Cognitive Surrender di Era AI: Ketika Mahasiswa Menyerahkan Pikiran kepada Mesin
Updated: Oct 29
KAVITA MEDIA — PENDIDIKAN, LITERASI DIGITAL & AI

KAVITA MEDIA NET, MAKASSAR — Kecerdasan buatan generatif atau artificial intelligence (AI) semakin mudah diakses mahasiswa. Namun, di balik kemudahan menyusun esai, menjawab soal, merangkum jurnal, hingga membuat presentasi, muncul persoalan yang jauh lebih mendasar: apakah AI membantu mahasiswa berpikir, atau justru membuat mereka berhenti berpikir?
Fenomena ini dikenal sebagai cognitive surrender, yakni kecenderungan seseorang menyerahkan proses berpikir kepada AI sebelum berusaha memahami dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Penggiat literasi digital sekaligus Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI pada Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia (LSP3I), Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.IKom., M.Kom., menilai fenomena tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan di tengah meluasnya penggunaan AI.
Menurut Yusrin, persoalannya bukan semata-mata mahasiswa menggunakan ChatGPT atau perangkat AI lainnya. Masalah muncul ketika teknologi tidak lagi ditempatkan sebagai alat bantu belajar, melainkan sebagai pengganti proses berpikir.
“Perbedaannya terletak pada siapa yang mengerjakan proses kognitif. Jika AI membantu mahasiswa menyusun argumen yang kemudian diuji dan dikembangkan sendiri, teknologi berfungsi sebagai pendukung pembelajaran. Namun, jika mahasiswa langsung meminta AI menyelesaikan tugas tanpa berusaha memahami persoalannya, di situlah gejala cognitive surrender muncul,” demikian inti pandangan Yusrin.
Bukan Sekadar Malas, tetapi Perubahan Cara Belajar
Dalam praktik perkuliahan, pola tersebut dapat terlihat dari kebiasaan mahasiswa yang langsung mengetik perintah seperti “buatkan makalah”, “jawab soal ini”, atau “susun analisis” tanpa terlebih dahulu membaca sumber, merumuskan masalah, dan membangun argumentasi sendiri.
Sekilas, pekerjaan terlihat selesai lebih cepat. Tugas tersusun rapi, bahasa akademik tampak meyakinkan, dan jawaban tersedia dalam hitungan detik. Namun, hasil yang tampak baik belum tentu mencerminkan proses belajar yang berlangsung di baliknya.
Inilah persoalan yang perlu diperhatikan perguruan tinggi. Mahasiswa dapat menghasilkan jawaban yang terlihat cerdas tanpa benar-benar memahami alasan di balik jawaban tersebut.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko mengurangi kesempatan mahasiswa melatih daya ingat kerja (working memory), kemampuan berpikir kritis, evaluasi bukti, dan metakognisi kemampuan mengenali apa yang telah dipahami serta apa yang sebenarnya belum diketahui.
Ketika AI selalu menjadi tempat pertama untuk mencari jawaban, mahasiswa juga berpotensi kehilangan kebiasaan menghadapi kebingungan, mencoba berbagai pendekatan, dan belajar dari kesalahan.
Padahal, proses tersebut merupakan bagian penting dari pembelajaran. Tidak semua kesulitan harus segera dihilangkan. Ada kalanya mahasiswa justru perlu diberi waktu untuk bergulat dengan persoalan sebelum memperoleh bantuan.
AI sebagai Perancah atau Pembajak Pikiran?
Yusrin menekankan pentingnya membedakan dua pola pemanfaatan AI dalam pendidikan: cognitive scaffolding dan cognitive hijacking. Dalam model cognitive scaffolding, AI berfungsi sebagai perancah yang membantu mahasiswa membangun pemahaman. Teknologi dapat digunakan untuk menjelaskan konsep yang sulit, mengidentifikasi kelemahan argumen, membandingkan perspektif, menyusun peta konsep, atau mengajukan pertanyaan lanjutan.
Namun, mahasiswa tetap bertanggung jawab memeriksa sumber, menilai ketepatan jawaban, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan akademik. Sebaliknya, cognitive hijacking menggambarkan situasi ketika AI mengambil alih sebagian besar pekerjaan intelektual, sementara mahasiswa hanya menerima hasilnya. Mahasiswa mungkin menyerahkan tugas tepat waktu, tetapi tidak memiliki pemahaman yang sebanding dengan hasil yang dikumpulkan.
Perbedaan keduanya mendasar: AI sebagai perancah membantu manusia membangun kemampuan; AI sebagai pembajak berisiko membuat manusia bergantung pada hasil yang tidak dibangunnya sendiri.
Penggunaan AI tidak otomatis menimbulkan ketergantungan. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh tujuan penggunaan, desain tugas, kemampuan pengguna mengevaluasi keluaran AI, serta cara dosen menilai proses pembelajaran.
Karena itu, mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari kualitas produk akhir semakin tidak memadai ketika produk tersebut dapat dihasilkan mesin dalam waktu singkat.
Tantangan Baru bagi Perguruan Tinggi
Meluasnya AI generatif memaksa perguruan tinggi mengevaluasi kembali metode pembelajaran dan sistem penilaian yang selama ini digunakan. Tugas esai di rumah, rangkuman buku, presentasi, hingga jawaban atas soal rutin semakin mudah dikerjakan dengan bantuan AI. Jika dosen hanya menilai dokumen akhir tanpa menguji pemahaman mahasiswa, proses penilaian berisiko gagal membedakan kemampuan intelektual mahasiswa dari kemampuan perangkat yang digunakannya.
Persoalannya bukan berarti tugas tertulis harus dihapus. Perguruan tinggi perlu melengkapinya dengan metode yang mampu memperlihatkan bagaimana mahasiswa membangun pengetahuan dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.
Ujian lisan, diskusi kelas, pembelaan argumen, portofolio bertahap, catatan proses penelitian, dan refleksi kritis dapat menjadi bagian dari solusi. Mahasiswa tidak hanya diminta menyerahkan jawaban, tetapi juga menjelaskan alasan memilih pendekatan tertentu, menguji bukti, serta menunjukkan bagian jawaban AI yang diterima, diperbaiki, atau ditolak. Dengan pendekatan tersebut, AI tetap dapat digunakan, tetapi proses berpikir mahasiswa menjadi bagian utama yang dinilai.
Literasi Digital Saja Tidak Cukup
Menurut Yusrin, tantangan pendidikan di era AI tidak cukup dijawab dengan pelatihan teknis menggunakan aplikasi. Mahasiswa perlu memiliki literasi kognitif, yakni kemampuan menentukan kapan AI diperlukan, kapan jawabannya harus diragukan, dan kapan seseorang perlu berpikir secara mandiri.
Literasi digital mengajarkan cara menggunakan teknologi. Literasi kognitif membantu seseorang memahami konsekuensi penggunaan teknologi terhadap proses berpikirnya. Keduanya harus berjalan bersama.
Mahasiswa perlu dibiasakan memeriksa sumber primer, membandingkan jawaban AI dengan literatur akademik, mengenali informasi yang keliru, serta menguji asumsi yang mendasari suatu kesimpulan. AI tidak boleh diperlakukan sebagai otoritas yang selalu benar, terlebih ketika menyangkut persoalan ilmiah, etika, kebijakan publik, dan keputusan profesional.
Pendekatan ini juga menuntut dosen mengubah perannya. Dosen bukan sekadar pemberi tugas dan penilai hasil, melainkan perancang pengalaman belajar yang mendorong mahasiswa bertanya, menyelidiki, mempertanyakan jawaban, dan membangun pengetahuan secara mandiri.
Dengan demikian, keberhasilan integrasi AI dalam pendidikan tidak semestinya diukur dari seberapa banyak mahasiswa menggunakan teknologi tersebut. Ukuran yang lebih penting adalah apakah penggunaannya meningkatkan pemahaman, memperkuat kemampuan analitis, dan membantu mahasiswa menjadi pembelajar yang mandiri.
Solusinya Bukan Larangan Total
Melarang AI secara menyeluruh bukan jawaban yang memadai. Teknologi tersebut sudah menjadi bagian dari lingkungan akademik dan profesional. Larangan tanpa perubahan metode pembelajaran berisiko hanya memindahkan penggunaan AI ke ruang yang tidak terpantau.
Yang dibutuhkan adalah aturan penggunaan yang jelas, transparansi mengenai bantuan AI, perlindungan integritas akademik, dan desain pembelajaran yang membuat mahasiswa tetap harus melakukan pekerjaan intelektualnya sendiri.
Dosen dapat merancang tugas yang mengharuskan mahasiswa menggunakan AI untuk menghasilkan sejumlah alternatif argumen, kemudian menguji setiap argumen menggunakan data primer. Mahasiswa juga dapat diminta menjelaskan mengapa suatu jawaban AI ditolak atau diperbaiki berdasarkan bukti. Dengan cara ini, AI bukan joki yang menyelesaikan pekerjaan, melainkan mitra untuk menguji ketajaman berpikir.
Perguruan tinggi juga perlu membangun kebijakan yang membedakan penggunaan AI untuk membantu memahami materi, penggunaan AI untuk memperbaiki pekerjaan sendiri, dan penggunaan AI untuk menyerahkan seluruh pekerjaan intelektual kepada mesin. Ketiganya tidak dapat diperlakukan sebagai praktik yang sama.
Pendidikan Harus Mencetak Pemikir, Bukan Sekadar Penghasil Jawaban
Fenomena cognitive surrender sesungguhnya membuka persoalan lama dalam pendidikan: kecenderungan mengutamakan jawaban benar, nilai tinggi, dan penyelesaian tugas dibandingkan proses memahami persoalan.
AI mempercepat persoalan tersebut karena mampu menghasilkan jawaban dengan kecepatan dan kerapian yang sulit ditandingi manusia. Namun, kecepatan menghasilkan jawaban tidak identik dengan kedalaman pemahaman.
Jika pendidikan hanya melatih mahasiswa menghasilkan jawaban, keunggulan manusia akan terus terdesak oleh mesin yang semakin canggih. Sebaliknya, jika pendidikan mengembangkan kemampuan merumuskan masalah, mengevaluasi bukti, menyusun pertanyaan, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab, AI dapat menjadi alat untuk memperluas kapasitas intelektual manusia.
Bagi Yusrin, tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan bukan sekadar memastikan mahasiswa mampu menggunakan teknologi, melainkan memastikan mereka tetap menjadi subjek yang berpikir ketika teknologi tersedia untuk memberikan hampir semua jawaban.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah mahasiswa menggunakan AI, melainkan apakah mereka masih melakukan proses berpikir yang membuat pembelajaran itu bermakna. AI boleh membantu mahasiswa menemukan jawaban. Namun, pendidikan tidak boleh membiarkan mahasiswa kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan jawaban tersebut.
Sebab, ketika kesulitan sedikit saja langsung diserahkan kepada mesin, yang terancam bukan hanya kemampuan mengingat atau berpikir kritis, melainkan juga kemandirian intelektual.
Di era ketika jawaban semakin mudah diperoleh, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, menguji kebenaran, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan justru menjadi semakin penting. AI harus menjadi perancah bagi kecerdasan manusia, bukan pembajak yang mengambil alih pikiran manusia.



Comments