top of page

MIRIS! AMBULANS PUSKESMAS TAK BISA DIPAKAI, IBU HAMIL DI KONAWE TERLANTAR SEJAM AKHIRNYA DIRUJUK NAIK PIKAP

2 days ago
3 min read

KAVITA MEDIA | KESEHATAN & KEBIJAKAN PUBLIK


KAVITA MEDIA NET, KONAWE SULAWESI TENGGARA — Di tengah berbagai janji peningkatan pelayanan publik, sebuah peristiwa di Kabupaten Konawe justru memunculkan pertanyaan serius tentang kesiapan layanan kesehatan dasar. Seorang ibu hamil yang membutuhkan penanganan persalinan dan rujukan ke rumah sakit dilaporkan harus menunggu sekitar satu jam di Puskesmas Tongauna sebelum akhirnya diantar menggunakan kendaraan bak terbuka atau pikap.


Peristiwa ini terjadi di Puskesmas Tongauna, Desa Olua Ao, Kecamatan Tongauna. Ambulans milik fasilitas kesehatan tersebut dilaporkan tidak dapat dioperasikan ketika pasien membutuhkan rujukan medis.


Akibatnya, kendaraan yang semestinya menjadi sarana transportasi darurat bagi pasien harus digantikan dengan pikap.


Ibu hamil membutuhkan penanganan tepat waktu, bukan kebingungan mencari kendaraan ketika rujukan ke rumah sakit diperlukan.


Ambulans Ada, tetapi Tak Bisa Diandalkan?


Persoalan mendasar yang muncul bukan semata-mata penggunaan pikap untuk mengantar pasien. Yang perlu dijelaskan adalah mengapa ambulans Puskesmas Tongauna tidak dapat digunakan ketika dibutuhkan.


Apakah kendaraan mengalami kerusakan? Apakah perawatan dan pemeriksaan kelayakannya berjalan rutin? Ataukah terdapat persoalan lain dalam kesiapan layanan rujukan?


Pertanyaan tersebut perlu dijawab oleh pihak Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe berdasarkan kondisi kendaraan, catatan pemeliharaan, serta prosedur pelayanan yang berlaku.


Sebab, keberadaan ambulans di fasilitas kesehatan tidak cukup hanya dibuktikan dengan adanya kendaraan. Ambulans harus berada dalam kondisi layak, siap digunakan, dan didukung petugas serta mekanisme rujukan yang jelas.


Jika kendaraan tidak dapat beroperasi, fasilitas kesehatan semestinya memiliki prosedur alternatif agar pasien yang membutuhkan pertolongan segera tidak terkatung-katung menunggu solusi.


Satu Jam Menunggu, Persoalan yang Tak Boleh Dianggap Sepele


Waktu sekitar satu jam yang dilaporkan dihabiskan pasien untuk menunggu sebelum akhirnya diberangkatkan menjadi bagian paling mengkhawatirkan dari peristiwa ini.


Dalam pelayanan kesehatan, ketepatan waktu dapat menjadi faktor penting, terutama ketika pasien membutuhkan rujukan untuk penanganan persalinan atau kondisi obstetri yang berpotensi mengalami komplikasi.


Meski demikian, belum tersedia informasi terperinci mengenai kondisi klinis ibu hamil tersebut, tingkat kegawatdaruratan saat datang ke Puskesmas, maupun alasan medis yang mendasari rujukan. Karena itu, dampak medis dari keterlambatan tersebut tidak dapat disimpulkan tanpa keterangan tenaga kesehatan dan data pasien yang relevan.


Namun, satu hal tetap jelas: sistem pelayanan rujukan harus mampu merespons kebutuhan pasien secara cepat dan terkoordinasi. Jangan sampai persoalan operasional kendaraan justru menambah hambatan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.


Dinas Kesehatan Konawe Harus Memberikan Penjelasan


Peristiwa ini semestinya menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe. Pemeriksaan tidak cukup berhenti pada pertanyaan mengapa ambulans rusak atau tidak dapat digunakan, tetapi juga harus mencakup kesiapan sistem rujukan secara keseluruhan.


Ada sejumlah hal yang layak mendapat penjelasan:

  • Kondisi ambulans: Apa penyebab kendaraan tidak dapat dioperasikan dan sejak kapan masalah tersebut diketahui?

  • Waktu respons: Mengapa pasien dilaporkan menunggu sekitar satu jam sebelum diberangkatkan?

  • Prosedur darurat: Apakah Puskesmas memiliki kendaraan pengganti atau mekanisme rujukan alternatif ketika ambulans tidak tersedia?

  • Pengawasan layanan: Siapa yang bertanggung jawab memastikan kesiapan sarana transportasi rujukan dan bagaimana evaluasi dilakukan?

  • Keselamatan pasien: Apakah proses pengantaran menggunakan pikap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi klinis dan kebutuhan keselamatan pasien?


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh, bukan sekadar mengetahui bahwa seorang ibu hamil akhirnya diberangkatkan menggunakan kendaraan alternatif.


Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas


Peristiwa di Tongauna mengingatkan bahwa mutu pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh gedung Puskesmas, ketersediaan tenaga medis, atau program yang diumumkan pemerintah. Kesiapan ambulans, koordinasi rujukan, dan kecepatan mengambil keputusan juga merupakan bagian penting dari layanan yang menyangkut keselamatan manusia.


Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Pemerintah daerah pun berkewajiban memastikan sarana yang disediakan benar-benar berfungsi ketika dibutuhkan.


Jangan sampai fasilitas kesehatan terlihat tersedia secara administratif, tetapi tidak siap memberikan dukungan operasional ketika pasien memerlukan pertolongan.


Ketika ambulans tak bisa digunakan dan pasien harus menunggu sekitar satu jam, persoalannya bukan lagi sekadar kendaraan. Ini menjadi pertanyaan tentang kesiapan pelayanan kesehatan dasar dan tanggung jawab pemerintah dalam memastikan sistem rujukan berjalan sebagaimana mestinya.


Dinas Kesehatan Konawe perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai kejadian ini, mengevaluasi penyebabnya, dan memastikan langkah perbaikan dilakukan agar persoalan serupa tidak terulang.


Sebab, bagi pasien yang membutuhkan pertolongan, pelayanan kesehatan bukan soal seberapa banyak fasilitas tercatat tersedia, melainkan apakah bantuan benar-benar datang ketika dibutuhkan.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page