top of page

RISET INDONESIA: CITATION NAIK KETIKA BERKOLABORASI, TAPI MENGAPA HARUS SELALU MENUNGGU MITRA ASING?

Sep 23
2 min read


KAVITA MEDIA NET, Jakarta —Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan satu fakta yang patut diperhatikan serius: citation impact Indonesia disebut berada di sekitar 0,8, tetapi dapat meningkat menjadi 3,7–5,2 ketika ilmuwan Indonesia berkolaborasi dengan mitra internasional.


Angka itu tentu menarik. Tetapi jangan berhenti pada tepuk tangan karena angka citation naik. Justru di situlah pertanyaan besarnya dimulai.


Kalau kolaborasi internasional bisa menjadi multiplier effect sebesar itu, maka persoalannya bukan sekadar bagaimana memperbanyak kerja sama luar negeri.


Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Mengapa riset Indonesia belum cukup kuat menghasilkan dampak global ketika ilmuwannya bekerja dari dalam negeri dengan kapasitas sendiri?


JANGAN SAMPAI RISET KITA HEBAT KARENA “DITEMANI”


Kolaborasi internasional jelas bukan masalah. Bahkan sangat diperlukan. Ilmu pengetahuan memang tidak mengenal pagar negara. Peneliti perlu bertukar pengetahuan, metodologi, fasilitas, data, jaringan publikasi, teknologi, dan akses industri.


Namun ada jebakan yang harus dihindari. Jangan sampai universitas dan peneliti Indonesia hanya menjadi mitra pelengkap dalam proyek yang nilai tambah intelektual dan teknologinya lebih banyak dikendalikan pihak lain.


Jangan sampai peneliti Indonesia rajin mengumpulkan data, sementara keputusan strategis, teknologi, paten, publikasi utama, dan hilirisasi justru lebih banyak bergerak di luar negeri.

Sebab kolaborasi bukan sekadar nama asing di daftar penulis artikel ilmiah.


Kolaborasi yang sehat seharusnya membangun kapasitas, kepemimpinan ilmiah, kepemilikan pengetahuan, teknologi, dan kemampuan Indonesia untuk berdiri semakin mandiri.


DARI CITATION KE DAMPAK NYATA


Kementerian juga mendorong hubungan akademia dan industri. Bahkan disebut sekitar 50 persen skema hibah tertentu diarahkan untuk kolaborasi dengan industri.


Ini langkah yang menarik tetapi kembali, ukurannya jangan berhenti pada jumlah proposal, MoU, jurnal, konferensi, atau banyaknya mitra.


Publik berhak bertanya:

Berapa riset yang benar-benar menjadi teknologi?

Berapa yang menjadi produk?

Berapa yang menghasilkan paten dan perusahaan berbasis teknologi?

Berapa yang menyelesaikan persoalan industri dan masyarakat Indonesia?


Dan yang tak kalah penting: Berapa banyak peneliti Indonesia yang menjadi pemimpin inovasi, bukan sekadar bagian dari proyek inovasi?


Karena ukuran keberhasilan riset bukan hanya berapa kali dikutip, tetapi juga seberapa jauh pengetahuan itu mengubah keadaan.


CYBER SECURITY: JANGAN HANYA BELAJAR, HARUS MAMPU MENCIPTAKAN


Penjajakan kerja sama Indonesia–Prancis di bidang keamanan siber juga membuka ruang strategis. Tetapi keamanan siber adalah wilayah yang menuntut lebih dari sekadar transfer pengetahuan.


Indonesia membutuhkan SDM yang bukan hanya paham teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi, melakukan riset, membangun sistem pertahanan digital, dan mengembangkan inovasi sendiri.


Kalau setiap persoalan teknologi selalu diselesaikan dengan membeli teknologi dari luar, lalu kapan ekosistem domestik naik kelas?


JANGAN SAMPAI INDONESIA HANYA JAGO MENJADI PASAR


Inilah pekerjaan rumah yang jauh lebih besar. Indonesia punya kampus, peneliti, mahasiswa, industri, sumber daya alam, persoalan sosial, serta pasar yang sangat besar.


Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak kolaborasi internasional, tetapi kolaborasi yang membuat kapasitas Indonesia semakin kuat.


Sebab kalau setelah puluhan tahun membangun pendidikan tinggi kita masih hanya bangga ketika citation naik karena ada nama institusi luar negeri dalam kolaborasi, kita perlu bertanya lebih dalam:


Apakah kita sedang membangun ekosistem riset kelas dunia—atau hanya sedang belajar menjadi partner yang baik bagi ekosistem riset negara lain?


Kolaborasi internasional penting. Tetapi tujuan akhirnya seharusnya bukan membuat Indonesia bergantung pada kolaborasi.


Tujuannya adalah membuat Indonesia cukup kuat untuk datang ke meja kolaborasi sebagai pencipta pengetahuan, teknologi, dan solusi bukan sekadar sebagai peserta.


 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page