Said Didu: Melawan Oligarki Ibarat Mengambil Madu dari Sarang Tawon

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu kembali melontarkan kritik keras terhadap relasi kekuasaan dan oligarki di Indonesia. Dalam pernyataan terbarunya, ia mengibaratkan upaya melawan oligarki seperti “mengambil madu dari sarang tawon” berisiko tinggi dan sarat perlawanan.
Menurut Said Didu, oligarki adalah kelompok yang telah lama menguasai dan menikmati “madu” dari pengelolaan sumber daya negara. Madu yang dimaksud adalah keuntungan besar dari penguasaan aset strategis, konsesi sumber daya alam, proyek infrastruktur, hingga kebijakan ekonomi yang dinilai lebih menguntungkan segelintir elite dibanding rakyat luas.
“Melawan oligarki itu seperti mengambil madu dari sarang tawon. Tawonnya tentu tidak akan diam,” demikian pernyataan Said Didu yang beredar luas di media sosial.
Metafora Politik: Tongkat, Obor, dan Korek Api
Dalam analoginya, Said Didu menyebut Presiden Prabowo Subianto disebut telah memiliki “tongkat” dan “obor” sebagai simbol kekuasaan formal dan legitimasi politik untuk menghadapi oligarki. Namun, ia menilai masih ada satu elemen penting yang belum dimiliki: “korek api” untuk menyalakan obor tersebut.
Ia menyebut korek api itu berada di tangan kelompok yang ia istilahkan sebagai “geng SOP” singkatan dari Solo, Oligarki, dan Parcok yang menurutnya masih memiliki pengaruh signifikan dalam konfigurasi kekuasaan.
Tanpa “korek api”, kata Said Didu, obor perlawanan terhadap oligarki tidak akan menyala. Artinya, meskipun ada niat politik untuk melakukan pembenahan dan mengembalikan aset negara bagi kepentingan rakyat, langkah tersebut berpotensi terhambat oleh kekuatan ekonomi-politik yang sudah mengakar.
Oligarki dan Struktur Kekuasaan
Pernyataan Said Didu kembali mengangkat perdebatan lama tentang oligarki di Indonesia yakni dominasi segelintir elite ekonomi dalam memengaruhi kebijakan publik. Dalam sejumlah kajian politik, oligarki dipahami sebagai kondisi ketika kekuasaan ekonomi dan politik terkonsentrasi pada kelompok kecil yang memiliki akses terhadap sumber daya strategis.
Kritik terhadap oligarki menguat dalam satu dekade terakhir, terutama dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, proyek strategis nasional, serta kebijakan yang dinilai menguntungkan korporasi besar.
Namun demikian, konsep “melawan oligarki” tidaklah sederhana. Struktur ekonomi Indonesia selama ini memang ditopang oleh konglomerasi besar dan jejaring bisnis-politik yang saling terkait. Perubahan radikal berpotensi memicu resistensi kuat dari kelompok yang selama ini diuntungkan.
Ujian Kepemimpinan
Pernyataan Said Didu juga secara implisit menjadi ujian bagi kepemimpinan Presiden Prabowo. Apakah pemerintahan yang baru terbentuk mampu mengambil jarak dari kepentingan oligarkis? Ataukah justru terjebak dalam kompromi politik yang membuat agenda reformasi struktural sulit dijalankan?
Dalam sistem demokrasi elektoral, dukungan politik sering kali bergantung pada koalisi luas yang melibatkan berbagai kepentingan, termasuk kelompok bisnis besar. Di sinilah dilema muncul: bagaimana menjalankan agenda pro-rakyat tanpa mengguncang stabilitas politik dan ekonomi?
Retorika atau Agenda Nyata?
Sejumlah pengamat menilai narasi perlawanan terhadap oligarki kerap menjadi retorika populer, terutama di tengah ketimpangan ekonomi yang masih tinggi. Namun publik menunggu lebih dari sekadar metafora.
Jika benar ada komitmen untuk “mengambil madu” dan mengembalikannya kepada rakyat, maka langkah konkret yang bisa diuji antara lain: transparansi pengelolaan aset negara, evaluasi konsesi sumber daya alam, penegakan hukum terhadap praktik rente, serta pembatasan konflik kepentingan dalam kebijakan publik.
Tanpa langkah nyata dan terukur, perlawanan terhadap oligarki akan berhenti pada simbolisme.
Politik dan Realitas Kekuasaan
Metafora tongkat, obor, dan korek api yang disampaikan Said Didu menggambarkan kompleksitas pertarungan kekuasaan di balik layar politik nasional. Ia mengisyaratkan bahwa niat saja tidak cukup; dibutuhkan keberanian, instrumen, dan dukungan politik yang solid untuk menghadapi kelompok yang telah lama mapan.
Publik kini menanti, apakah pemerintahan Prabowo benar-benar akan menyalakan “obor” perubahan, ataukah sarang tawon itu tetap utuh, dengan madu yang terus dinikmati segelintir elite.
Debat tentang oligarki bukan sekadar wacana politik. Ia menyentuh jantung persoalan keadilan ekonomi dan distribusi kesejahteraan. Dan pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kekuasaan, tetapi masa depan tata kelola negara itu sendiri.



Comments