


Risiko semakin perlu diperhatikan ketika media sosial menggeser kebutuhan dasar. Tidur berkurang karena terus menggunakan gawai hingga larut malam. Konsentrasi belajar terganggu oleh notifikasi yang berulang. Percakapan dengan keluarga berkurang karena setiap anggota sibuk dengan layar masing-masing.


Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kebiasaan menggunakan teknologi. Persoalannya adalah apakah teknologi masih menjadi alat yang membantu kehidupan atau justru mulai mengendalikan kehidupan penggunanya.


Jangan Hanya Menyalahkan Anak, Keluarga dan Platform Juga Punya Peran


Menghadapi persoalan ini, pendekatan yang hanya menyalahkan anak muda karena terlalu sering menggunakan media sosial tidak akan menyelesaikan masalah.


Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, bukan sekadar melarang atau menyita gawai. Anak perlu merasa aman untuk menceritakan pengalaman buruk di dunia digital tanpa takut langsung dihakimi.


Sekolah juga perlu memperkuat literasi digital dan kesehatan mental. Anak harus dibekali kemampuan mengenali perundungan, memahami manipulasi informasi, mengelola tekanan sosial, menjaga privasi, serta mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis.


Platform digital pun perlu menjalankan tanggung jawabnya dalam menangani perundungan, membatasi penyebaran konten berbahaya, menyediakan mekanisme pelaporan yang efektif, dan memperkuat perlindungan pengguna anak.


Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan bahwa peningkatan kesadaran kesehatan mental diikuti layanan yang dapat diakses, tenaga profesional yang memadai, dan sistem rujukan yang jelas. Kampanye kesadaran tanpa dukungan layanan hanya berisiko membuat masyarakat mengetahui masalahnya, tetapi kesulitan memperoleh pertolongan.


Anak dan remaja juga perlu dibantu membangun kebiasaan digital yang sehat: menjaga jadwal tidur, mengambil jeda dari layar, melakukan aktivitas fisik, memelihara pertemanan di dunia nyata, dan tidak menjadikan respons di media sosial sebagai ukuran tunggal harga diri.


Jika kecemasan, kesedihan, gangguan tidur, atau penarikan diri dari lingkungan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan dari tenaga kesehatan atau psikolog perlu dipertimbangkan.


Tantangan Besarnya Bukan Menjauhkan Anak dari Teknologi, Melainkan Melindungi Mereka


Media sosial tidak selalu berdampak buruk. Teknologi digital dapat menjadi sarana belajar, kreativitas, dukungan sosial, dan akses terhadap informasi kesehatan. Masalah muncul ketika penggunaan teknologi berlangsung tanpa kendali, tanpa literasi yang memadai, atau dalam lingkungan digital yang tidak aman.


Karena itu, ukuran keberhasilan bukan sekadar mengurangi waktu layar. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak untuk menggunakan teknologi secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab, sekaligus memastikan mereka memiliki dukungan ketika menghadapi tekanan psikologis.


Data skrining kesehatan jiwa harus menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar angka yang ramai dibicarakan sesaat. Di balik setiap persentase, ada anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman.


Jangan sampai anak-anak kita semakin terhubung dengan dunia digital, tetapi justru semakin jauh dari tidur yang cukup, hubungan sosial yang sehat, dan ketenangan mental.


Teknologi seharusnya memperluas kesempatan hidup, bukan menjadi tekanan yang harus ditanggung anak sendirian. Melindungi kesehatan mental generasi muda adalah tanggung jawab bersama: keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan perusahaan teknologi.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page