top of page

Paradoks Azwan Mengaku Andi: Gelar Bangsawan Bugis di Mulut, Jejak Tionghoa di Tangan

Oct 23
2 min read

Ada paradoks yang begitu mencolok hingga hampir menyakitkan mata. Seorang tokoh yang sehari-hari memakai nama “Andi Azwan”, mengaku keturunan Bugis Bone asli, tiba-tiba kelimpungan ketika ditanya soal asal-usul gelar “Andi” di depan namanya.


Di akta kelahiran dan KTP, namanya cuma Azwan. Tidak ada “Andi”. Tidak ada “Amdi”. Hanya Azwan. Lalu bagaimana mungkin gelar kebangsawanan tertinggi suku Bugis-Makassar, yang secara adat hanya disandang keturunan ningrat, bisa menempel begitu saja?


“Andi” bukan nama panggilan tren, bukan juga gaya-gayaan. Di tanah Bugis, khususnya Bone, “Andi” adalah tanda darah biru. Ia melekat pada silsilah, bukan pada keinginan pribadi. Orang Bugis biasa tidak sembarangan memasang “Andi” di depan namanya. Ada Dewan Adat, ada lontara, ada pengakuan komunitas.


Kalau seseorang mengaku Bugis Bone murni tapi tidak mampu menjelaskan dari mana gelar itu berasal, maka yang muncul bukan kebanggaan, melainkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang sedang berbicara?


Paradoks ini makin menganga ketika diketahui bahwa Azwan adalah salah satu pelopor sekaligus pengurus Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (PETIR). Organisasi yang secara tegas merupakan perkumpulan orang Tionghoa. Bahkan di sejumlah pemberitaan dan perbincangan publik, namanya dikaitkan dengan alias Goh Peng Lie.


Seorang yang mengaku darah Bugis Bone murni justru menjadi salah satu pendiri dan pengurus organisasi etnis Tionghoa. Ini bukan soal kebhinekaan atau toleransi itu bagus. Ini soal konsistensi identitas.


Bagaimana mungkin seseorang yang bersikeras mengklaim kemurnian Bugis Bone justru aktif membesarkan wadah yang identik dengan komunitas Tionghoa? Apakah ini fleksibilitas identitas yang luar biasa, atau sekadar opportunisme yang sudah terbiasa berganti baju sesuai kebutuhan panggung?


Di ruang sidang, ketika ditanya soal organisasi PETIR, jawaban yang muncul terasa longgar. Soal “Andi” di depan nama, justru semakin tidak jelas. Kalau benar keturunan bangsawan Bugis, mestinya penjelasannya mudah dan bangga. Justru karena tidak bisa menjawab dengan lurus, publik pun berhak meragukan.


Identitas bukan mainan politik. Gelar “Andi” punya bobot sejarah dan kehormatan di Sulawesi Selatan. Memakainya sembarangan sama saja dengan merendahkan orang-orang yang memang memiliki hak atas gelar itu. Begitu pula dengan keterlibatan di organisasi Tionghoa: sah-sah saja, asal jangan kemudian berpura-pura menjadi “Bugis murni” seolah-olah latar belakang yang lain tidak ada.


Paradoks Azwan ini bukan sekadar urusan nama. Ia menjadi cermin bagaimana sebagian orang memperlakukan identitas sebagai aksesori yang bisa diganti-ganti: hari ini bangsawan Bugis, besok pengurus ormas Tionghoa, lusa entah apa lagi.


Di tengah masyarakat yang masih menghargai kejujuran dan kejelasan asal-usul, sikap seperti ini hanya menyisakan satu kesan: bunglon yang terlalu percaya diri.


Kalau sudah mengaku Andi, buktikan dengan silsilah. Kalau sudah aktif di PETIR, jangan malu mengakui keterikatan itu. Yang tidak pantas adalah mengklaim kemurnian di satu sisi sambil memegang posisi di sisi yang bertolak belakang, lalu kelimpungan ketika ditanya. Identitas yang bolak-balik akhirnya bukan kebanggaan, melainkan beban yang semakin berat.


KAVITA MEDIA berpandangan bahwa ukuran kredibilitas seseorang bukanlah apakah ia berasal dari satu etnis atau etnis lainnya. Ukurannya adalah kejujuran dalam memberikan keterangan, konsistensi dalam menyampaikan fakta, dan kesediaan mempertanggungjawabkan pernyataan yang dibuat di ruang publik.




 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page