top of page

MEMBACA TEKNOLOGI DARI RUANG MESIN HINGGA RUANG MANUSIA

2 days ago
4 min read

Updated: 1 day ago

MENGENAL YUSRIN AHMAD TOSEPU

Penulis, dan penggiat literasi digital yang melihat teknologi bukan sekadar mesin, melainkan ruang tempat manusia membentuk pengetahuan, komunikasi, dan cara berpikir.



Ada orang yang melihat teknologi sebagai perangkat. Ada yang memahaminya sebagai sistem. Namun, ada pula yang memandang teknologi sebagai sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kekuatan yang ikut membentuk cara manusia berpikir, berkomunikasi, bekerja, dan menjalani kehidupan sosial.


Yusrin Ahmad Tosepu berada pada wilayah pemikiran yang terakhir.


Baginya, teknologi tidak semata-mata berbicara tentang mesin, perangkat lunak, jaringan, atau kecanggihan komputasi. Teknologi selalu memiliki hubungan dengan manusia. Karena itu, memahami teknologi berarti juga memahami bagaimana manusia menggunakannya, bagaimana masyarakat berubah karenanya, dan bagaimana informasi membentuk cara manusia mengambil keputusan.


Lintasan pendidikan Yusrin memperlihatkan fondasi pemikiran tersebut. Ia menempuh pendidikan Sarjana Manajemen Informatika di STMIK Dipanegara Makassar pada 2001. Hampir satu dekade kemudian, ia memperdalam kajian Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin pada 2010, sebelum melanjutkan pendidikan Ilmu Komputer di Universitas Budi Luhur Jakarta pada 2015.


Tiga disiplin; informatika, komunikasi, dan ilmu komputer—kemudian menjadi tiga fondasi yang saling bertaut dalam perjalanan intelektualnya.

Informatika membawanya memahami sistem.

Ilmu komunikasi membawanya membaca manusia, pesan, media, dan masyarakat.

Sementara ilmu komputer memperluas pemahamannya terhadap perkembangan teknologi dan komputasi.


Tiga bidang itu; informatika, komunikasi, dan ilmu komputer kemudian menjadi fondasi dalam perjalanan intelektualnya.


Dari titik temu ketiganya, muncul pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar bagaimana sebuah teknologi bekerja. Apa yang dilakukan manusia dengan teknologi?


Pertanyaan itu menjadi penting ketika teknologi tidak lagi berada di luar kehidupan manusia, melainkan telah masuk ke hampir setiap ruang kehidupan.

Bagaimana teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi?

Bagaimana media digital mengubah struktur masyarakat?

Bagaimana informasi membentuk persepsi publik?


Dan ketika mesin semakin mampu memproduksi teks, gambar, suara, bahkan argumentasi, bagaimana manusia tetap mampu membedakan informasi, pengetahuan, opini, dan manipulasi?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari wilayah kajian intelektual yang digeluti Yusrin.


Dari Ruang Kelas ke Ruang Publik


Perjalanan profesional Yusrin tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Ia tercatat sebagai dosen pada Program Studi Manajemen Informatika STMIK/Universitas Handayani Makassar, serta mengajar di sejumlah perguruan tinggi swasta di Sulawesi pada bidang yang berkaitan dengan sistem informasi, teknologi komunikasi, dan multimedia komunikasi.


Di ruang akademik, materi yang bersinggungan dengan bidangnya mencakup sistem informasi manajemen, teknologi komunikasi dan informasi, revolusi komunikasi, jaringan, e-commerce, konvergensi media, multimedia, serta dampak perkembangan teknologi terhadap masyarakat.


Namun, bagi Yusrin, ruang kelas bukanlah batas akhir aktivitas intelektual.

Ia menulis.

Ia mengembangkan gagasan.

Ia mengamati perubahan.

Dan ia membawa persoalan teknologi, komunikasi, informasi, serta literasi ke ruang publik.


Tulisan-tulisannya bergerak pada tema yang beragam: literasi, etika komunikasi, kebenaran semu, cara berpikir, informasi digital, perkembangan teknologi, hingga relasi manusia dengan kecerdasan buatan.


Benang merahnya tetap sama: teknologi tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik setiap platform ada manusia.

Di balik setiap algoritma ada keputusan.

Di balik setiap informasi ada kepentingan, konteks, dan kemungkinan kesalahan.

Dan di balik kecerdasan mesin, tetap ada manusia yang menentukan bagaimana teknologi itu digunakan.


Ketika Teknologi Bertemu Persoalan Nalar


Perkembangan kecerdasan buatan membawa Yusrin pada wilayah kajian yang semakin relevan dengan zaman. AI tidak hanya mengubah cara manusia mencari informasi. Ia juga mengubah cara manusia memproduksi pengetahuan.


Mesin kini dapat menghasilkan tulisan, merangkum dokumen, membuat gambar, menganalisis data, menyusun argumentasi, hingga menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik.


Tetapi kecepatan bukanlah sinonim kebenaran. Kemampuan menghasilkan informasi bukan berarti kemampuan menjamin informasi tersebut benar. Di sinilah perhatian Yusrin bertemu dengan persoalan nalar, logika, verifikasi, dan literasi informasi.


Bagi pendekatan semacam ini, tantangan terbesar era digital bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Persoalannya justru bergeser: Bagaimana memastikan informasi yang diterima layak dipercaya?


Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika manusia hidup dalam ekosistem informasi yang memungkinkan fakta, opini, propaganda, kesalahan, manipulasi, dan konten hasil mesin beredar dalam ruang yang sama.


Karena itu, literasi digital dalam perspektif Yusrin tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat. Literasi harus berkembang menjadi kemampuan membaca, mempertanyakan, memeriksa, memahami konteks, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.


Teknologi sebagai Cermin Perubahan Manusia


Perjalanan Yusrin menunjukkan sebuah lintasan yang menarik: dari informatika menuju komunikasi, dari sistem menuju manusia, dan dari ruang akademik menuju ruang publik.

Ia tidak meninggalkan teknologi ketika memasuki wilayah komunikasi.


Sebaliknya, ia membawa teknologi ke dalam pertanyaan-pertanyaan sosial. Di situlah posisi intelektualnya menjadi khas. Teknologi dipandang bukan sekadar sebagai objek yang harus dikuasai, melainkan sebagai fenomena yang harus dipahami. Sebab teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi juga mempercepat penyebaran informasi keliru.


Teknologi dapat memperluas akses pengetahuan, tetapi juga dapat memperbesar kebingungan. Teknologi dapat membantu manusia berpikir, tetapi juga berpotensi membuat manusia berhenti berpikir jika seluruh proses kognitif diserahkan kepada mesin.


Dengan demikian, persoalan teknologi pada akhirnya kembali kepada persoalan manusia.

Bukan hanya apa yang mampu dilakukan mesin, tetapi apa yang seharusnya dilakukan manusia ketika mesin semakin mampu melakukan banyak hal.


Menjaga Manusia Tetap Berpikir


Di tengah transformasi digital dan ledakan kecerdasan buatan, perjalanan intelektual Yusrin Ahmad Tosepu dapat dibaca sebagai upaya mempertemukan tiga wilayah: teknologi, komunikasi, dan nalar manusia.


Pendidikan informatika memberinya fondasi teknologis.

Ilmu komunikasi memberinya perspektif sosial.

Ilmu komputer memperkuat pemahamannya terhadap perkembangan komputasi.


Ketiganya kemudian bertemu dalam satu perhatian yang lebih besar: bagaimana manusia tetap menjadi subjek di tengah perkembangan teknologi yang semakin dominan.


Sebab pada akhirnya, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya ukuran kemajuan.

Kemajuan juga ditentukan oleh kemampuan manusia untuk menggunakannya secara kritis, etis, bertanggung jawab, dan bermakna.


Di situlah gagasan Yusrin menemukan relevansinya.

Ia tidak sekadar berbicara tentang teknologi.

Ia berbicara tentang manusia yang hidup bersama teknologi.


Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin dipenuhi mesin yang mampu menjawab hampir segala sesuatu, pertanyaan terpenting justru bukan lagi: “Apa yang bisa dilakukan teknologi?” Melainkan: “Apa yang harus tetap mampu dipikirkan manusia?”


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page