top of page

Membedah Pikiran Rocky Gerung Pascabergabung dengan Wantimpres

5 days ago
5 min read

Analisis pemikiran, independensi intelektual, dan relasi kritik dengan kekuasaan | Yusrin Ahmad Tosepu



Bergabungnya Rocky Gerung dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) membuka ruang untuk menguji satu persoalan mendasar: apakah seorang intelektual dapat mempertahankan daya kritisnya ketika memasuki struktur kekuasaan yang selama ini menjadi objek kritiknya?


Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky sebagai anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026. Seusai pelantikan, Rocky menegaskan bahwa dirinya hanya berpindah posisi dari luar ke dalam pemerintahan, sementara sikap dan pandangannya tetap sama. Ia juga menyatakan tetap memegang gagasan radical break.


Pernyataan itu menarik bukan semata-mata karena siapa Rocky Gerung, melainkan karena persoalan filosofis yang mengikutinya: ketika seorang pengkritik kekuasaan menjadi bagian dari lembaga penasihat presiden, bagaimana publik dapat menguji konsistensi pikirannya?

Inilah titik berangkat analisis Yusrin Ahmad Tosepu.


1. Dari luar kekuasaan ke dalam lingkaran pengambilan keputusan


Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal melalui kritik, perdebatan filosofis, dan pembacaan kritis terhadap kebijakan serta perilaku elite politik. Posisi di luar pemerintahan memberinya ruang untuk berbicara secara terbuka tanpa memikul tanggung jawab formal sebagai penasihat presiden.


Kini, posisinya berubah. Ia berada di dalam lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.


Perubahan tersebut tidak otomatis berarti Rocky meninggalkan prinsip intelektualnya. Sebaliknya, posisi baru itu membuka kesempatan baginya untuk menyampaikan kritik secara langsung kepada pengambil keputusan.


Namun, ada konsekuensi yang tidak dapat diabaikan. Kritik dari luar dapat dinilai melalui pernyataan terbuka, sedangkan kritik dari dalam harus diuji melalui kualitas pertimbangan dan dampaknya terhadap kebijakan.


Pernyataan Rocky seusai pelantikan mencatat penegasannya bahwa sikap dan pandangannya tidak berubah. Sementara itu, pembahasan mengenai fungsi Wantimpres menyoroti perbedaan antara kritik di ruang publik dan pertimbangan yang disampaikan kepada Presiden.


2. Membaca gagasan radical break: perubahan mendasar atau penyesuaian dari dalam?


Rocky menyatakan tetap berpegang pada radical break. Dalam penjelasannya yang diberitakan Katadata, istilah tersebut dikaitkan dengan perubahan kebijakan yang mendasar agar selaras dengan landasan ideologis dalam konstitusi.


Secara konseptual, gagasan ini mengandung tuntutan untuk tidak berhenti pada koreksi kecil terhadap persoalan yang muncul. Ia mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: apakah suatu kebijakan memiliki landasan yang tepat, apakah pelaksanaannya konsisten dengan prinsip konstitusional, dan apakah dampaknya dapat dipertanggungjawabkan?


Tetapi ketika gagasan perubahan mendasar dibawa ke dalam lembaga penasihat presiden, persoalan baru muncul.

  • Apa yang hendak diubah? Apakah hanya pelaksanaan kebijakan yang bermasalah, atau juga asumsi dasar yang melandasinya?

  • Apa tolok ukur koreksi? Apakah kepentingan publik, konstitusi, bukti empiris, atau kesesuaian dengan visi Presiden?

  • Bagaimana jika terjadi pertentangan? Apakah penasihat akan mempertahankan argumentasinya ketika temuannya berbeda dari preferensi pengambil keputusan?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan terhadap Rocky. Ini adalah perangkat untuk menguji konsistensi antara gagasan yang disampaikan dan tanggung jawab kelembagaan yang kini dijalankannya.


Sebab, perubahan mendasar tidak cukup dibuktikan melalui istilah yang terdengar radikal. Ia perlu terlihat dalam mutu argumentasi, keberanian mengidentifikasi masalah, dan kesediaan mempertahankan kesimpulan yang didukung bukti.


3. Paradoks intelektual: mengkritik kekuasaan sekaligus menasihatinya


Di sinilah pemikiran Rocky menjadi menarik untuk dibedah.

Ada dua posisi yang sama-sama memiliki legitimasi dalam kehidupan demokrasi.


Pertama, intelektual yang menjaga jarak dari kekuasaan agar dapat menguji kebijakan secara independen.


Kedua, intelektual yang memilih masuk ke dalam institusi untuk menyampaikan koreksi secara langsung kepada pemegang kewenangan.


Keduanya tidak harus bertentangan. Masalahnya bukan semata-mata apakah seorang pemikir berada di luar atau di dalam pemerintahan, tetapi apakah ia tetap memiliki ruang untuk menguji asumsi, mempertanyakan keputusan, dan menyampaikan argumentasi yang tidak selalu menyenangkan pihak berkuasa.


Dari perspektif analisis kritis, ada tiga kemungkinan yang patut dibedakan:

  1. Kritik menjadi lebih efektif. Argumentasi yang sebelumnya disampaikan di ruang publik kini dapat masuk ke proses pemberian pertimbangan kepada Presiden.

  2. Kritik mengalami penyesuaian institusional. Kritik tetap ada, tetapi bentuk dan penyampaiannya menyesuaikan mekanisme kerja lembaga.

  3. Kritik kehilangan daya korektif. Jika pertimbangan tidak lagi mampu menguji asumsi dasar kebijakan, fungsi kritis berisiko menyempit menjadi sekadar pembenaran atau penyempurnaan pelaksanaan.


Ketiga kemungkinan ini merupakan kerangka analisis, bukan kesimpulan mengenai apa yang telah dilakukan Rocky. Untuk menentukan mana yang benar-benar terjadi, diperlukan bukti tentang pelaksanaan tugasnya.


4. Ketika kritik menjadi pertimbangan yang tidak sepenuhnya terbuka


Salah satu tantangan terbesar dalam menguji peran baru Rocky adalah keterbatasan transparansi. Wantimpres merupakan lembaga yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Pemberitaan mengenai ketentuan kerjanya menjelaskan adanya pembatasan penyebarluasan isi nasihat dan pertimbangan kepada pihak lain.


Situasi ini menimbulkan persoalan akuntabilitas yang patut diperhatikan. Jika Rocky memberikan pertimbangan yang berbeda dari arah kebijakan pemerintah, masyarakat mungkin tidak mengetahui secara langsung argumentasi yang disampaikannya. Sebaliknya, jika suatu kebijakan kemudian diperbaiki, publik juga belum tentu dapat memastikan peran siapa yang memengaruhi perubahan tersebut.


Karena itu, penilaian terhadap Rocky tidak dapat hanya bergantung pada seberapa sering ia berbicara di media atau seberapa tajam pernyataannya setelah menjabat.


Ukuran yang lebih relevan adalah apakah fungsi penasihatannya menghasilkan proses pengambilan keputusan yang lebih cermat, mempertimbangkan risiko, dan terbuka terhadap koreksi.


Kerahasiaan nasihat tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kritik telah melemah. Namun, kerahasiaan membuat pengujian publik atas isi dan efektivitas kritik tersebut menjadi lebih terbatas.


Inilah dilema mendasar antara kerahasiaan nasihat presiden dan kebutuhan demokrasi akan pertanggungjawaban kekuasaan.


5. Lima indikator untuk menguji konsistensi pemikiran Rocky Gerung


Konsistensi seorang intelektual sebaiknya diuji melalui indikator yang dapat diamati, bukan dugaan tentang motif pribadi.


1. Konsistensi terhadap konstitusi

Apakah prinsip konstitusional tetap menjadi tolok ukur ketika suatu kebijakan pemerintah perlu dikoreksi, termasuk ketika koreksi itu tidak sejalan dengan preferensi penguasa?


2. Independensi penalaran

Apakah analisis tetap bertumpu pada fakta, logika, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata pada keselarasan dengan kepentingan institusi?


3. Keberanian mengidentifikasi ekses kebijakan

Apakah risiko, dampak yang merugikan masyarakat, dan kelemahan asumsi kebijakan benar-benar menjadi bahan pertimbangan?


4. Orientasi pada kepentingan publik

Apakah pertimbangan kebijakan memperhitungkan konsekuensi bagi masyarakat, bukan hanya keberhasilan administratif atau citra pemerintah?


5. Konsistensi antara ucapan dan rekam jejak

Apakah pandangan yang pernah disampaikan sebelum menjabat tetap tercermin dalam argumentasi dan sikap yang dapat diverifikasi setelah ia bergabung dengan Wantimpres?


Kelima indikator tersebut tidak dimaksudkan untuk memberi vonis terhadap Rocky. Fungsinya adalah menyediakan kerangka evaluasi yang adil, berbasis bukti, dan dapat digunakan secara berkelanjutan.


6. Pertanyaan yang lebih besar: apa arti independensi intelektual di dalam kekuasaan?


Peristiwa ini sesungguhnya melampaui sosok Rocky Gerung. Dalam demokrasi, intelektual dapat mengambil berbagai posisi: menjadi pengkritik, peneliti, penasihat, pembuat kebijakan, atau bagian dari institusi negara. Jabatan tidak otomatis menghapus independensi, sebagaimana posisi di luar pemerintahan tidak otomatis menjamin seseorang bebas dari kepentingan.


Independensi intelektual lebih tepat dipahami sebagai kemampuan mempertahankan standar penalaran, menguji bukti secara jujur, dan bersedia mengoreksi pendapat sendiri ketika fakta menunjukkan hal yang berbeda.


Dengan kerangka tersebut, pertanyaan mengenai Rocky bukan sekadar apakah ia akan tetap kritis setelah bergabung dengan Wantimpres.


Pertanyaan yang lebih substantif ialah: apakah daya kritis itu akan tetap mampu menguji kekuasaan, atau hanya bekerja di dalam batas-batas yang ditetapkan oleh kekuasaan?


Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dari pernyataan seusai pelantikan. Ia harus ditelusuri melalui perjalanan jabatan, argumentasi yang dapat diverifikasi, dan perkembangan kebijakan yang menjadi objek pertimbangan.


Kesimpulan: menguji pikiran, bukan menebak motif


Bergabungnya Rocky Gerung dengan Wantimpres menghadirkan perubahan posisi yang nyata, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan perubahan atau keberlanjutan prinsip intelektualnya.


Pernyataannya bahwa sikap dan pandangannya tetap sama merupakan komitmen yang patut dicatat. Namun, komitmen tersebut berbeda dari pembuktian bahwa fungsi kritisnya akan tetap efektif dalam struktur kekuasaan.


Pemikiran seorang intelektual perlu diuji melalui koherensi gagasan, keteguhan argumentasi, dan konsekuensi kebijakan, bukan melalui popularitas, retorika, atau prasangka mengenai motif pribadi.


Pada akhirnya, ukuran terpenting bukan apakah Rocky masih terdengar kritis, melainkan apakah pemikirannya mampu membantu menghasilkan keputusan yang lebih rasional, konstitusional, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.


Sebab, intelektualitas tidak berhenti pada kemampuan membongkar kelemahan kekuasaan. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan keberanian berpikir ketika seseorang telah menjadi bagian dari struktur yang memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan.


**Catatan: Tulisan ini merupakan analisis konseptual atas perubahan posisi kelembagaan Rocky Gerung dan pernyataan publiknya, bukan klaim mengenai isi nasihat internal Wantimpres atau motif pribadi yang belum terverifikasi.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page