top of page

Diterima 14 Kampus Dunia, Penerima Beasiswa Garuda Ini Bangun Startup AI di UC San Diego

4 days ago
3 min read

KAVITA Media Net, Jakarta — Clarissa Aurelia Nahid Saputra, penerima Beasiswa Garuda Kemdiktisaintek Batch 1 tahun 2025, memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan di University of California San Diego (UC San Diego), Amerika Serikat, tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun inovasi teknologi.


Pada tahun pertamanya di UC San Diego, Clarissa bersama sejumlah rekannya mengembangkan Clean AI Labs (tryclean.ai), sebuah startup B2B yang membantu perusahaan menemukan calon pembeli berdasarkan data riil aktivitas bisnis, antara lain pengiriman, perizinan, dan pergantian pemasok.


Startup tersebut tercatat memperoleh pendanaan sebesar US$50.000 dari Jackson Square Ventures dan US$500.000 dari Y Combinator.


Perjalanan Clarissa menuju UC San Diego juga ditandai dengan capaian akademik yang cukup panjang. Sebelum menentukan pilihan, ia memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari 14 perguruan tinggi di luar negeri.


Sejumlah kampus yang menerima Clarissa antara lain National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC), UC San Diego, UC Davis, University of Edinburgh, dan King's College London.


Dari berbagai pilihan tersebut, Clarissa memilih UC San Diego dengan mempertimbangkan kesesuaian kampus tersebut dengan minat dan tujuan pendidikannya.


Dari Olimpiade Fisika ke Kampus Dunia


Sebelum melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat, Clarissa telah aktif mengembangkan kemampuan akademik dan kepemimpinannya. Ia pernah mengikuti International Physics Olympiad (IPhO) dan Asian Physics Olympiad (APhO) serta meraih honorable mention.

Ia juga pernah dipercaya sebagai wakil ketua OSIS ketika bersekolah di SMANU M. H. Thamrin.


“Sebelumnya, saya telah memetakan tujuan pendidikan sejak duduk di bangku SMANU M. H. Thamrin melalui berbagai kegiatan pengembangan diri, termasuk mengikuti International Physics Olympiad dan menjadi wakil ketua OSIS,” ujar Clarissa melalui pesan instan, Selasa (29/9).


Rangkaian pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari persiapannya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk ketika mengikuti program persiapan Beasiswa Indonesia Maju.


Dari program tersebut, Clarissa mengenal Beasiswa Garuda. Ia kemudian memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat.


“Saya pertama mengetahui tentang Beasiswa Garuda karena partisipasi saya di program persiapan Beasiswa Indonesia Maju. Saya ingat, saya diberitahu bahwa saya diterima Beasiswa Garuda dalam waktu yang berdekatan dengan saat saya diterima beasiswa lain. Pada akhirnya, saya memilih (Beasiswa) Garuda karena memberikan kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat, persisnya di UC San Diego,” ungkapnya.


Beasiswa Tak Sekadar Dukungan Finansial


Selama menjadi penerima Beasiswa Garuda, Clarissa memperoleh dukungan dalam berbagai tahapan persiapan studinya. Dukungan tersebut antara lain berkaitan dengan proses administratif, pembuatan dokumen resmi, hingga koneksi dengan kedutaan besar setempat.


Bagi Clarissa, manfaat program tersebut tidak berhenti pada dukungan finansial. Lingkungan sesama penerima beasiswa juga menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan membangun jejaring.


“Menurut saya, Beasiswa Garuda tidak hanya membantu saya secara finansial namun juga secara sosial. Lewat beasiswa ini, saya bisa ketemu teman-teman yang sangat ambisius, dan saya sangat senang berbicara dengan mereka tentang hal-hal yang sedang terjadi di Indonesia maupun dunia global,” tuturnya.


Pengalaman belajar di UC San Diego turut memperluas ruang pengembangan dirinya. Selain kegiatan akademik, Clarissa terlibat dalam riset robotika dan mengikuti berbagai hackathon.


Interaksi dengan lingkungan akademik dan teknologi di Amerika Serikat juga menjadi bagian dari proses pembentukan pengalaman akademik maupun personalnya.


Ingin Kembangkan Robotika dan AI Hardware


Memasuki tahap berikutnya dalam perjalanan pendidikannya, Clarissa berencana terus mengembangkan teknologi yang telah dibangunnya agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.


Ia juga ingin memperdalam bidang robotika dan AI hardware, dua bidang teknologi yang menjadi bagian dari minat pengembangannya.


Bagi Clarissa, pendidikan di luar negeri bukan sekadar persoalan memperoleh gelar. Kesempatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas, membangun jejaring, menghasilkan inovasi, dan membawa pengalaman tersebut ke konteks yang lebih luas.


Ia mengingatkan pelajar Indonesia yang sedang mempersiapkan diri untuk memperoleh Beasiswa Garuda agar tidak hanya berorientasi pada hasil akhir.


“Bagi sebagian orang, kesempatan untuk mengenyam pendidikan mungkin terasa seperti hal yang biasa. Namun, kita perlu ingat bahwa masih banyak saudara kita yang bahkan belum sempat memikirkan hal ini, karena mereka masih harus berjuang dari nol untuk sampai ke titik yang sama,” kata Clarissa.


Menurutnya, setiap proses, termasuk kegagalan, merupakan bagian dari perjalanan pembentukan diri.


“Jangan lupa untuk terus menjadi pribadi yang introspektif dan peduli sekitar. Semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang meraih Beasiswa Garuda! Ingat, dunia sangatlah besar, banyak sekali yang bisa dipelajari,” pesannya.


Beasiswa Garuda dan Ekosistem Sains Indonesia


Beasiswa Garuda merupakan program beasiswa bergelar yang ditujukan untuk memberikan akses dan peluang pendidikan kepada putra-putri Indonesia yang berprestasi, terutama mereka yang berasal dari latar belakang yang belum banyak terwakili.


Program tersebut menjadi bagian dari ekosistem SMA Unggul Garuda, yang dirancang sebagai salah satu bagian dari upaya pengembangan ekosistem sains dan teknologi Indonesia.


Kisah Clarissa memperlihatkan salah satu bentuk pemanfaatan kesempatan pendidikan: pendidikan tinggi tidak hanya menjadi jalur memperoleh kualifikasi akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan riset, teknologi, kewirausahaan, jejaring global, dan kapasitas kepemimpinan generasi muda Indonesia.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page