TRADISI JILAT-MENJILAT MAKIN AKUT DALAM BIROKRASI
Ketika Loyalitas Disalahartikan, Kritik Dianggap Ancaman, dan Jabatan Menjadi Ruang Pembuktian Kesetiaan

Ada penyakit birokrasi yang tidak masuk daftar pemeriksaan kesehatan pegawai, tetapi dampaknya bisa lebih berbahaya daripada sekadar salah administrasi: budaya jilat-menjilat.
Penyakit ini tidak selalu terlihat. Tidak memakai seragam khusus. Tidak membutuhkan surat keputusan. Bahkan kadang justru tampil rapi, sopan, dan sangat formal.
Gejalanya sederhana: atasan selalu benar, bawahan selalu membenarkan.
Ketika pimpinan mengambil keputusan, tepuk tangan menggelegar.
Ketika kebijakan dipertanyakan, mendadak banyak yang memilih diam.
Ketika program berhasil, nama pimpinan berada di halaman depan.
Ketika program gagal, kambing hitam dicari di halaman belakang.
Inilah birokrasi yang perlahan kehilangan fungsi utamanya: melayani kepentingan publik.
JABATAN BUKAN PANGGUNG PEMUJAAN
Dalam perspektif ilmu pemerintahan, birokrasi semestinya bekerja berdasarkan aturan, kompetensi, akuntabilitas, profesionalisme, dan kepentingan masyarakat. Bukan berdasarkan seberapa pandai seseorang membaca arah angin politik.
Namun dalam praktik, terkadang muncul fenomena yang sebaliknya.
Pegawai yang kritis dicap tidak loyal.
Pegawai yang bertanya dianggap menghambat.
Pegawai yang mengingatkan risiko dianggap tidak mendukung pimpinan.
Sementara mereka yang selalu berkata “siap, benar, luar biasa, kami dukung” justru dianggap paling loyal.
Ironisnya, birokrasi kemudian tidak lagi berlomba menunjukkan kinerja, tetapi berlomba menunjukkan kedekatan. Yang diukur bukan lagi apa yang dikerjakan, melainkan siapa yang disenangkan.
KETIKA “LOYAL” BERUBAH MENJADI “SELALU SETUJU”
Di sinilah persoalan menjadi serius. Loyalitas kepada pimpinan tidak sama dengan kepatuhan membabi buta. Loyalitas birokratik seharusnya berarti menjalankan tugas sesuai aturan, menjaga kepentingan organisasi, dan memberikan masukan profesional—termasuk ketika keputusan pimpinan berpotensi menimbulkan masalah.
Seorang bawahan yang berani berkata:
“Pak/Bu, kebijakan ini berisiko.”
bisa jadi justru sedang menyelamatkan institusi.
Sebaliknya, bawahan yang selalu berkata:
“Siap. Semua sudah bagus.”
belum tentu sedang menyelamatkan organisasi.
Bisa saja ia sedang menyelamatkan posisinya sendiri.
Dan di sinilah satire birokrasi kita menjadi getir:
Yang jujur takut kehilangan jabatan.Yang pandai menjilat takut kehilangan kesempatan.
BIROKRASI BISA RUSAK BUKAN KARENA KURANG ORANG PINTAR
Masalah birokrasi bukan selalu kekurangan orang pintar. Kadang justru terlalu banyak orang pintar yang memilih diam ketika seharusnya berbicara. Mereka tahu kebijakan itu bermasalah.
Mereka tahu data tidak sepenuhnya mendukung.
Mereka tahu target tidak realistis.
Mereka tahu laporan terlalu indah dibanding kenyataan.
Tetapi ketika rapat dimulai, suara kritis menghilang.
“Bagaimana menurut bapak/ibu?”
“Siap, sangat baik.”
“Ada masukan?”
“Tidak ada.”
“Program ini sudah tepat?”
“Siap, sangat tepat.”
Rapat selesai.
Semua pulang.
Publik kemudian membayar akibatnya.
Inilah harga mahal dari birokrasi yang kehilangan keberanian untuk berkata benar.
JABATAN SEHARUSNYA MENGUJI KOMPETENSI, BUKAN KEMAMPUAN MENJILAT
Dalam pemerintahan modern, promosi jabatan semestinya berkaitan dengan kompetensi, kinerja, integritas, kepemimpinan, dan rekam jejak. Sebab ketika jabatan diberikan berdasarkan kedekatan dan kemampuan menyenangkan atasan, birokrasi akan mengalami seleksi alam yang terbalik.
Orang kompeten frustrasi.
Orang kritis memilih diam.
Orang idealis perlahan tersingkir.
Sementara orang yang piawai memainkan bahasa loyalitas mendapatkan ruang lebih besar.
Lama-lama organisasi menghasilkan budaya baru: Jangan terlalu pintar kalau membuat atasan tidak nyaman.Jangan terlalu kritis kalau ingin karier aman.Dan jangan lupa tersenyum ketika pimpinan lewat. Tetapi justru satire seperti ini perlu dibaca sebagai alarm tata kelola.
YANG PALING BERBAHAYA ADALAH “YES MAN”
Birokrasi membutuhkan bawahan yang loyal. Tetapi birokrasi juga membutuhkan orang yang mampu mengatakan “tidak” ketika memang harus mengatakan tidak. Sebab seorang pemimpin yang hanya dikelilingi yes man akan kehilangan cermin.
Semua keputusan terlihat benar.
Semua program terlihat berhasil.
Semua laporan terlihat sempurna.
Padahal masyarakat mungkin melihat kenyataan yang berbeda. Di ruang rapat semuanya sukses.Di lapangan masyarakat yang tahu jawabannya. Karena itu, ukuran kesehatan birokrasi bukan seberapa sering bawahan memuji pimpinan.
Ukuran kesehatan birokrasi justru dapat dilihat dari:
Seberapa aman seorang aparatur menyampaikan kritik.
Jika kritik dianggap pembangkangan, organisasi akan miskin koreksi.
Jika pertanyaan dianggap ketidakloyalan, organisasi akan kehilangan kontrol.
Dan jika pujian lebih dihargai daripada prestasi, maka jangan heran jika birokrasi akhirnya menghasilkan budaya pencitraan administratif.
PEMERINTAHAN TIDAK MEMBUTUHKAN PEMUJA JABATAN
Pemerintahan membutuhkan aparatur yang profesional.
Bukan pasukan tepuk tangan.
Bukan kelompok pembenaran.
Bukan manusia yang sibuk mencari posisi terdekat dengan kekuasaan.
Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang memahami bahwa jabatan adalah amanah administratif sekaligus tanggung jawab publik.
Sebab seorang pejabat tidak sedang memimpin kelompok penggemar. Ia sedang mengelola kewenangan yang sumber legitimasi akhirnya berasal dari masyarakat.
Maka pertanyaan paling penting bukan:
“Seberapa loyal Anda kepada pimpinan?”
Tetapi:
“Seberapa loyal Anda kepada aturan, institusi, dan kepentingan publik?”
Sebab ketika loyalitas kepada individu mengalahkan loyalitas kepada institusi, birokrasi mulai bergeser dari sistem pemerintahan menjadi sistem patronase. Dan ketika itu terjadi, yang tumbuh bukan pemerintahan yang sehat. Yang tumbuh adalah budaya jilat-menjilat dengan seragam kedinasan.




Comments