top of page
Search

SEKOLAH DI JEPANG: MURID MEMBERSIHKAN KELAS, TOILET, DAN LINGKUNGAN SEKOLAH SENDIRI. BUKAN SEKADAR KEBERSIHAN, TETAPI PENDIDIKAN KARAKTER SEJAK DINI

Writer: KavitaMedia
KavitaMedia
2 days ago
5 min read
Soji - Kegiatan bersih-bersih yang dilakukan secara terjadwal
Soji - Kegiatan bersih-bersih yang dilakukan secara terjadwal

KAVITA Media Net — Ada satu praktik pendidikan di Jepang yang menarik untuk dipelajari, terutama ketika membandingkannya dengan budaya pengelolaan sekolah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di banyak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Jepang, kegiatan membersihkan lingkungan sekolah bukan sepenuhnya diserahkan kepada petugas kebersihan profesional.


Justru, para siswa menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan sekolah. Mereka menyapu lantai, mengepel ruang kelas, membersihkan koridor, merapikan fasilitas umum, mengelola sampah, bahkan di sejumlah sekolah turut membersihkan toilet. Guru dan tenaga sekolah juga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Praktik ini dikenal dengan istilah O-soji atau Soji, yakni kegiatan bersih-bersih yang dilakukan secara terjadwal dan bergiliran.


Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan: bukan berarti seluruh sekolah di Jepang sama sekali tidak menggunakan petugas kebersihan atau perusahaan jasa kebersihan. Yang menjadi ciri khas sistem pendidikan Jepang adalah keterlibatan aktif siswa dalam menjaga lingkungan sekolah sebagai bagian dari proses pendidikan.


Penelitian mengenai praktik kebersihan sekolah dasar di Jepang yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics International pada 2022 memberikan gambaran menarik. Dari survei terhadap 273 sekolah dasar dan SMP negeri, sebanyak 53 persen sekolah melibatkan siswa sebagai pelaksana utama pembersihan toilet, sementara 40 persen melibatkan siswa bersama guru, staf sekolah, atau perusahaan kebersihan.


Hanya sebagian kecil yang sepenuhnya menyerahkan kegiatan tersebut kepada petugas kebersihan atau perusahaan jasa profesional. Fakta ini menunjukkan bahwa kebersihan sekolah di Jepang bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif komunitas pendidikan.


O-soji: Ketika membersihkan sekolah menjadi bagian dari pendidikan


Di Jepang, kegiatan membersihkan sekolah tidak dipandang sebagai pekerjaan rendahan atau tugas tambahan yang tidak berkaitan dengan pembelajaran.

Sebaliknya, kegiatan tersebut memiliki tujuan pendidikan yang jelas: membentuk kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan kemampuan bekerja sama.


Siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok mendapatkan wilayah tugas tertentu, kemudian menjalankan tanggung jawabnya secara bergiliran. Ada yang membersihkan ruang kelas, menyapu lorong, mengepel lantai, merapikan meja dan kursi, hingga menjaga kebersihan area bersama.


Kegiatan ini umumnya dilaksanakan setelah makan siang atau setelah pelajaran tertentu, dengan pengawasan guru. Melalui sistem tersebut, anak-anak dibiasakan memahami bahwa fasilitas sekolah bukan semata-mata milik pemerintah, kepala sekolah, atau guru. Sekolah merupakan ruang bersama yang harus dijaga oleh semua orang yang menggunakannya.


Pesan pendidikannya sederhana, tetapi mendasar: siapa pun yang menggunakan fasilitas bersama mempunyai tanggung jawab untuk merawatnya.


Bukan sekadar bersih-bersih, tetapi membangun karakter


Hal yang lebih penting dari praktik O-soji adalah nilai-nilai karakter yang ditanamkan melalui pengalaman langsung.


  • Pertama, tanggung jawab pribadi. Anak-anak belajar menyelesaikan tugas tanpa harus selalu menunggu perintah. Mereka memahami bahwa kebersihan lingkungan tidak muncul dengan sendirinya, tetapi membutuhkan keterlibatan setiap orang.


  • Kedua, disiplin dan konsistensi. Membersihkan sekolah dilakukan secara teratur. Anak-anak belajar bahwa tanggung jawab bukan hanya dilakukan ketika ada guru yang mengawasi, melainkan menjadi kebiasaan.


  • Ketiga, kesetaraan sosial. Tidak ada anggapan bahwa pekerjaan membersihkan lingkungan hanya pantas dilakukan oleh kelompok tertentu. Semua siswa memperoleh giliran sesuai pembagian tugas.


  • Keempat, empati dan penghargaan terhadap pekerjaan orang lain. Ketika siswa merasakan sendiri bagaimana membersihkan toilet, menyapu lantai, dan mengelola sampah, mereka diharapkan lebih menghargai pekerjaan petugas kebersihan.


  • Kelima, gotong royong. Pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama-sama. Siswa juga belajar bahwa kepentingan bersama membutuhkan kontribusi setiap anggota kelompok.


Dengan demikian, ruang kelas, koridor, dan toilet bukan hanya fasilitas fisik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sosial.


Tokuiku dan pendidikan moral: Belajar menjadi manusia sebelum mengejar nilai akademik


Praktik O-soji berkaitan erat dengan filosofi pendidikan karakter atau pendidikan moral di Jepang yang sering dikaitkan dengan istilah Tokuiku. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan siswa yang unggul dalam matematika, sains, bahasa, atau teknologi. Pendidikan juga diharapkan membentuk manusia yang mampu hidup bersama orang lain, menghargai lingkungan, memahami tanggung jawab, dan berkontribusi bagi masyarakat.


Dalam kerangka kurikulum Jepang, kegiatan kebersihan sekolah berkaitan dengan Tokubetsu Katsudo atau Special Activities (kegiatan khusus). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (MEXT) menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pengalaman pendidikan yang mendukung perkembangan kepribadian dan kemampuan sosial siswa.


Pedoman kurikulum 2017 juga menekankan pentingnya memahami makna pekerjaan, menjalankan peran sebagai anggota kelompok, serta menumbuhkan kesadaran untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.


Artinya, siswa tidak cukup hanya mengetahui teori tentang tanggung jawab. Mereka harus mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Mengapa toilet pun dibersihkan oleh siswa?


Salah satu aspek yang sering membuat masyarakat luar Jepang terkejut adalah keterlibatan siswa dalam membersihkan toilet sekolah. Bagi sebagian masyarakat, pekerjaan tersebut mungkin dianggap terlalu berat atau tidak pantas dibebankan kepada anak-anak. Namun, dalam praktik pendidikan Jepang, kegiatan itu dipandang sebagai bagian dari pembelajaran tanggung jawab terhadap fasilitas bersama.


Tentu saja, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan usia, keselamatan, kesehatan, dan kemampuan siswa. Penggunaan bahan pembersih juga dibatasi untuk menghindari risiko kecelakaan maupun alergi. Tidak semua sekolah menerapkan aturan yang sama. Ada sekolah yang melibatkan petugas profesional untuk pekerjaan tertentu, terutama pembersihan mendalam dan pemeliharaan fasilitas.


Dengan demikian, prinsipnya bukan menghapus profesi petugas kebersihan, melainkan mengajarkan siswa agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab kebersihan kepada orang lain.


Pelajaran penting bagi Indonesia: Sekolah jangan hanya mengajarkan teori karakter


Praktik pendidikan Jepang tersebut menyimpan pertanyaan penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Selama ini, sekolah-sekolah di Indonesia telah mengenalkan berbagai nilai karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, dan kemandirian. Nilai-nilai tersebut bahkan menjadi bagian dari berbagai program pendidikan karakter.


Namun, persoalannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata. Anak-anak dapat menghafalkan pengertian gotong royong, tetapi apakah mereka terbiasa bekerja bersama menjaga lingkungan sekolah? Mereka dapat menjawab soal tentang tanggung jawab dalam ujian, tetapi apakah mereka merasa bertanggung jawab ketika melihat sampah berserakan di halaman sekolah?

Mereka dapat mempelajari pentingnya menghargai pekerjaan orang lain, tetapi apakah mereka benar-benar menghormati petugas kebersihan?

Di sinilah praktik O-soji menawarkan pelajaran yang layak dipertimbangkan.


Sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga laboratorium pembentukan perilaku sosial. Pendidikan karakter akan kehilangan maknanya apabila berhenti pada slogan, poster, ceramah, dan materi pelajaran tanpa pembiasaan konkret.


Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi gotong royong. Namun, nilai tersebut perlu dihidupkan kembali melalui praktik pendidikan yang konsisten. Sekolah dapat mengembangkan kegiatan kebersihan bersama dengan pembagian tugas yang adil, pendampingan guru, standar keselamatan, serta penyesuaian berdasarkan usia dan kondisi siswa.


Kegiatan ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan tenaga kebersihan profesional, mengabaikan hak pekerja, atau membebankan pekerjaan berbahaya kepada anak-anak. Pendidikan karakter dan pemenuhan standar kebersihan harus berjalan beriringan.


Pendidikan hebat bukan hanya menghasilkan anak pintar, tetapi juga manusia yang bertanggung jawab


Ada satu pesan mendasar dari tradisi O-soji yang patut direnungkan: kualitas pendidikan tidak hanya terlihat dari nilai ujian, prestasi akademik, atau banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi ternama. Kualitas pendidikan juga tercermin dari perilaku anak ketika tidak ada guru yang mengawasi, ketika tidak ada penghargaan yang menunggu, dan ketika tidak ada orang yang menyuruh mereka melakukan sesuatu.


Apakah mereka tetap menjaga kebersihan? Apakah mereka bersedia membantu orang lain? Apakah mereka menghargai fasilitas umum? Apakah mereka memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan tanggung jawab bersama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menyentuh inti pendidikan karakter.


Jepang memberikan contoh bahwa pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah panjang. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui rutinitas sederhana yang dilakukan terus-menerus.


Sebab, anak yang hanya diajarkan untuk menjadi pintar belum tentu tumbuh menjadi manusia yang peduli. Anak yang dibiasakan bertanggung jawab sejak dini memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang hak yang diterima, tetapi juga kewajiban yang harus dijalankan.


Sekolah yang bersih bukan hanya sekolah yang memiliki petugas kebersihan terbaik. Sekolah yang memiliki budaya kebersihan adalah sekolah yang berhasil menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab semua orang.


Dan mungkin inilah pelajaran terbesar dari Jepang untuk Indonesia: jangan hanya mendidik anak agar pandai menjawab soal ujian. Didiklah mereka agar tahu bagaimana menjalani kehidupan.


 
 
 

Comments


bottom of page