KAMPUS JANGAN JADI MENARA GADING! Kemdiktisaintek Minta Perguruan Tinggi Turun Tangan Selesaikan Masalah Daerah

KAVITA MEDIA NET, MEDAN — Perguruan tinggi tidak boleh hanya sibuk mencetak sarjana, mengejar akreditasi, dan menghasilkan publikasi ilmiah. Di tengah tantangan ekonomi dan persoalan pembangunan daerah, kampus dituntut membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi benar-benar mampu menghasilkan solusi bagi masyarakat.
Pesan tegas tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, dalam sarasehan di Universitas Medan Area (UMA), Jumat (16/10/2026).
Badri menegaskan bahwa transformasi ekonomi bukan semata-mata tanggung jawab Presiden atau para menteri, melainkan agenda bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif perguruan tinggi.
“Yang dimaksud dengan berdampak seperti yang diminta Presiden, jadilah perguruan tinggi menjadi asisten-asisten pembangunan di daerah,” ujar Badri.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya mengubah posisi perguruan tinggi: dari institusi yang cenderung bekerja dalam lingkup akademik menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mengidentifikasi persoalan, merumuskan kebijakan, dan mengembangkan solusi berbasis sains dan teknologi.
Jangan Biarkan Riset Berhenti di Rak Perpustakaan
Menurut Badri, kontribusi kampus harus dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi daerah. Pimpinan perguruan tinggi perlu membangun komunikasi dengan pemerintah setempat untuk memetakan kebutuhan, kemudian menghubungkannya dengan kepakaran dosen, peneliti, dan sumber daya akademik yang tersedia.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kewajiban akademik, publikasi, atau pencapaian angka kinerja. Riset harus memiliki peluang untuk diterapkan, diuji, dan memberikan manfaat nyata.
Badri mencontohkan persoalan pengelolaan sampah dan parkir sebagai bidang yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Persoalan yang tampak sederhana tersebut sesungguhnya membutuhkan pendekatan multidisiplin, mulai dari rekayasa teknologi, tata kelola, perubahan perilaku masyarakat, pembiayaan, hingga evaluasi kebijakan.
“Mohon kami difasilitasi untuk berkomunikasi dengan skema semua pendekatan solusinya berbasis sains dan teknologi. Ketika berbasis sains dan teknologi, tentunya akan ada nilai tambah yang lebih,” jelasnya.
Kolaborasi semacam ini dapat membuka peluang inovasi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru. Namun, keberhasilannya perlu diukur berdasarkan hasil penerapan dan manfaat yang dihasilkan, bukan sekadar jumlah nota kesepahaman atau kegiatan kerja sama.
Kampus yang berdampak bukan hanya kampus yang banyak meneliti, melainkan kampus yang mampu mengubah hasil penelitiannya menjadi solusi yang dibutuhkan masyarakat.
Pendidikan Tinggi Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Badri juga menyoroti pentingnya keterhubungan antara riset perguruan tinggi, kebutuhan industri, dan pengembangan kompetensi lulusan.
Perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk lebih responsif dalam membaca kebutuhan tenaga kerja serta mengembangkan inovasi yang relevan.
Artinya, penyusunan kurikulum, pengembangan kompetensi mahasiswa, dan agenda penelitian perlu mempertimbangkan persoalan riil yang dihadapi industri maupun masyarakat. Kolaborasi dengan dunia usaha dan pemerintah daerah menjadi salah satu jalan untuk memperkecil kesenjangan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan praktis.
Tantangan ini semakin penting ketika gelar akademik saja tidak selalu menjamin kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
Perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi. Pada saat yang sama, industri dan pemerintah daerah perlu dilibatkan agar pendidikan tidak berjalan berdasarkan asumsi kampus semata.
Rektor UMA: Tridarma Harus Terbukti Manfaatnya
Rektor UMA, Dadan Ramdan, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus memastikan seluruh aktivitas Tridarma memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, kemajuan teknologi, dan penyelesaian berbagai persoalan bangsa.
“Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan, melaksanakan penelitian, dan menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari itu, perguruan tinggi dituntut untuk membuktikan bahwa seluruh aktivitas tridharma benar-benar memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, kemajuan teknologi, dan penyelesaian berbagai persoalan bangsa,” papar Dadan.
UMA, lanjutnya, berkomitmen memperkuat good university governance melalui akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme.
Komitmen tersebut juga mencakup penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), penguatan kompetensi dosen, peningkatan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah, serta perluasan kerja sama dengan dunia usaha, dunia industri, pemerintah, dan masyarakat.
Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan mutu akademik sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pembangunan.
Namun, penerapan OBE dan peningkatan publikasi ilmiah tetap perlu diikuti evaluasi terhadap hasil yang benar-benar dirasakan mahasiswa, pengguna lulusan, mitra industri, dan masyarakat.
Ukuran Kampus Berdampak Harus Jelas
Melalui sarasehan ini, Kemdiktisaintek mendorong penguatan tata kelola, pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU), serta peningkatan kontribusi riset dan inovasi bagi pembangunan.
Sinergi antara kementerian, perguruan tinggi, pemerintah daerah, badan penyelenggara, dan dunia usaha diharapkan dapat memperluas penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, agenda kampus berdampak membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Berapa banyak riset yang benar-benar diterapkan? Seberapa besar persoalan daerah yang berhasil diselesaikan? Apakah inovasi kampus meningkatkan produktivitas ekonomi, memperbaiki pelayanan publik, atau memperluas kesempatan kerja?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar konsep perguruan tinggi berdampak tidak berhenti sebagai slogan kebijakan.
Perguruan tinggi harus berani keluar dari menara gading akademik. Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya hidup dalam ruang kuliah, jurnal ilmiah, dan laporan penelitian. Ilmu harus hadir dalam kebijakan yang lebih baik, teknologi yang bermanfaat, ekonomi daerah yang produktif, dan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.
Pada akhirnya, kampus yang unggul bukan hanya kampus yang diakui secara akademik, tetapi juga kampus yang kehadirannya dibutuhkan masyarakat karena mampu membantu menyelesaikan persoalan nyata.




Comments