top of page

Strategi Pertamina Menjaga Stok BBM Nasional

2 days ago
2 min read

Updated: 1 day ago


KAVITA MEDIA NET, JAKARTA - Pertamina (khususnya melalui Subholding Downstream Pertamina Patra Niaga) menerapkan berbagai strategi terintegrasi untuk menjaga ketersediaan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional tetap aman dan stabil.


Standar minimum ketahanan stok yang dijaga biasanya berada di kisaran 18–23 hari (bahkan hingga 35 hari untuk produk tertentu), sesuai ketentuan pemerintah.


Berikut strategi utama yang dijalankan:


1. Pemantauan Real-Time dengan Sistem Digital

  • Menggunakan Pertamina Digital Hub, sistem terintegrasi dari hulu (kilang & minyak mentah) hingga hilir (terminal & SPBU).

  • Memungkinkan monitoring stok, pergerakan kapal, proyeksi konsumsi, dan kondisi di setiap wilayah secara real-time.

  • Membantu pengambilan keputusan cepat jika terjadi lonjakan permintaan atau gangguan distribusi.


2. Penambahan Pasokan Berkelanjutan (Top-up / Re-fill)

  • Stok terus diperbarui melalui:

    • Produksi kilang domestik.

    • Pengadaan impor minyak mentah dan produk BBM yang direncanakan jauh hari.

  • Diversifikasi sumber pasokan (beralih dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Nigeria, Brasil, dll.) untuk mengurangi risiko geopolitik.

  • Peningkatan kapasitas storage (rencana jangka panjang hingga 90 hari, dengan studi kelayakan sedang berjalan).


3. Penguatan Distribusi dan Logistik

  • Penambahan armada mobil tangki (contoh: di Makassar ditambah hingga 108 unit).

  • Perpanjangan jam operasional depot dan SPBU (termasuk 24 jam di titik strategis).

  • Pengoperasian SPBU Modular dan Satgas Layanan BBM di lokasi padat atau rawan antrean.

  • Sistem distribusi Reguler–Alternatif–Emergency (RAE) untuk menghadapi situasi darurat.

  • Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, BPH Migas, TNI/Polri, dan stakeholder lain.


4. Pengelolaan Stok di Level Terminal & SPBU

  • Sistem Manajemen Stok SPBU (MS2) untuk memantau dan merencanakan pengiriman H+1.

  • Menjaga safety stock di atas level minimum di setiap Fuel Terminal.

  • Antisipasi lonjakan konsumsi (seperti saat mudik, Lebaran, atau shifting dari BBM nonsubsidi ke subsidi).


5. Pengendalian Konsumsi dan Penertiban

  • Pengawasan ketat terhadap penyalahgunaan BBM subsidi (modifikasi tangki, penimbunan, SPBU nakal).

  • Blokir nomor polisi pelanggaran dan pengambilalihan operasional SPBU yang curang melalui skema KSO.

  • Imbauan masyarakat agar tidak panic buying, karena lonjakan permintaan yang tidak wajar justru memperlambat recovery stok.


6. Strategi Jangka Panjang

  • Dual Growth Strategy: menjaga pasokan BBM konvensional sambil mengembangkan energi rendah karbon (B50, SAF dari minyak jelantah, dll.).

  • Pembangunan infrastruktur storage tambahan dan perluasan jaringan SPBU kecil di daerah dengan jarak antar-penyalur jauh.

  • Optimalisasi kilang dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.


Kesimpulan:


Stok BBM nasional bersifat dinamis—bukan angka tetap yang akan “habis” setelah 18–23 hari. Pertamina terus melakukan top-up pasokan setiap hari. Strategi yang diterapkan fokus pada pemantauan digital, penguatan logistik, diversifikasi sumber, dan koordinasi multi-pihak agar distribusi tetap lancar di seluruh Indonesia, termasuk saat terjadi lonjakan permintaan seperti yang sempat terjadi di Makassar.



 
 
 

Comments


©2012 Kavita Media. Makassar Sulawesi Selatan

bottom of page