Kurikulum Berganti, Guru Terpinggirkan: Pendidikan Indonesia Antara Aturan dan Realita
Dr. Ruslan Bahtiar, M.Pd (Pengamat dan Pemerhati Pendidikan LSP3I)

Kurikulum terus berganti, jargon “progresif” dan “visioner” selalu dipasang di atas kertas, tapi guru di lapangan tetap kebingungan. Negara berbicara sebagai pakar, sementara mereka yang paling memahami murid guru cuma dijadikan “pelaksana perintah.” Hasilnya? Pendidikan berantakan, murid dirugikan, dan pengalaman guru diabaikan.
Perubahan kurikulum di Indonesia kerap dijual dengan bahasa bombastis: progresif, visioner, modern. Namun, di lapangan, realitanya jauh dari kata keren. Guru-guru kebingungan menghadapi aturan main yang selalu berubah, tanpa pedoman praktis yang bisa mereka gunakan di kelas.
Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam istilah akademik disebut epistemic injustice ketidakadilan pengetahuan. Guru, yang sehari-hari berada di kelas dan memahami karakter murid, tidak dianggap sebagai sumber keahlian. Mereka hanya dipandang sebagai pelaksana instruksi, bukan profesional yang punya insight tentang kebutuhan belajar siswa.
Masalahnya diperparah oleh regulasi top-down yang sok tahu. Aturan dibuat di kantor pusat oleh birokrat yang jarang masuk kelas, lalu diterapkan ke seluruh sekolah. Tidak ada dialog, tidak ada uji coba di lapangan, hanya “ikuti perintah”. Akibatnya, guru terjebak antara kepatuhan administratif dan kebutuhan nyata murid.
Di sisi lain, guru dipaksa menavigasi aturan administrasi yang kompleks, sementara inovasi pembelajaran mereka dibatasi. Guru yang seharusnya bisa menyesuaikan metode belajar sesuai kebutuhan murid, diperlakukan layaknya robot yang dikontrol dari jauh.
Efeknya jelas: pendidikan nasional stagnan. Ketika pengalaman nyata guru diabaikan, teori di kertas akan terus bertabrakan dengan kenyataan di kelas. Murid tidak mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan cita-cita kurikulum progresif tetap tinggal di papan tulis.
Tanpa pengakuan penuh terhadap peran guru dan dialog yang nyata antara pusat dan lapangan, pendidikan Indonesia akan terus terjebak dalam siklus kebijakan “visioner” yang tidak pernah terealisasi.
GuruTerpinggirkan #KurikulumGontaGanti #PendidikanBerantakan #EpistemicInjustice #ReformasiPendidikan



Comments