top of page
Search

SASTIA PRAMA PUTRI: ILMUAN DARI ITB KINI JADI PROFESOR ELITE DI JEPANG

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
Oct 12
5 min read

Kavita Media Net, JAKARTA — Perempuan yang menjadi ibu kerap dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tidak perlu dipertentangkan: mengurus keluarga atau mengejar cita-cita, mendampingi anak atau membangun karier, menjalankan peran domestik atau memimpin dunia akademik. Seolah-olah, ketika seorang perempuan memilih menjadi ibu, ambisi intelektualnya harus ikut dikecilkan. Sastia Prama Putri mematahkan cara pandang semacam itu.


Namun, keberhasilannya seharusnya tidak berhenti menjadi kisah inspiratif. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa perjuangan perempuan untuk membuktikan kapasitasnya masih harus berhadapan dengan tembok stereotip dan tantangan struktural?


Sebagai akademisi yang berkiprah di Osaka University, Jepang, Sastia menunjukkan bahwa identitas sebagai ibu tidak menghapus kapasitas seorang perempuan untuk berkembang, memimpin, dan berkontribusi dalam ilmu pengetahuan.


Perjalanan akademiknya termasuk perjuangan menyelesaikan studi ketika hamil tua, menuntaskan pendidikan doktoral dalam waktu singkat, hingga membangun kolaborasi riset internasional menggambarkan ketekunan, disiplin, dan keberanian menjaga cita-cita di tengah berbagai tantangan kehidupan.


Ia membuktikan bahwa menjadi ibu dan menjadi ilmuwan bukan dua pilihan yang harus saling meniadakan. Tetapi, jangan keliru membaca pesan dari kisah ini. Sastia bukan bukti bahwa perempuan harus mampu menanggung semua beban sendirian. Ia justru mengingatkan kita bahwa potensi manusia membutuhkan kesempatan, dukungan, dan lingkungan yang memungkinkan kemampuan itu berkembang. Melampaui stereotip: perempuan bukan sekadar objek inspirasi


Kisah perempuan berprestasi sering kali dibingkai dengan narasi perjuangan yang mengagumkan. Mereka dipuji karena mampu bekerja keras, mengatasi keterbatasan, menjalankan tanggung jawab keluarga, dan tetap mencapai puncak karier. Narasi seperti itu penting.


Namun, ada risiko yang perlu dikritisi: masyarakat terlalu sibuk memuji ketangguhan perempuan, tetapi kurang serius membenahi sistem yang membuat perjuangan mereka menjadi lebih berat.


Perempuan tidak semestinya harus membuktikan dirinya dua kali lebih keras hanya untuk memperoleh pengakuan yang setara. Menjadi ibu juga tidak seharusnya dipandang sebagai kekurangan dalam perjalanan akademik atau profesional.


Dunia pendidikan dan riset membutuhkan ukuran yang lebih adil: kualitas gagasan, ketajaman analisis, integritas akademik, produktivitas ilmiah, serta kontribusi nyata terhadap perkembangan pengetahuan.


Gender dan status perkawinan atau keibuan bukan alasan untuk membatasi kesempatan seseorang. Karena itu, keberhasilan Sastia bukan semata-mata tentang seorang perempuan yang berhasil menembus batas. Kisahnya juga menantang institusi pendidikan, lembaga riset, dan masyarakat untuk meninjau kembali cara mereka memandang perempuan dalam dunia ilmu pengetahuan.


Yang harus diubah bukan hanya cara perempuan melihat dirinya, tetapi juga cara sistem memperlakukan perempuan. Indonesia harus berhenti sekadar bertepuk tangan


Indonesia tidak kekurangan anak muda cerdas, akademisi potensial, dan peneliti yang memiliki kapasitas untuk bersaing secara internasional. Persoalan mendasarnya adalah bagaimana potensi tersebut dapat tumbuh menjadi kekuatan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.


Kita kerap merasa bangga ketika ilmuwan Indonesia mendapat pengakuan di luar negeri. Nama mereka menjadi simbol bahwa anak bangsa mampu bersaing di panggung global.


Kebanggaan itu wajar. Namun, kebanggaan saja tidak cukup untuk membangun ekosistem riset yang kuat.


Pertanyaan yang harus diajukan jauh lebih mendasar: apakah peneliti di Indonesia memiliki pendanaan yang memadai? Apakah laboratorium dan infrastruktur riset tersedia dengan kualitas yang layak? Apakah rekrutmen, promosi akademik, dan pemberian hibah berlangsung secara transparan dan berbasis kompetensi? Apakah peneliti perempuan memperoleh kesempatan yang adil untuk memimpin proyek, membangun jejaring internasional, dan mengembangkan karier?


Pertanyaan lainnya tidak kalah penting: apakah institusi akademik menyediakan kebijakan yang masuk akal bagi peneliti yang sedang hamil, melahirkan, menyusui, atau menjalankan tanggung jawab pengasuhan?


Dukungan semacam itu bukan perlakuan istimewa. Itu merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan akademik yang adil, inklusif, dan produktif.


Ekosistem riset yang sehat tidak hanya menuntut peneliti bekerja keras. Sistem juga harus memastikan bahwa kerja keras mereka memiliki peluang untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan manfaat sosial. Persoalannya bukan sekadar ilmuwan yang pergi, melainkan sistem yang harus dibenahi


Ketika ilmuwan Indonesia meniti karier di luar negeri, kita tidak seharusnya terburu-buru menganggapnya sebagai kegagalan nasional. Mobilitas akademik merupakan bagian wajar dari perkembangan ilmu pengetahuan global. Peneliti dapat belajar, berkolaborasi, dan menghasilkan penemuan di berbagai negara.


Yang patut menjadi perhatian adalah apakah Indonesia mampu membangun hubungan riset yang kuat dengan para ilmuwan tersebut, membuka ruang kolaborasi, dan menyediakan kondisi yang memungkinkan pengetahuan serta inovasi memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan pendidikan dan riset tidak cukup dilihat dari jumlah lulusan, gelar akademik, atau seremoni penghargaan.


Ukuran yang lebih substantif mencakup kualitas publikasi, keberlanjutan pendanaan, kapasitas laboratorium, perlindungan integritas akademik, kesempatan karier yang setara, serta dampak hasil penelitian terhadap persoalan nyata masyarakat.


Negara harus hadir bukan hanya ketika ilmuwannya memperoleh pengakuan internasional, melainkan sejak mereka mulai membangun kompetensi, merintis penelitian, menghadapi keterbatasan fasilitas, dan memperjuangkan gagasan.


Jangan sampai kita merayakan hasil yang mendunia, tetapi mengabaikan proses yang membutuhkan dukungan di dalam negeri.


Dari inspirasi menuju perubahan kebijakan


Kisah Sastia Prama Putri seharusnya mendorong perubahan yang konkret, bukan sekadar menghasilkan kutipan motivasi di media sosial. Perguruan tinggi dan lembaga riset perlu memperkuat sejumlah agenda.


Pertama, memastikan akses pendanaan penelitian yang kompetitif, transparan, dan berbasis kualitas ilmiah.


Kedua, memperluas kesempatan kepemimpinan akademik bagi perempuan melalui proses seleksi yang adil dan bebas diskriminasi.


Ketiga, menyediakan kebijakan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan akademik dan tanggung jawab keluarga, termasuk pengaturan kerja yang relevan, fasilitas pengasuhan, serta perlindungan terhadap hak peneliti.


Keempat, memperkuat kolaborasi internasional agar ilmuwan Indonesia dapat membangun jejaring, mengakses perkembangan ilmu pengetahuan terbaru, dan mengembangkan riset bersama.


Kelima, memastikan hasil penelitian tidak berhenti di jurnal atau ruang konferensi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi inovasi, perbaikan kebijakan publik, pengembangan industri, dan penyelesaian persoalan masyarakat.


Agenda tersebut membutuhkan komitmen pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pendanaan, dunia usaha, dan komunitas ilmiah. Tidak ada satu pihak yang dapat membangun ekosistem riset berkualitas sendirian.


Perempuan berhak bermimpi. Negara berkewajiban membuka kesempatan.


Sastia Prama Putri memberi pesan kuat kepada generasi muda, khususnya perempuan: cita-cita intelektual tidak harus berakhir ketika seseorang menjalankan peran sebagai ibu. Jalan menuju keberhasilan memang tidak selalu mudah, tetapi identitas sebagai perempuan bukan alasan untuk membatasi ambisi dan kapasitas diri.


Namun, pesan motivasi itu harus dibaca secara utuh. Ketekunan individu memang penting, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan minimnya dukungan institusional.


Tidak semua orang memulai perjalanan dari kondisi yang sama. Tidak semua peneliti memiliki akses terhadap fasilitas, pendanaan, jejaring, dan dukungan keluarga yang setara. Karena itu, membangun sistem yang adil merupakan bagian penting dari upaya membuka kesempatan bagi lebih banyak talenta untuk berkembang.


Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan yang mampu menghasilkan pengetahuan baru, mengembangkan inovasi, dan menjawab persoalan bangsa. Untuk mewujudkannya, kita tidak cukup mengandalkan individu-individu luar biasa yang mampu bertahan di tengah keterbatasan.


Kita membutuhkan institusi yang kuat, kebijakan yang konsisten, dan budaya akademik yang menghargai kompetensi tanpa dibatasi stereotip.


Sastia menginspirasi melalui pencapaiannya. Tantangan Indonesia adalah mengubah inspirasi itu menjadi ekosistem yang memungkinkan lebih banyak perempuan dan ilmuwan muda mencapai potensi terbaik mereka.


Sebab, bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan tidak hanya bertepuk tangan ketika ilmuwannya mendunia. Bangsa itu menyiapkan ruang, fasilitas, pendanaan, dan kesempatan agar kecerdasan dapat tumbuh sejak awal.


Jangan hanya bangga pada ilmuwan Indonesia yang berhasil menembus dunia. Bangunlah Indonesia yang membuat lebih banyak ilmuwan mampu berkembang, memimpin, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi kemanusiaan.


 
 
 

Comments


bottom of page