top of page


Ketika Berita, Gambar, Video Bisa Berbohong, Direkayasa: Cara Memverifikasi Berita/Gambar/Video (termasuk yang dibuat AI).
OPINI | LITERASI DIGITAL, MEDIA, DAN KECERDASAN ARTIFISIAL Oleh: Yusrin Ahmad Tosepu S.Kom M.Ikom M.Kom ( Pengkaji Literasi Digital, Transformasi Digital, dan Kecerdasan Artifisial AI. Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI – LSP3I ) Di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), masyarakat sedang menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks daripada sekadar maraknya berita bohong. Kita memasuki zaman ketika kebohongan dapat diproduksi dengan sangat mey
KavitaMedia
1 hour ago10 min read


Di Zaman Ketika Kebohongan Mengenakan Dasi dan Berbicara dari Podium
Berpikir kritis bukan lagi sekadar kecakapan. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap manipulasi RUBRIK: OPINI | DEMOKRASI & LITERASI DIGITAL Ir. Alfian Ali, S.T., M.T., Ph.D. Akademisi dan praktisi teknologi, Ketua Bidang Kajian Komunikasi Digital & Media di LKDID Kavita Media Indonesia KAVITA MEDIA NET — Kebohongan dalam kehidupan publik tidak selalu hadir dalam bentuk informasi palsu yang mudah dikenali. Ia bisa dikemas melalui pernyataan resmi, angka statistik, grafik, pidat
KavitaMedia
Oct 305 min read


Literasi Digital Bukan Sekadar Melek Teknologi, Yusrin: Demokrasi Terancam jika Publik Kehilangan Nalar Kritis
KAVITA MEDIA NET, Makassar — Derasnya arus informasi di ruang digital tidak otomatis membuat masyarakat semakin cerdas. Di tengah kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi, hoaks, ujaran kebencian, penipuan daring, hingga manipulasi opini publik justru menjadi tantangan serius bagi kualitas demokrasi. Persoalan inilah yang menjadi sorotan penggiat literasi digital sekaligus Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI pada Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidika
KavitaMedia
Oct 296 min read


KECANDUAN KONTEN INSTAN: OTAK TERBIASA CEPAT, NALAR KIAN TUMPUL
Kita hidup pada zaman ketika informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan untuk berpikir mendalam justru menghadapi tantangan serius. Jari semakin cepat menggulir layar, perhatian semakin mudah terpecah, dan tidak sedikit orang yang kehilangan kesabaran untuk membaca, menganalisis, serta memahami persoalan secara utuh. KAVITA MEDIA NET — Kemajuan teknologi digital telah membuka akses pengetahuan yang luar biasa luas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mempelajari il
KavitaMedia
Oct 299 min read


EMPAT SKILL WAJIB DI ERA AI: PESAN TEGAS KETUA LSP3I, PENDIDIKAN TAK BOLEH SEKADAR MENCETAK PENGGUNA TEKNOLOGI
JAKARTA — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mampu menulis, menganalisis data, menyusun laporan, hingga menghasilkan karya visual dalam hitungan detik. Di tengah perubahan tersebut, dunia pendidikan menghadapi pertanyaan mendasar: apakah sekolah dan perguruan tinggi sedang mempersiapkan manusia yang mampu berpikir mandiri, atau justru melahirkan generasi yang semakin bergantung pada mesin? Pertanyaan itu mengemuka dalam seminar bertajuk “Pendidikan di Era
KavitaMedia
Oct 287 min read


Cognitive Surrender di Era AI: Ketika Mahasiswa Menyerahkan Pikiran kepada Mesin
KAVITA MEDIA — PENDIDIKAN, LITERASI DIGITAL & AI KAVITA MEDIA NET, MAKASSAR — Kecerdasan buatan generatif atau artificial intelligence (AI) semakin mudah diakses mahasiswa. Namun, di balik kemudahan menyusun esai, menjawab soal, merangkum jurnal, hingga membuat presentasi, muncul persoalan yang jauh lebih mendasar: apakah AI membantu mahasiswa berpikir, atau justru membuat mereka berhenti berpikir? Fenomena ini dikenal sebagai cognitive surrender, yakni kecenderungan seseoran
KavitaMedia
Oct 275 min read


DI ERA AI, ORANG YANG SEKADAR PINTAR BISA TERSINGKIR: YANG BERTAHAN ADALAH MEREKA YANG MAMPU BERPIKIR
Oleh: Yusrin Ahmad Tosepu, Skom MIkom MKom - Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI pada Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia (LSP3I). Ada satu ironi besar dalam revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI): ketika mesin semakin pintar memberikan jawaban, manusia justru semakin dituntut untuk mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Dulu, keunggulan seseorang diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, seberapa cepat pekerjaa
KavitaMedia
Oct 257 min read


Manusia Masih Harus Berpikir: Ketika Algoritma Memperkuat Hoaks dan Memanjakan Keyakinan
KAVITA MEDIA NET — OPINI Menyoroti krisis kognitif terbesar di era digital: matinya pemikiran kritis akibat ekosistem internet yang dirancang untuk memvalidasi bias kita, bukan mencari kebenaran. Teknologi boleh semakin pintar. Algoritma boleh semakin cepat. Kecerdasan buatan (AI) boleh semakin canggih. Namun, ada satu kemampuan yang tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mesin: kemampuan manusia untuk berpikir kritis, menguji kebenaran, dan mempertanggungjawabkan kesimpula
KavitaMedia
Oct 247 min read


DI ERA AI, KEBODOHAN BUKAN LAGI SEKADAR KETIDAKTAHUAN, TETAPI RISIKO PERADABAN
Oleh: Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.IKom., M.Kom. Ketua Bidang Kajian Digital Education & AI – LSP3I Ada satu ancaman serius yang kerap luput dari perhatian kita ketika berbicara tentang masa depan bangsa: masyarakat yang semakin mudah mengakses informasi, tetapi belum tentu semakin mampu memahami kebenaran. Informasi berlimpah, teknologi semakin canggih, kecerdasan buatan berkembang pesat, tetapi kemampuan berpikir kritis justru menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh dire
KavitaMedia
Oct 97 min read


Mengenal Lebih Dekat Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.I.Kom., M.Kom.
Penulis, dan Penggiat Literasi Digital yang Menjembatani Teknologi, Komunikasi, Pendidikan, dan Informasi KAVITA Media Net, Makassar — Nama Yusrin Ahmad Tosepu, S.Kom., M.I.Kom., M.Kom. dikenal dalam sejumlah ruang akademik, penelitian, literasi digital, serta kajian komunikasi dan teknologi informasi. Kiprahnya memperlihatkan persinggungan antara dunia pendidikan, teknologi, komunikasi, penelitian, dan pengembangan literasi masyarakat di tengah perubahan digital. Yusrin lahi
KavitaMedia
Sep 303 min read


PENDIDIKAN JANGAN CUMA MENGAJARKAN JAWABAN, AJARKAN CARA BERPIKIR!
OPINI PENDIDIKAN - Beryl Aspar, M.Pd., Ph.D Ada persoalan mendasar yang layak kita tanyakan kepada dunia pendidikan: setelah bertahun-tahun duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi, apakah peserta didik benar-benar semakin mampu berpikir? Sebab pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal materi, mengerjakan soal, mengejar nilai, lalu mendapatkan ijazah. Kalau setelah lulus seseorang hanya pandai mengulang jawaban dari buku, tetapi gagap ketika menghadapi pers
KavitaMedia
Sep 294 min read


PENDIDIKAN JANGAN BERHENTI PADA HAFALAN: KETIKA SEKOLAH GAGAL MENGAJARKAN CARA BERPIKIR
OPINI PENDIDIKAN — Dr. Mahmud Haris, M.Pd. Pengamat dan Pemerhati Pendidikan LSP3I Ada pertanyaan yang seharusnya lebih sering diajukan di ruang kelas: setelah bertahun-tahun belajar, apakah peserta didik benar-benar menjadi lebih mampu berpikir? Pertanyaan ini penting karena pendidikan terlalu mudah diukur dari sesuatu yang tampak: nilai, ijazah, jumlah materi yang selesai disampaikan, jumlah tugas yang dikumpulkan, atau kemampuan menjawab soal ujian. Padahal, pendidikan yan
KavitaMedia
Sep 296 min read


ARTIFICIAL TANPA INTELLIGENCE
Oleh: Yusrin Ahmad Tosepu. Opini | KAVITA Media Net Kita sedang hidup di zaman yang aneh. Manusia menciptakan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat mesin semakin cerdas, tetapi pada saat yang sama justru berisiko membuat manusia semakin malas berpikir. Ironinya, teknologi yang seharusnya memperkuat kecerdasan manusia mulai digunakan sebagai pengganti kecerdasan manusia. Di sinilah persoalannya. Artificial Intelligence tanpa human intelligence hanya akan menjadi artificia
KavitaMedia
Sep 253 min read


PENDIDIKAN MAKIN MODERN, MANUSIA MAKIN TAKUT
Ketika Sekolah dan Kampus Kehilangan Ruang Aman untuk Bertanya, Salah, dan Berbeda Pendidikan sering kali diukur dari apa yang mudah dilihat: gedung yang megah, ruang kelas ber-AC, internet berkecepatan tinggi, laboratorium modern, akreditasi, jumlah lulusan, publikasi, hingga deretan indikator mutu. Semua itu penting. Tetapi ada satu hal yang jauh lebih sulit diukur: apakah manusia yang berada di dalamnya merasa aman untuk menjadi manusia? Sebab mahasiswa bukan sekadar nomor
KavitaMedia
Sep 245 min read


KETIKA AI MULAI MENJADI TEMAN SEKALIGUS PENGKRITIK ILMUWAN
“AI boleh membantu menemukan ilmu. Tetapi jangan sampai manusia kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan kebenarannya.” Dulu manusia menggunakan AI untuk mencari jawaban. Kini pertanyaannya mulai berubah: bagaimana jika AI ikut mencari pertanyaan yang belum pernah terpikirkan manusia? Perkembangan kecerdasan buatan sedang memasuki wilayah yang jauh lebih serius daripada sekadar chatbot, mesin pencari, atau alat bantu menulis. AI mulai digunakan dalam proses penelitian ilmiah
KavitaMedia
Sep 242 min read


AI MAKIN CERDAS, MANUSIA JUSTru BERISIKO MAKIN MALAS BERPIKIR
KAVITA MEDIA , TEKNOLOGI - OPINI: Alfian Ali, ST. MT. Ph.D Bahaya terbesar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mungkin bukan ketika mesin mulai mampu mengerjakan pekerjaan manusia. Bahaya yang jauh lebih serius justru muncul ketika manusia mulai kehilangan kebutuhan untuk berubah, belajar, memahami, dan berpikir karena hampir semua proses kognitif dapat diserahkan kepada mesin. Inilah paradoks besar era AI. Teknologi yang seharusnya memperluas kemampuan manusia be
KavitaMedia
Sep 225 min read


MENGEMBALIKAN PENDIDIK SEBAGAI PUSAT GRAVITASI INTELEKTUAL
KAVITA MEDIA NET, PENDIDIKAN — OPINI Oleh: Prof. Sigit Setyo Hadi, Ketua Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia (LSP3I) Ada satu pertanyaan yang semakin relevan di tengah perubahan pendidikan hari ini: apakah guru masih menjadi pusat gravitasi intelektual di ruang kelas, atau justru perlahan tersingkir oleh teknologi, algoritma, dan banjir informasi? Kalimat “Mengembalikan Pendidik sebagai Pusat Gravitasi Intelektual” bukan sekadar slogan. Ia adalah kr
KavitaMedia
Sep 223 min read


KEBERANIAN INTELEKTUAL: BERANI BICARA ITU MUDAH, BERANI MENGAKUI SALAH ITU YANG SULIT
OPINI KAVITA MEDIA Kita sedang hidup di zaman yang aneh. Semakin banyak orang berbicara, tetapi tidak selalu semakin banyak orang berpikir. Semua orang merasa berhak punya pendapat. Itu tentu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika pendapat diperlakukan seperti fakta, keyakinan dianggap sebagai bukti, dan suara paling keras diposisikan seolah-olah paling benar. Di media sosial, orang bisa membuat kesimpulan hanya dari satu potongan video. Membaca satu judul, lalu me
KavitaMedia
Sep 222 min read


Sekolah Bisa Ramai, Pendidikan Bisa Sepi
Kita terlalu lama hidup dalam ilusi yang nyaman: bahwa sekolah otomatis berarti pendidikan. Anak masuk gerbang, pakai seragam, duduk rapi, buka buku, catat materi, kerjakan tugas, ikuti ujian, lalu pulang membawa angka. Semua terlihat “baik-baik saja”. Semua terlihat seperti pendidikan. Padahal, yang sering terjadi hanyalah rutinitas administratif yang kebetulan berlangsung di dalam gedung sekolah. Seragam bukan bukti seseorang terdidik.Absensi bukan bukti seseorang belajar.N
KavitaMedia
Sep 203 min read


GELAR TINGGI BELUM TENTU MEMBUAT PIKIRAN TINGGI
Pendidikan bisa memberi seseorang ijazah. Tetapi kecerdasanlah yang menentukan bagaimana ijazah itu digunakan. Jangan terlalu cepat mengira seseorang cerdas hanya karena namanya dipenuhi gelar. Ada orang yang namanya panjang karena gelarnya panjang, tetapi cara berpikirnya masih pendek. Ada pula yang sekolahnya biasa-biasa saja, tetapi ketika berbicara mampu membuat orang bergelar panjang ikut berpikir ulang. Sebab pendidikan dan kecerdasan bukan barang yang sama. Gelar adala
KavitaMedia
Sep 192 min read
bottom of page